Definisi Bid'ah dan Contohnya (Ustadz Abdul Somad)

Fikroh.com - Salah satu bahasan yang hampir tidak pernah habis menjadi buah bibir dikalangan umat islam adalah persoalan bid'ah. Dan tidak jarang hal ini menjadikan polemik dan perdebatan yang berakibat menjadikan keretakan hubungan sesama muslim. Padahal persoalan bid'ah sejatinya sudah selesai dibahas dan dikaji oleh para ulama terdahulu. Sehingga secara keilmuan masalah bid'ah sudah final dan tidak perlu lagi mempersoalkannya akan perselisihan ulama dalam menentukan hukum bid'ah.

Hadits Tentang Bid'ah

Dari Jabir bin Abdillah. Ia berkata, “Ketika Rasulullah Saw menyampaikaan khutbah, kedua matanya memerah, suaranya keras, marahnya kuat, seakan-akan ia seorang pemberi peringatan pada pasukan perang, Rasulullah Saw bersabda, “Dia yang telah menjadikan kamu hidup di waktu pagi dan petang”. Kemudian Rasulullah Saw bersabda lagi, “Aku diutus, hari kiamat seperti ini”. Rasulullah Saw mendekatkan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengah. Kemudian Rasulullah Saw berkata lagi, “Amma ba’du (adapun setelah itu), sesungguhnya sebaik-baik cerita adalah kitab Allah (al-Qur’an). Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang dibuat-buat. Dan tiap-tiap perkara yang dibuat- buat itu dhalalah (sesat)”. (HR. Muslim). 

Hadits Kedua: 

Dari al-‘Irbadh bin Sariyah, ia berkata, “Rasulullah Saw suatu hari memberikan nasihat kepada kami setelah shalat Shubuh, nasihat yang sangat menyentuh, membuat air mata menetes dan hati bergetar. Seorang laki-laki berkata, “Sesungguhnya ini nasihat orang yang akan pergi jauh, apa yang engkau pesankan kepada kami wahai Rasulullah”. Rasulullah Saw menjawab, “ Aku wasiatkan kepada kamu agar bertakwa kepada Allah. Tetap mendengar dan patuh, meski pun kamu dipimpin seorang hamba sahaya berkulit hitam. Sesungguhnya orang yang hidup dari kamu akan melihat banyak pertikaian. Jauhilah perkara yang dibuat -buat, sesungguhnya perkara yang dibuat-buat itu dhalalah (sesat). Siapa yang mendapati itu dari kalian, maka hendaklah ia berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rasyidin yang mendapat hidayah. Gigitlah dengan gigi geraham”. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

Definisi Bid’ah

Agar tidak salah dalam menempatkan status hukum bid'ah, coba kita pahami terlebih dahulu ta'rif atau definisi Bid'ah menurut para ulama dibawah ini:

Pendapat Imam asy-Syathibi :

Suatu cara/kebiasaan dalam agama Islam, cara yang dibuat -buat, menandingi syariat Islam, tujuan melakukannya adalah sikap berlebihan dalam beribadah kepada Allah Swt. 

Definisi lain : 

Bid’ah adalah suatu cara/kebiasaan dalam agama Islam, cara yang dibuat -buat, menandingi syariat Islam, tujuan melakukannya seperti tujuan melakukan cara dalam syariat Islam. 

Pendapat Imam al-‘Izz bin Abdissalam
Bid’ah adalah perkara yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah Saw. 

Pendapat Imam an-Nawawi: 

Para ahli bahasa berkata, bid’ah adalah semua perbuatan yang dilakukan, tidak pernah ada contoh sebelumnya. 

Pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani: 

Segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya disebut bid’ah, apakah itu terpuji ataupun tercela.
Semuanya sepakat bahwa bid’ah ada perkara yang dibuat-buat, tanpa ada contoh sebelumnya, tidak diucapkan atau dilakukan Rasulullah Saw. 

Bid’ah Tidak Bisa Dibagi. Benarkan?

Seperti yang disebutkan para ulama di atas, semua sepakat bahwa Bid’ah adalah apa saja yang tidak ada pada zaman Rasulullah Saw. Jika demikian maka mobil adalah bid’ah, maka kita mesti naik onta. Tentu orang yang tidak setuju akan mengatakan, “Mobil itu bukan ibadah, yang dimaksud Bid’ah itu adalah masalah ibadah”. Dengan memberikan jawaban itu, sebenarnya ia sedang membagi bid’ah kepada dua: bid’ah urusan dunia dan bid’ah urusan ibadah. Bid’ah urusan dunia, boleh. Bid’ah dalam ibadah, tidak boleh. Kalau bid’ah bisa dibagi menjadi dua; bid’ah urusan dunia dan bid’ah urusan ibadah, mengapa bid’ah tidak bisa dibagi kepada bid’ah terpuji dan bid’ah tercela?! 

Oleh sebab itu para ulama membagi bid’ah kepada dua, bahkan ada yang membaginya menjadi lima. Berikut pendapat para ulama, sebagiannya berasal dari kalangan Salaf (tiga abad pertama Hijrah): 

Pembagian Bid’ah Menurut Imam Syafi’i (150 – 204H): 

Imam Syafi’i berkata, 

“Bid’ah itu terbagi dua: Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela). Jika sesuai dengan Sunnah, maka itu Bid’ah Mahmudah. Jika bertentangan dengan Sunnah, maka itu Bid’ah Madzmumah Disebutkan oleh Abu Nu’aim dengan maknanya dari jalur riwayat Ibrahim bin al-Junaid dari Imam Syafi’i

Kretria Pembagian Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela). 

Menurut Imam Syafi’i: 

Juga dari Imam Syafi’i, diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Manaqib Imam Syafi’i, “Bid’ah itu terbagi dua

1. Perkara yang dibuat-buat, bertentangan dengan al-Qur’an, atau Sunnah, atau Atsar, atau Ijma’, maka itu Bid’ah Dhalal (bid’ah sesat) 

2. Perkara yang dibuat-buat, dari kebaikan, tidak bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah, Atsar dan Ijma’, maka itu Bid’ah Ghair Madzmumah (bid’ah tidak tercela)

Kretria Pembagian Bid’ah Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani: 

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyebut dua kali dengan dua istilah berbeda: 

Pertama: Bid’ah Hasanah – Bid’ah Mustaqbahah – Bid’ah Mubah. 

Berdasarkan penelitian, jika bid’ah itu tergolong dalam perkara yang dianggap baik menurut syariat Islam, maka itu disebut Bid’ah Hasanah. 

Jika tergolong dalam sesuatu yang dianggap buruk menurut syariat Islam, maka itu disebut Bid’ah Mustaqbahah (bid’ah buruk). 

Jika tidak termasuk dalam kedua kelompok ini, maka termasuk Mubah

Kedua, Bid’ah Hasanah – Bid’ah Dhalalah – Bid’ah Mubah. 

Jika perbuata itu sesuai dengan Sunnah, maka itu adalah Bid’ah Hasanah. Jika bertentangan dengan Sunnah, maka itu adalah Bid’ah Dhalalah. Itulah yang dimaksudkan. Oleh sebab itu bid’ah dikecam. Jika tidak sesuai dengan Sunnah dan tidak pula bertentangan dengan Sunnah, maka hukum asalnya adalah Mubah.

Dasar Pembagian Bid’ah Menurut Imam an-Nawawi: 

Hadits yang berbunyi, 

“Semua perkara yang dibuat-buat itu adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah itu sesat”. 

Hadits ini bersifat umum. Dikhususkan oleh hadits lain yang berbunyi: 

“Siapa yang membuat tradisi yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan balasan pahalanya”. 

Yang dimaksud dengan bid’ah dhalalah dalam hadit pertama adalah: 

“Perkara diada-adakan yang batil dan perkara dibuat-buat yang tercela.” 

Sedangkan bid’ah itu sendiri dibagi lima: bid’ah wajib, bid’ah mandub, bid’ah haram, bid’ah makruh dan bid’ah mubah. 
Tapi ada hadits menyebut, “Semua bid’ah itu sesat”, apa maksudnya???
Imam an-Nawawi menjawab, Sabda Rasulullah Saw, “ Semua bid’ah itu sesat”, ini kalimat yang bersifat umum, tapi dikhususkan. Maka maknanya, “Pada umumnya bid’ah itu sesat”. 

Bid’ah Dibagi Lima: 

Pendapat Imam al-‘Izz bin Abdissalam: 

Bid’ah adalah perbuatan yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah Saw. Bid’ah terbagi kepada: wajib, haram, mandub (anjuran), makruh dan mubah. 

Cara untuk mengetahuinya, bid’ah tersebut ditimbang dengan kaedah-kaedah syariat Islam. Jika bid’ah tersebut masuk dalam kaedah wajib, maka itu adalah bid’ah wajib. Jika masuk dalam kaedah haram, maka itu bid’ah haram. Jika masuk dalam kaedah mandub, maka itu bid’ah mandub. Jika masuk dalam kedah makruh, maka itu bid’ah makruh. Jika masuk dalam kaedah mubah, maka itu bid’ah mubah. 

Contoh bid’ah wajib: pertama, sibuk mempelajari ilmu Nahwu (gramatikal bahasa Arab) untuk memahami al-Qur’an dan sabda Rasulullah Saw. Itu wajib karena untuk menjaga syariat itu wajib. Syariat tidak mungkin dapat dijaga kecuali dengan mengetahui bahasa Arab. Jika sesuatu tidak sempurna karena ia, maka ia pun ikut menjadi wajib. Contoh kedua, menghafal gharib (kata-kata asing) dalam al-Qur’an dan Sunnah. Contoh ketiga, menyusun ilmu Ushul Fiqh. Contoh keempat, pembahasan al-Jarh wa at-Ta’dil untuk membedakan shahih dan saqim (mengandung penyakit). Kaedah-kaedah syariat Islam menunjukkan bahwa menjaga syariat Islam itu fardhu kifayah pada sesuatu yang lebih dari kadar yang tertentu. Penjagaan syariat Islam tidak akan terwujud kecuali dengan menjaga perkara-perkara di atas.  

Contoh bid’ah haram: mazhab Qadariyyah (tidak percaya kepada takdir), mazhab Jabariyyah (berserah kepada takdir), mazhab Mujassimah (menyamakan Allah dengan makhluk). Menolak mereka termasuk perkara wajib. 

Contoh bid’ah mandub (anjuran): membangun prasarana jihad, membangun sekolah dan jembatan. Semua perbuatan baik yang belum pernah ada pada masa gener asi awal Islam. Diantaranya: shalat Tarawih, pembahasan mendetail tentang Tashawuf. Pembahasan ilmu debat dalam semua aspek untuk mencari dalil dalam masalah-masalah yang tujuannya untuk mencari ridha Allah Swt. 

Contoh bid’ah makruh: hiasan pada masjid-masjid. Hiasan pada mush-haf al-Qur’an. Adapun melantunkan al-Qur’an sehingga lafaznya berubah dari kaedah bahasa Arab, maka itu tergolong bid’ah haram. 

Contoh bid’ah mubah: bersalaman setelah selesai shalat Shubuh dan ‘Ashar. Menikmati yang nikmat-nikmat; makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, memakai jubah pakaian kebesaran dan melebarkan lengan baju. Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, sebagian ulama menjadikan ini tergolong bid’ah makruh, sebagian lain menjadikannya tergolong ke dalam perbuatan yang telah dilakukan sejak zaman Rasulullah Saw dan masa setelahnya, sama seperti isti’adzah (mengucapkan a’udzubillah) dan basmalah (mengucapkan bismillah) dalam shalat [66].

Imam an-Nawawi Menyetujui Pembagian Bid’ah Menjadi Lima: 

Para ulama berpendapat bahwa bid’ah itu terbagi lima: wajib, mandub, haram, makruh dan mubah. 

Contoh bid’ah wajib: menyusun dalil-dalil ulama ahli Kalam untuk menolak orang-orang atheis, pelaku bid’ah dan sejenisnya. 

Contoh bid’ah mandub: menyusun kitab-kitab ilmu, membangun sekolah-sekolah, prasarana jihad dan sebagainya. 

Contoh bid’ah mubah: menikmati berbagai jenis makanan dan lainnya. Sedangkan contoh bid’ah haram dan makruh sudah jelas. 

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani Menyetujui Pembagian Bid’ah Menjadi Lima: Bid’ah terkadang terbagi ke dalam hukum yang lima ( wajib, mandub, haram, makruh dan mubah).

Demikian sekilas penjelasan bid'ah menurut Ustadz Abdul Somad. Bagi anda yang ingin mengetahui lebih dalam lagi mengenai bid'ah silahkan baca buku karya beliau. Sekian, semoga bermanfaat.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama