Bolehkah Membalas Jazakallah Khairan hanya dengan 'Waiyyak'?

Fikroh.com - Diantara kemuliaan akhlak islam adalah anjuran untuk berterimakasih kepada orang yang telah mencurahkan kebaikannya kepada kita. Kebaikan dalam bentuk materi maun non materi. Anjuran ini seperti tertuang dalam sebuah hadit shahih berikut ini:

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا . فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

“Siapa saja yang telah mendapatkan kebaikan dari seseorang, lalu ia berkata kepada pelaku kebaikan tersebut, “Jazaakallahu khairan”, berarti ia telah sampai pada derajat memujinya (telah berterima kasih kepadanya dengan memujinya).” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Berangkat dari sini, islam mendorong ummatnya untuk berterima kasih atas kebaikan seseorang atau membalas dengan yang lebih baik jika sanggup. Namun jika tidak mampu memberi balasan yang lebih baik minimal memberikan yang sama dari yang diterima atau mendoakan kebaikan padanya.

Apa ucapan balasan saat ada yang menyampaikan "Jazakallah khairan"?

Pada asalnya setiap kali ada yang mendoakan kita, dianjurkan kita membalasnya dengan doa yang semisal.

Contohnya ketika kita melakukan kebaikan kepada seseorang, lalu dia mengucapkan "Jazaakallaah Khairan", maka kita dianjurkan membalas doanya itu dengan mengucapkan kalimat doa yang semisal.

Pertanyaannya, bagaimana jika kita persingkat jawaban dengan kalimat "wa Iyyaak"?

Menurut Syaikh 'Abdul Muhsin, tidak apa-apa membalas dengan kalimat "wa iyyaak".

Karena menurut Syaikh, makna kalimat ini, melihat konteks pembicaraan secara keseluruhan adalah:

و أنت جزاك الله خيرا 

"Dan Engkau juga, semoga Allah memberimu balasan kebaikan."

Kesimpulannya tidak masalah jawaban dengan kalimat "wa iyyaak". Karena secara makna tidak melenceng dari yang dimaksudkan. Kalimat ini hanya mempersingkat pembicaraan saja.

Untuk selanjutnya terkait bentuk kalimat "wa iyyaak" bisa sedikit berubah sesuai perubahan "dhomir" atau "kata ganti", orang yang diajak bicara. Seperti yang sudah ma'lum hal ini di dalam kaidah-kaidah bahasa Arab.

Sebagai contoh, jika yang diajak bicara dua orang, menjadi "wa iyyaakumaa". Atau beberapa orang laki-laki, jumlahnya tiga ke atas, menjadi "wa iyyaakum". Atau satu orang perempuan, menjadi "wa iyyaaki". Dan begitu seterusnya. Wallahu a'lam

Sumber: Fb Fajri Nur Setyawan, dengan sedikit tambahan dan editan

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama