Mana Lebih Baik, Bakat atau Prestasi Anak?


Fikroh.com - Hampir semua orang tua bangga punya anak berbakat: imajinatif, dapat berkomunikasi dengan lancar, mampu berpikir abstrak, dan ciri berbakat lainya.

Tapi, kebanggan itu pupus manakala melihat prestasi anaknya di sekolah kurang. Ternyata memang demikian. Anak yang cerdas belum menjamin keberhasilan di sekolah. Dalam psikologi, anak berbakat prestasi kurang disebut under achiever, Di indonesia, yaumil agoes achir (1991) pernah mengadakan penelitian tentang hal ini. Yaumil berhasil menjaring 199 anak berbakat dari 2089 siswa SMA di jakarta. Dari 199 sampel itu, ditemukan 61% berprestasi, sedang 39% mempunyai prestasi kurang. Sementara, di AS, alter (1959) menemukan bahwa sekitar 40% anak berbakat tidak mampu berprestasi di sekolah.

Penyebab

Ketakutan akan kegagalan sebelum mencoba kerap dijumpai pada anak-anak. Ketakutan ini di sekolah berhubungan dengan situasi pengajajaran, yakni situasi yang tegang dan menutup kesempatan anak untuk bebas mengemukakan pendapat tanpa dibayang-bayangi sangsi yang menakutkan.

Bisa juga berhubungan dengan situasi lingkungan secara keseluruhan. Cemoohan dan ejekan dari orang disekitarnya, membuat sang anak kurang merasa bebas melakukan kreativitas. Akibat lebih lanjut, kepercayaan diri si anak hilang. Ia merasa memang tak mampu dan tak bisa melakukan apa-apa. Anak enggan mencoba hal-hal yang baru. Sebab kedua berkaitan dengan pertumbuhan anak-anak pada usia balita.

Peran orang tua saat itu merupakan kunci. Orang tualah yang membimbing si anak dalam mengoptimalisasikan kemampuan tumbuh kembangnya. Membimbing anak dalam mengembangkan rasa ingin tahunya serta membantu menyesuaikan dengan lingkungannya. Juga menumbuhkan kepercayaan diri si anak. Biarlah ia bebas memilih selama masih dalam rambu-rambu yang benar. 

Terkadang, orang tua sudah menanamkan harapan yang tinggi kepada anaknya, untuk memperoleh yang terbaik. Itu wajar. Tapi, jika tidak dilakukan dengan cara yang benar, dapat berakibat si anak tertekan dengan sederet jadwal yang harus dilakukan, berikut sangsinya bila si anak tidak dapat memenuhi apa yang ditarjetkan. Anak pun cemas dan gelisah, kepercayaan dirinya kurang. 

Ketidakpedulian orang tua terhadap prestasi anak juga dapat mengurangi rasa percaya diri anak. Anak mau belajar atau tidak, terserah. Dapat nilai bagus atau jelek, orang tua tidak peduli. Hal ini dapat diantisipasi, apabila sejak balita orang tua memperlakukan anaknya dengan bijak dan benar. Ini makin kecil kemungkinan akan terbentuknya anak berbakat prestasi kurang.

Terakhir, berkaitan dengan sarana dan prasarana. Antara lain, kurangnya dukungan orang tua, faktor gizi, dan kurikulum yang terus berubah. Orang tua hendaknya menyadari pentingnya pendidikan anak. Berikanlah pendidikan melalui pendekatan yang bijak, Tidak terlalu menekan, juga tidak terlalu santai. Arahkan si anak untuk menjadi orang yang beriman dan berilmu.

Bukanlah Allah SWT telah berfirman, "…niscaya ALLAH akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan ALLAH maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".

Solusi

Orang tua hendaknya tidak terlalu over protective terhadap anaknya. Sebaliknya, orang tua selalu siap membantu kesulitan anaknya setelah membiarkanya melakukan sendiri. Berikan kebebasan pada anak untuk melakukan eksplorasi dan tidak memaksakan kehendak, selama yang dilakukanya benar. 

Pemberian ASI hendaknya dalam tempo 2 tahun dan makanan bergizi tinggi. Gizi yang baik dapat meningkatkan kapasitas otak anak untuk berkembang lebih baik. Sampi usia 4 th. Alloh berfirman, "para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama 2 tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan". (QS. Al-Baqarah: 233)

Komunikasi penting artinya bagi anak. Orang tua yang memberi stimulasi bahasa kepada anaknya sejak dini, umumnya perkembangan bahasa anak lebih cepat dibanding anak sebayanya. Dengan berkomunikasi, hubungan antara orang tua dan anak pun makin mesra. 

Para pendidik di sekolah turut andil dalam meningkatkan tumbuh kembangnya anak berbakat dengan prestasi kurang ini. Kesabaran dan ketelatenan diperlukan dalam hal ini. Sebisa mungkin, tingkat kemampuan anak secara individual diperhatikan Melalui sikap, cara mengajar, pengertian dan kecakapan, seorang guru bisa membentuk kepribadian anak di samping kurikulum. Libatkan anak secara optimal dalam setiap pelajaran. Biasanya, anak berbakat ini mempunyai daya tangkap cepat. Berikan pengayaan ketika anak merasa bosan dengan pelajaran yang di rasanya lamban. Anak adalah amanah dari Allah yang bisa membawa nikmat sekaligus fitnah.

Sudah selayaknya kita memberikan yang terbaik bagi mereka.Kita memerlukan para mujahid pemegang amanah da'wah yang tangguh dan intelek. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama