3 Pilar Penting Penyangga Iman

Fikroh.com - Iman memiliki pilar yang berfungsi sebagai penyangga. Kekokohan iman akan sangat dipengaruhi olehnya. Berikut ini adalah syarh atau penjelasan hadits Rosululloh saw tentang pentingnya mengokohkan tiga pilar utama dalam masalah aqidah.

Rasulullah bersabda,

عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّهِ صلى اللهعليه وسلم يَقُولُ: «ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ، مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا، وَبِالإِسْلامَ دِيناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً». رواه مسلم.

"Telah merasakan lezatnya iman, orang yang ridha bahwa Allah sebagai Tuhan. Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (Diriwayatkan Muslim dari Abbas bin Abdul Muthalib)

Penilaian Terhadap Hadits

Hadits shahih diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya; bab Ali-Dalil 'ala Anna Man Radhiya billah Rabban (11/56)

Sekilas Penjelasan Hadits

Hadits ini menegaskan bahwa seorang muslim tidak boleh menjadikan selain Allah sebagai Tuhan yang disembah dan dituju, tidak berjalan kecuali di atas jalan Islam, dan tidak melakukan suatu amalan kecuali berdasarkan ajaran dan syariat Muhammad saw. Apabila telah merealisasikan hal ini, maka ia telah merasakan lezatnya iman.

Hikmah Tarbawiyah

1. Pengertian dan Syarat-Syarat Kesempurnaan Ridha


Ridha adalah merasa puas dengan sesuatu sehingga tidak mencari yang lainnya, Sebagian ulama menyebutkan beberapa syarat kesempurnaan ridha berdasarkan makna secara bahasa sebagai berikut:

A. Tidak ada kebencian dan kemurkaan sedikit pun terhadap yang diridhai.

Ridha secara bahasa adalah lawan dari sakhath (kebencian dan kemurkaan). Jadi, kalau kita mengaku ridha bahwa Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad saw. sebagai rasul, hendaknya kita tidak menyimpan sedikit pun kebencian kepada ketiga prinsip aqidah ini.

B. Mempersembahkan apa yang dimiliki kepada yang diridhai sehingga yang diridhai merasa ridha kepadanya.


Dikatakan ”Ardhaahu”, (berarti memberikan kepadanya apa yang menjadikannya ridha). Berarti kita harus mempersembahkan semua yang kita miliki untuk meraih ridha Allah, ridha Islam dan ridha Rasulullah saw. sesuai ketentuan yang telah digariskan.

C. Menaati semua kebijakan yang ditetapkan oleh yang diridhai.


Karenanya, ar-radhi memiliki arti al-mutlii ' (orang yang menaati). Berarti kita' harus mentaati perintah-perintah Allah, Islam, dan Rasul-Nya kalau kita mengaku ridha kepada ketiga landasan utama ini.

D. Senantiasa membela yang diridhai dan menjadi penjamin keselamatan bagi yang diridhai.


Karenanya, ar-radhi memiliki arti adh-dhamin (pemberi jaminan). Berarti kita harus berusaha menjadikan diri kita sebagai perisai hidup untuk menjaga dan melindungi agama Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana perkataan Abu Bakar ra., ”Apakah agama ini akan berkurang, sedangkan Abu Bakar masih hidup?

E. Memandang bahwa yang diridhai adalah yang paling layak untuk diridhai dan dicintai.


Dikatakan 'lrtadhaahu', berarti (memandangnya layak untuk dirinya). jadi, kita harus merasa puas dan bangga dengan menjadikan Allah sebagai Tuhan karena selain-Nya sama sekali tidak layak untuk disembah. Puas dan bangga dengan menjadikan lslam sebagai agama karena selainnya adalah sesat dan menyimpang. Puas dan bangga menjadikan Muhammad saw. ' sebagai penutup dan penghulu para rasul, serta sebaik-baik manusia yang paling layak menjadi teladan umat manusia.

F. Rela bersusah payah untuk yang diridhai.

Dikatakan, “Taradh-dhaituhu", yakni ”aku menjadikannya ridha setelah berusaha dengan susah payah.” Hendaknya kita mencurahkan segenap tenaga untuk memperjuangkan agar hanya Allah sebagai Tuhan yang disembah, Islam sebagai agama yang menjadi pedoman hidup umat manusia di seluruh dunia, dan Muhammad saw. sebagai Rasul dan manusia paling agung diatas semua makhluk Allah. Firman-Nya,”Dan perangilah mereka, supaya tidak ada lagi fitnah dan agama itu semata-mata untuk Allah. " (Al-Anfal: 39) (Lihat Lisanul Hrab/ 1/492).

Itulah syarat-syarat kesempurnaan ridha yang harus kita realisasikan ketika kita mengaku ridha bahwasanya Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad saw. sebagai rasul Adapun bentuk-bentuk kongkrit dari ridha kepada ketiga prinsip Islam ini, akan kami paparkan dalam pembahasan berikut.

2. Bentuk-Bentuk Ridha kepada Allah Sebagai Rabb

Seorang muslim hendaknya senantiasa meneguhkan cinta dan ridhanya kepada Allah Ta'ala sehingga ia patut mendapatkan kecintaan dan ridha dari-Nya. Berikut ini bentuk-bentuk ridha seorang muslim kepada Allah sebagai Tuhannya:

A. Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya sehingga bisa mengantarkan seorang muslim kepada tauhid yang murni. Karena orang yang ridha kepada sesuatu, maka ia ingin mengetahui segala hal yang berkenaan dengannya. Sebaliknya, orang yang benci kepada sesuatu, maka ia tidak akan mau tahu sedikit pun tentangnya. Firman-Nya. ”Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan ( Yang Haq) melainkan Allah.” (Muhammad 19)

B. Mempersembahkan seluruh ibadah, perbuatan, perkataan, bahkan hidup dan matinya hanya kepada Allah Penguasa semesta alam dan bukan kepada selain-Nya. Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. ” (Al-An'am: 162-163)

C. Menaati perintah-perintah Allah dan rneninggalkan laranganlarangan-Nya, serta meyakini bahwa semua yang diperintahkan-Nya adalah baik dan semua yang dilarang-Nya adalah buruk. Firman-Nya, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. ” (AnNahl: 90).

D. Ridha kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk dengan mensyukuri setiap nikmat dan ketentuan baik yang telah ditetapkan untuknya dan bersabar atas musibah dan ketentuan buruk yang telah ditetapkan untuknya, karena keimanan kepada taqdir-Nya. Rasulullah saw. bersabda, ”Dan hendaknya kamu beriman kepada taqdir, yang baik maupun yang buruk. ” (HR. Muttafaq 'alaih) ' Sabdanya, ”Di antara kebahagiaan anak Adam adalah keridhaannya terhadap apa yang telah ditetapkan Allah untuknya. Di antara kesengsaraan anak Adam adalah kebenciannya terhadap apa yang telah ditetapkan Allah untuknya. " (HR. Tirmidzi)

E. Senantiasa membela dan menolong Allah. Firman-Nya, ”Hai (Muhammad: 7) Menolong Allah adalah dengan menolong syariat-Nya baik dalam tataran individual dengan memenangkan panggilan Allah atas panggilan syahwat, maupun dalam tataran masyarakat dengan menjadikan syariat-Nya sebagai pedoman hidup mereka. ]uga menjaga keagungan Allah dengan melarang tindakan-tindakan yang melecehkan Allah, termasuk meninggalkan semua perbuatan yang menyebabkan orang-orang kafir mencaci-maki Allah Ta'ala. Firman-Nya,"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. ” (Al-An'am: 108)

F. Menyenangi apa yang diridhai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah. Rasulullah saw. bersabda, ”Ikatan iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. " (HR. Thabrani)

3. Bentuk-Bentuk Ridha terhadap Islam Sebagai Agama 

A. Mengkaji dan mengajarkan agama Islam agar mendapatkan ' ridha Allah. FirmanNya,

”Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu Selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. ” (Ali Imran: 79)

Berbeda sekali dengan orang-orang yang tidak ridha kepada Islam sebagai agama, mereka langsung berpaling ketika mendengar ayat-ayat Allah dibacakan. Firman-Nya, ”Dan siapakah yang lebih zhalim dari orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling darinya. Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajdah: 22)

B. Menjadikan Islam sebagai pedoman hidup bagi pribadi dan masyarakat.

Karena hanya Islam agama yang diridhai Allah Ta'ala, firman-Nya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucuku'pkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam meniadi agamamu,” (Al-Maidah: 3)

C. Mengamalkan ajaran dan syariat Islam dengan penuh keikhlasan sebagai bukti atas keridhaannya terhadap Islam sebagai agama yang benar. 

Firman-Nya, ”Dan tidaklah mereka disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5) 


D. Berjihad dan berkorban demi membela agama Islam.


Firman-Nya, "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 111) Firman-Nya, "Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (Al-Anfal: 39)

E. Meyakini Islam sebagai satu-satunya jalan yang mengantarkan umat ini kepada kejayaan dan kemuliaan serta satu-satunya solusi untuk mengentaskan umat manusia dari berbagai krisis multidimensi.

Umar ra. berkata, ”Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan agama Islam, barangsiapa mencari kemuliaan dengan selain Islam maka ia akan dihinakan oleh Allah.” Allah Ta'ala berfirman, "Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orangorang yang rugi." (Ali Imran: 85)

F. Mendakwahkan Islam kepada masyarakat dengan perkataan, perbuatan dan sikap yang Islami. 

Firman-Nya, "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim." (Fushilat: 33) 

4. Bentuk-Bentuk Ridha Muhammad saw. Sebagai Rasul


A. Mengenal sirah dan perjalanan hidup Rasulullah saw.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, "Ilmu adalah mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal Islam berdasarkan dalil-dalil.” Berkenaan dengan poin mengenal Rasul-Nya, Syaikh Al-Utsaimin berkata, ”Yakni mengenal Rasul-Nya Muhammad saw. dengan pengenalan yang menuntun kita untuk menerima petunjuk dan kebenaran yang dibawanya, membenarkan informasinya, melaksanakan perintahnya, meninggalkan larangannya, menerapkan syariatnya, dan ridha terhadap hukumnya.” (Syarhus salatsil Ushul: 20)

B. Menjadikan Rasul saw. sebagai teladan dalam berbagai aspek kehidupan.

Firman-Nya, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (AlAhzab: 21) 

C. Mengikuti dan menghidupkan sunnah Rasul saw. sebagai bukti keridhaan diri kita kepadanya dan sebagai sarana agar kita diakui sebagai pengikutnya.


Beliau bersabda,”Barangsiapa benci kepada sunnahku maka dia bukan dari golonganku." (HR. Muttafaqun 'alaih) Sabdanya, "Barangsiapa menghidupkan sunnahku maka ia telah mencintaiku. Barangsiapa mencintaiku maka ia akan bersamaku di surga.” (Al jami'ush Shaghir: 8346) 

D. Membela kehormatan dan kemuliaan Rasulullah saw.

Diriwayatkan bahwa seorang munafik berkata, "Aku tidak pernah melihat orang yang paling gendut perutnya, paling pendusta lisannya, dan paling pengecut dalam pertempuran selain seperti para pembaca Al-Qur'an itu (yakni Rasulullah saw. dan para sahabat)." Lalu salah seorang shahabat langsung berdiri seraya berkata, ”Kamu telah berdusta, kamu hanyalah seorang munafik, aku akan memberitahukan hal ini kepada Rasulullah saw.” Setelah hal itu sampai kepada beliau dan turun ayat Al-Qur'an, orang munafik itu datang kepada Nabi saw. seraya berkata, 'Sesungguhnya kami hanya bercanda dan bercengkerama'. Beliau menjawab, ”Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (Tafsir Ibnu Katsir: 484)

E. Melanjutkan misi Rasulullah saw. dalam berdakwah dan menyeru manusia ke jalan Allah.

Firman-Nya, ”Katakanlah, "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang-mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik " (Yusuf: 108)

Begitu juga dalam menegakkan agama. Firman-”Nya, ”Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada lbrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya." (Asy-Syura: 13)

F. Berusaha meraih ridha dan syafaat Rasulullah saw. dengan mengikhlaskan syahadat, memperbanyak shalawat serta melakukan amalan apa pun yang mengundang keridhaannya.

Beliau bersabda, ”Orang yang paling bahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dengan tulus dari lubuk hatinya. " (HR. Bukhari) 

”Barangsiapa bershalawat untukku sepuluh kali di pagi hari dan sepuluh kali di sore hari, maka ia akan mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Thabrani)

5. Buah dari Ridha kepada Tiga Landasan Utama Islam

Sikap ridha kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad saw. sebagai Rasul akan membuahkan hal-hal yang positif di antaranya:

A. Bimbingan dan petunjuk dari Allah Ta'ala Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikat; keridhaan-Nya kejalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mreka kejalan yang lurus.” (Al-Maidah: 16)

B. Kemenangan dan kejayaan.

”Dan barangsiapa mengambil Allah, RasullNya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya golongan Allah itulah yang pasti menang." (Al-Maidah: 56) 

”Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung." (Al-Mujadilah: 22)

C. Ketenangan dan ketentraman jiwa.

”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-N ya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamf ba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (Al-Fajr: 27-30)

D. Meraih surga dan selamat dari api neraka.

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungaif sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanyaAllah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (Al-Bayyinah: 7-8)

Sebaliknya, orang-orang yang ridha kepada kehidupan dunia dan tidak ridha kepada Allah, agama dan Rasul-Nya, maka mereka akan masuk neraka. Firman-Nya, ”Sesungguhnya orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa ridha (puas) dengan kehidupan di dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan." (Yunus: 7-8).

Demikian ulasan hadits tentang 3 pilar utama dalam masalah iman. Semoga Alloh meneguhkan iman kita dan dijauhkan dari segala perusaknya hingga akhir hayat kita. Aamiin.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama