Waktu Shalat Tahajud yang Paling Utama


Fikroh.com - Tahajud merupakan ibadah sunnah yang pelaksanaannya terikat dengan waktu (muqoyyad). Waktu shalat tahajud sebagaimana disepakati oleh para ulama adalah malam hari dan bukan waktu selainnya. Namun kemudian ada waktu boleh dan ada waktu istimewa. Kapan waktu boleh untuk tahajud dan kapan waktu yang istimewa atau lebih afdal? Berikut perinciannya.

Waktu Boleh Tahajud

Shalat malam (tahaajjud) boleh dikerjakan pada awal malam, pertengahan malam, atau akhir malam. Semua itu telah dikerjakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhuma :

مَا كُنَّا نَشَاءُ أَنْ نَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ وَلَا نَشَاءُ أَنْ نَرَاهُ نَائِمًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ

“Tidaklah kami ingin melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di malam hari mengerjakan shalat kecuali pasti kami melihatnya. Dan tidaklah kami ingin melihat beliau dalam keadaan tidur kecuali pasti kami melihatnya pula”

Ibnu Hajar berkata di dalam Fathul Bari (3/23), "Maksudnya, bahwa jadwal shalat malam dan tidurnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak tentu setiap malam, dan tidak pasti dalam waktu tertentu, namun tergantung kapan yang mudah bagi beliau untuk bangun malam."

Waktu Paling Utama Untuk Shalat Tahajud

Dianjurkan mengerjakan shalat tahajjud pada sepertiga malam terakhir guna menghadap datangnya anugerah yang besar dari Allah Subhanahu wata'ala pada waktu tersebut, di saat tidak ada orang yang bangun shalat malam kecuali hanya sedikit. Sehingga orang yang beribadah pada saat itu doanya akan dikabulkan, serta mendapat ampunan taubat dan penghapusan dosa juga tertutup seluruh aibnya.

Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

يَنْزِلُ اللهُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ حِينَ يَمْضِي ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ، فَيَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الْمَلِكُ، مَنْ ذَا الَّذِي يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ ذَا الَّذِي يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ ذَا الَّذِي يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Allah turun ke langit dunia pada setiap malamnya, yaitu setelah sepertiga malam pertama berlalu, seraya berfirman, "Aku adalah Raja", "Aku adalah Raja", "Siapa yang berdoa pada-Ku niscaya Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku berikan dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.”

Dan dalam riwayat Imam Muslim terdapat redaksi tambahan,

حَتَّى يَنْفَجِرَ الْفَجْرُ

“Keadaan itu berlangsung hingga tiba waktu fajar”

Dan juga dalam hadits riwayat Amru bin 'Abasah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أقْرَبُ ما يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ العَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنِ اسْتَطعْتَ أن تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Saat yang paling dekat di antara Tuhan dengan hamba-Nya adalah di penghujung malam yang akhir, maka apabila engkau mampu menjadi sebahagian dari mereka yang mengingat Allah pada ketika itu, maka lakukanlah”

Dan juga hadits riwayat Abdullah bin Amru radhiallahu 'anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud ‘alaihissalam dan shalat yang paling dicintai Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihissalam yaitu dia tidur hingga pertengahan malam lalu bangun shalat pada sepertiga malam dan tidur lagi di akhir seperenam malamnya. Dan Nabi Daud ‘alaihissalam berpuasa satu hari dan berbuka satu hari.”

Demikian juga yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam :

Sebagaimana dalam hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha ketika menceritakan tentang sifat shalat malam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ia berkata:

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ ، وَيَقُومُ آخِرَهُ فَيُصَلِّى ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ ، فَإِنْ كَانَتْ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ وَإِلا تَوَضَّأَ وَخَرَجَ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidur di awal malam dan bangun di akhir malam lalu mengerjakan shalat, kemudian beliau kembali ke tempat tidur, hingga muadzin mengumandangkan adzan –Subuh– maka beliau bangun. Dan jika Rasulullah ada keperluan, maka beliau mandi terlebih dahulu, dan jika tidak maka beliau langsung wudhu’ dan keluar –untuk shalat–“

Hadits lain riwayat Ummu Salamah dengan maksud yang serupa –dari riwayat Aisyah–

Juga dalam hadits riwayat Humaid bin Abdurrahman dari seorang lelaki yang menemani Rasulullah saat bepergian. Ia berkata:

ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى حَتَّى قُلْتُ قَدْ صَلَّى قَدْرَ مَا نَامَ ثُمَّ اضْطَجَعَ حَتَّى قُلْتُ قَدْ نَامَ قَدْرَ مَا صَلَّى ثُمَّ اسْتَيْقَظَ فَفَعَلَ كَمَا فَعَلَ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَقَالَ مِثْلَ مَا قَالَ فَفَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bangun kemudian shalat –malam– hingga aku berkata "Rasulullah telah shalat seperti lamanya ketika beliau tidur" kemudian beliau berbaring miring (tidur) hingga aku berkata, "Rasulullah telah tidur seperti lamanya ketika beliau shalat". Lalu Rasulullah bangun dan mengerjakan seperti apa yang beliau kerjakan pertama kali, –dan dalam shalat tersebut– Rasulullah membaca seperti apa yang beliau baca pertama kali. Kemudian Rasulullah mengerjakan hal tersebut tiga kali sebelum waktu fajar.”

Dan di dalam riwayat Masruq, saat ia bertanya kepada Aisyah radhiallahu 'anha :

أَىَّ حِينٍ كَانَ يُصَلِّى -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-؟ فَقَالَتْ : كَانَ إِذَا سَمِعَ الصَّارِخَ قَامَ فَصَلَّى

“Kapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat –malam–?Aisyah lalu menjawab, Apabila Rasulullah mendengar –kokokan– ayam maka beliau bangun kemudian shalat”

Ada suatu kebiasaan, bahwa ayam berkokok ketika pertengahan malam atau sepertiga malam terakhir.

Hukum Qadha' Shalat Tahajud

Dianjurkan qadha' shalat malam pada siang hari sebelum Zhuhur bagi orang yang sudah rutin mengerjakan shalat malam namun ia meninggalkannya karena ketiduran atau sakit.

Sebagaimana dalam riwayat Aisyah radhiallahu 'anha :

كَانَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - إِذَا فَاتَتْهُ الصَّلاةُ مِنَ اللَّيلِ مِنْ وَجَعٍ أَوْ غَيرِهِ، صَلَّى مِنَ النَّهارِ ثنْتَيْ عَشرَةَ رَكْعَةً

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila beliau meninggalkan shalat malam karena sakit atau yang lainnya, maka beliau meng-qadha'nya di siang hari dengan duabelas rakaat”

Juga hadits riwayat Umar bin Khattab radhiallahu 'anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شَىْءٍ مِنْهُ فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ

“Siapa yang tertidur –dari shalat malam– sehingga tidak membaca ayat Al-Qur`an yang biasa ia baca ketika shalat malam (hizib) atau –meninggalkan– sebagian dari hizib itu, kemudian ia membaca hizib tersebut antara shalat Subuh dan shalat Zhuhur, maka dicatat pahala baginya seperti jika ia membacanya di malam hari.”

Jika mampu tahajud pada sepertiga malam terakhir itu adalah baik, namun jika tidak sanggup, mengerjakannya di awal malam juga boleh. Terpenting, berusaha merutinkan shalat tahajud, jikapun tidak tiap malam, minimal dalam setiap bulannya tidak terluput untuk tahajud meski hanya sekali.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama