Waktu Shalat 'Isya dan Batas Akhirnya

Fikroh.com - Isya’ adalah sebutan bagi permulaan waktu munculnya kegelapan malam sejak maghrib sampai isya’. Dinamakan shalat isya’ karena dikerjakan pada waktu isya’ (munculnya gelap).

Juga disebut shalat isya’ al-akhirah. Dalam hadist disebutkan sebagaimana rasul Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدَنَّ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرةَ

“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian hendaknya jangan shalat isya’ yang akhir bersama kami”.[1]

Juga disebut shalat al-‘atamah. Dalam hadist disebutkan:

وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Andai mereka tahu pahala dalam shalat al-‘atamah (isya’) dan subuh niscaya mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak”.[2]

Akan tetapi terdapat hadist yang menerangkan dimakruhkannya menyebut dengan nama itu. Dalam hadist Ibnu ‘Umar radhiallahu 'anhuma disebutkan:

لاَ تَغْلِبَنَّكُمُ الأَعْرَابُ عَلَى اسْمِ صَلاَتِكُمْ أَلاَ وَإِنَّهَا الْعِشَاءُ وَلَكِنَّهُمْ يُعْتِمُونَ بِالإِبِلِ

“Jangan sampai orang-orang Arab badui mempengaruhi kalian dalam menamakan shalat kalian. Ketahuilah bahwa namanya adalah isya’. Saat mereka memerah susu unta mereka”.[3]

Jadi menyebut waktu shalat isya’ dengan ‘atamah adalah kurang disukai berdasarkan hadist tersebut. Juga menurut pendapat Malik, Syafi’i, Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Hajar menguatkan pendapat ini.

Awal waktu shalat 'Isya

Awal waktu shalat Isya’: Ulama sepakat kecuali yang berpendapat menyeleneh bahwa awal waktu isya’ adalah ketika hilang cahaya syafaq. Tetapi mereka berbeda pendapat mengenai arti syafaq[4]. Jumhur ulama mengatakan bahwa syafaq adalah cahaya merah. Sedangkan Abu Hanifah, Zafir dan Al-Auzaa’I mengatakan syafaq adalah munculnya cahayaputih setelah hilangnya cahaya merah.

Penulis berkata: Pendapat pertama adalah yang benar. Karena terdapat hadist Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang menerangkan beliau shalat ketika cahaya merah menghilang. Setiap orang yang memilki ilmu tentang terbit dan tenggelamnya matahari akan mengetahui bahwa cahaya putih tidak menghilang kecuali saat sepertiga malam yang pertama.[5] Maka benar adanya bahwa syafaq adalah cahaya merah bukan cahaya putih.Wallahu A’lam.

Akhir waktu isya’: Ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini:

Pendapat pertama: Akhir waktunya adalah sepertiga malam. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dalam qaul jadid hanya saja mazhab ini memiliki waktu pilihan. Tetapi yang dijelaskan dalam kitab Al-Umm bahwa jika telah lewat sepertiga malam maka waktu isya’ telah habis. Senada dengan pendapat ini Abu Hanifah dan Malik.[1] Dalil yang meraka gunakan adalah hadist Jibril ketika menjadi Imam shalat Nabi. Dalam hadist tersebut disebutkan bahwa Jibril shalat isya’ bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam di hari kedua pada sepertiga malam.

Pendapat kedua: Akhir shalat isya’ adalah pertengahan malam. Yang mengatakan pendapat ini adalah Ats-Tsauri, Ibnu al-Mubaarak, Ishaq, Abu Tsur, Ashabu Ar-ra’yi, Ibnu Hazm dan Syafi’i dalam qaul qadim. Sedangkan menurut Ashabu Ar-Ra’yi boleh melaksanakan shalat setelahnya tetapi makruh. Sedangkan menurut Syafi’i ini adalah waktu pilihan. Dan boleh mengerjakan setelahnya dan seseorang tidak tertinggal waktu isya’ sebelum masuk waktu fajar.

Dalil yang mereka gunakan adalah hadist Ibnu ‘Amr yang telah disebutkan berulangsebelumnya. Dalam hadist itu disebutkan waktu shalat isya’ adalah hingga pertengahan malam. Dan hadist Anas radhiallahu 'anhu ia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengakhirkan shalat isya’ hingga pertengahan malam.[2] ‘Umar bin Khatthab radhiallahu 'anhu menulis surat kepada Abu Musa Al-Alasy’ari radhiallahu 'anhu: “kerjakanlah shalat isya’ saat sepertiga malam. Dan jika ingin mengakhirkan maka kerjakanlah hingga pertengahan malam. Dan janganlah menjadi termasuk orang-orang yang lalai”.[3]

Pendapat ketiga: akhir waktu isya’ adalah saat terbitnya fajar shadiq (walaupun tidak terpaksa). Ini adalah pendapat ‘Atha’, Thaawus, ‘Ikrimah dan Daud Azh-zhahiri. Yaitu yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu al-Mundzir[4]. Dalil-dalil yang mereka gunakan adalah:

Hadist riwayat Abu Qataadah radhiallahu 'anhu berikut ini:

إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلاَةَ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى

“Sesungguhnya kelalaian adalah seseorang yang tidak shalat hingga datang waktu shalat yang lain”.[5]

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam:

لَوْلاَ أنْ أشقَّ علَى أُمَّتي لأخرتُ صلاةَ العشاءِ إِلَى نصفِ اللّيلِ

“Jikalau saja tidak memberatkan umatku maka aku akhirkan shalat isya’ hingga pertengahan malam”.[6]

Mereka mengatakan: ini adalah dalil bahwa boleh bagi seseorang yang ingin mengakhirkan shalat isya’ hingga pertengahan malam. Jika keluarnya Rasul Shallallahu 'alaihi wasallamkepada mereka setelah pertengahan malam maka shalatnya setelah pertengahan malam juga. Jika demikian maka telah jelas bahwa waktu akhir isya’ adalah hingga terbitnya matahari.[1]

Hadist ‘Aisyah radhiallahu 'anha:

اَعْتَمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ بِالعِشَاءِ حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ الَلْيِل وَقَدْ نَامَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَيْهِمْ فَصَلَّى بِهِمْ وَقَالَ اَنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلاَ اَنْ اَشُقَّ عَلَى اُمَّتِي

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengakhirkan shalat isya’ pada suatu malam hingga lewat sebagian besar malam dan penghuni masjid telah tertidur. Kemudian beliau menemui mereka dan shalat bersama mereka lalu bersabda: ini adalah waktunya jika saja aku tidak merasa memberatkan umatku”.[2]

Tarjih: Dari hadist-hadist di atas yang terkuat adalah hadist riwayat ‘Abdullah bin ‘Umarradhiallahu 'anhuma: “Waktu shalat isya’ adalah hingga pertengahan malam”. Imam Asy-Syaukani marajihkan pendapat ini tetapi beliau menjadikannya akhir waktu pilihan. Sedangkan waktu yang boleh adalah hingga fajar. Berdasarkan hadist Abu Qataadahradhiallahu 'anhu di atas. Beliau mengatakan: yang jelas adalah memanjangnya waktu setiap shalat hingga masuknya waktu shalat yang lain kecuali shalat subuh. Karena waktu shalat subuh telah dikhususkan oleh ijma’.

Penulis berkata: Mengunakan hadist riwayat Abu Qataadah sebagai dalil bahwa waktu isya’ sampai fajar adalah pendapat yang perlu ditinjau kembali. Karena dalam hadist tersebut tidak ada keterangan waktu-waktu shalat. Dan tidak dijelaskan untuk itu. Akan tetapi untuk menjelaskan tentang dosa seseorang yang mengakhirkan shalat hingga waktunya terlewatkan dengan sengaja. Baik itu shalat yang waktunya beriringan dengan shalat lain, seperti dzuhur dan ashar atau tidak, seperti shalat subuh dan dzuhur. Yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa hadist tersebut menceritakan tentang shalat subuh yang terlewatkan oleh para Shahabat ketika mereka tertidur saat bepergian. Kemudian para Shahabat menganggap hal tersebut suatu dosa lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda demikian. Kalau saja yang dimaksudkan hadist ini seperti yang mereka katakan yaitu memanjangnya waktu shalat hingga datang waktu shalat yang lain maka akan menjadi nash jelas bahwa waktu shubuh memanjang hingga waktu dzuhur. Sedangkan mereka tidak mengatakan ini. Karena itu mereka terpaksa mengecualikan shalat subuh. Pengecualian ini tidak dapat diterima karena hadist ini bercerita tentang waktu subuh. Lalu bagaimana bisa waktu subuh dikecualikan!? Yang benar adalah bahwa yang dimaksud hadist tersebut tidak berkaitan dengan batasan waktu tetapi untuk mengingkari seseorang yang melewatkan waktu shalat secara mutlak.[3]

Penulis berkata: Sedangkan hadist ‘Aisyah : “Hingga lewat kebanyakan waktu malam…”yang dimaksud kebanyakan malam adalah jumlah banyak bukan mayoritas atau kebanyakan malam. Maknanya demikian berdasarkan sabda beliau: “ini adalah waktunya”. Dan tidak boleh diartikan malam yang melewati tengah malam. Karena tidak ada satu ulamapun yang mengatakan: bahwa mengakhirkan waktu isya’ hingga setelah pertengahan malam adalah lebih afdhal.[4]

Hadist terakhir yang digunakan pemilik pendapat bahwa waktu isya’ memanjang hingga fajar adalah hadist Anas radhiallahu 'anhu: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengakhirkan shalat isya’ hingga pertengahan malam. Kemudian shalat”. Jika benar dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah selesai shalat saat tengah malam maka lafadz “tsumma” (kemudian) adalah dari perkataan perawi hadist. Dan apa bila tidak bisa dikatakan demikian maka pendapat mereka benar. Wallahu A’lam.

Sunnah Mengakhirkan Shalat Isya’.

Terdapat banyak hadist yang menjelaskan sunnahnya mengakhirkan shalat isya’. Ini mazhab para Shahabat dan Tabi’in. [1] Diantaranya adalah:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallambersabda:

لَوْلَا أَن أشق عَلَى أمتِي لأمرتهم أَن يؤخروا الْعشَاء إِلَى ثلث اللَّيْل ، أَو نصفه

“Jika saja tidak memberatkan umatku maka aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan shalat isya’ hingga sepertiga malam atau pertengahan”.[2]

Hikmah dalam mengakhirkan shalat isya’ ialah akan lebih bermanfaat untuk membersihkan batin dari kesibukan yang melalaikan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wata'ala. Dan lebih dapat menghindari pembicaraan setelah isya’. Tetapi mengakhirkan isya’ akan menyebabkan sedikitnya jumlah jama’ah dan menghindarnya kaum muslimin. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kadang mengakhirkan shalat isya’ dan kadang menyegerakannya. “Jika beliau melihat mereka telah berkumpul maka beliau menyegerakan dan jika melihat mereka lambat, beliau mengakhirkannya”.[3]

Makruh apabila tidur sebelum shalat isya dan berbincang-bincang setelahnya.

Berdasarkan hadist berikut ini:

Diriwayatkan dari Abu Barzah radhiallahu 'anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak suka tidur sebelum isya’ danberbicara setelahnya”.[4]

“Alasan dimakruhkannya tidur sebelum shalat isya’ adalah dikhawatirkan dapat terlewatkan shalat isya’ hingga subuh atau tertidur saat shalat jama’ah sedang melaksanakan shalat.[5]Sedangkan dimakruhkannya berbincang-bincang setelah isya’ karena dikhawatirkan begadang yang dapat melewatkan waktu subuh. Atau agar tidak terdapat lalai dalampembicaraannya, atau menyebabkan berat melaksanakan ibadah shalat malam. Juga agar menjadi akhir amalnya adalah shalat karena tidur adalah saudara kematian. Barangkali ia akan meninggal dalam tidurnya.[6] Hal ini jika obrolan tersebut tentang hal-hal yang tidak berguna. Namun jika pembicaraan tersebut memilki manfaat secara agama atau secara umum atau terdapat kebaikan bagi dirinya maka boleh. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berbincang-bincang di petang hari bersama Abu Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma tentang permasalahan kaum muslimin. [1] Diriwayatkan juga dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam berbincang-bincang bersama keluarganya beberapa saat kemudian tidur.[2]

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama