Tak Ada Duanya, Buya Mahyeldi, Satu-satunya Calon Gubernur yang Pernah Jadi Imam Salat di Masjidil Haram

Fikroh.com - Menengok sosok yang bermunculan di arena Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumbar, maka boleh dikata, satu-satunya calon gubernur yang menyandang gelar ulama dan umara hanya Mahyeldi Ansharullah, yang diusung dua partai Islam, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan.

Tak hanya itu, Mahyeldi merupakan satu-satunya calon gubernur yang pernah menjadi imam di Masjidil Haram. Suatu kebanggan sendiri bagi warga Kota Padang, dimana wali kota mereka merupakan sosok pilihan yang pernah mengimami salat di kota suci Mekah Al Mukarramah.

Ilmu agama Mahyeldi sangat mumpuni dan memang cocok disapa buya, sebutan untuk ulama di Sumbar.

Sejak remaja, Pria kelahiran Bukittinggi, 25 Desember 1966 itu begitu dekat dengan surau, juga saat di kampus. Dia benar-benar melekat dengan pendidikan agama.

Setamat kuliah, Mahyeldi sangat dikenal sebagai pendakwah atau ustaz. Bahkan dia memiliki jemaah yang banyak.

Saat berkecimpung masuk ke dunia politik Partai Keadilan (PK), dia tetap disapa ustaz.

Saat jadi Wakil Ketua DPRD Sumbar 2004-2008 pun, sosok seorang ulamanya begitu kental.

Ketika menjadi Wakil Wali Kota Padang 2008, Mahyeldi semakin memantapkan diri sebagai pemimpin yang religius.

"Kharisma apa yang dimiliki ustaz Mahyeldi atau buya Mahyeldi orang memanggilnya, saya sendiri juga tidak tahu. Namun, beliau telah hadir di hati banyak orang di Sumbar. Padahal tidak semua pernah bertemu hanya melihat di koran atau berita di berbagai media sosial saja," kata seorang politikus asal Kabupaten Agam, Safrudin Nawazir Jambak.

Dia menyebut, beberapa waktu lalu perantau Agam di Padang membawa Mahyeldi mengisi acara Subuh berjemaah di masjid yang cukup besar di Kecamatan Kamang Magek.

“Mereka menyatakan ikhlas untuk menjadi ustaz Mahyeldi sebagai sosok berasal dari Luhak Agam yang telah menjadi milik masyarakat Kota Padang,” katanya.

Menariknya, sebut Safrudin, Mahyeldi begitu punya daya pikat di hati masyarakat.

Meski tidak terlalu banyak promosi foto dan gambar dengan baliho dan spanduk gencar dilakukan oleh calon yang lain.

Tentu ada faktor kunci ( key factor ) yang menjadi daya tarik, daya pikat hati masyarakat Sumbar. Berjalan di atas alam bawah sadar, simpati, empati, meniti jiwa keikhlasan untuk membantu jika suatu saat dibutuhkan.

"Banyak yang menyebut 'kalau untuk Buya Mahyeldi, kami siap berjuangan'. Jadi, tentu ini bukan dibangun semalam, tetapi sangat lama dan alami,” katanya.

Meski hanya seorang Sarjana Pertanian, bukan tamatan pesantren bukan pula alumni perguruan tinggi Islam, Mahyeldi digelari buya karena juga berilmu agama dan rajin menyampaikan tausiah di berbagai masjid atau musala seantero Sumbar.

"Profil ini cocok dengan jati diri orang Minang yang kental dengan nilai-nilai adat dan Islam. Mahyeldi, sosok penceramah yang bahasa dakwahnya simpel dan mudah dicerna,” katanya.

Soal keilmuan tentang agama, Mahyeldi tidak hanya terkenal di Sumbar, atau Indonesia saja, tetapi mendunia.

Bahkan, pernah mendapat undangan menjadi imam di Masjidilharam.

Hal tersebut disampaikan seorang ulama Arab Saudi, Syaikh Khalid Al Hamudi yang beberapa waktu lalu datang ke Kota Padang.

Mahyeldi pernah bertindak sebagai imam salat Subuh.

Sedangkan Syaikh Khalid, menjadi salah seorang makmumnya. Syaikh Khalid mengaku bekerja dengan keindahan suara Mahyeldi dalam melafalkan Al-Quran.

Mahyeldi aktif mendalami Islam sejak duduk di bangku sekolah. Ketika menjadi mahasiswa, ia aktif menjadi aktivis dakwah dan mubalig.

Dia juga pernah menjadi Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Padang. Mahyeldi dikenal sebagai sosok pemimpin yang sederhana, santun dan rendah hati.

Di bawah kepemimpinan Mahyeldi, program mendekatkan siswa dengan Al-Quran semakin ditingkatkan.

Siswa yang memiliki hafalan Al-Quran tertentu, bebas memilih sekolah yang mereka inginkan sesuai jenjang kelanjutannya.

Satu juz bagi siswa SD dan tiga juz bagi siswa SMP. Untuk siswa SMA yang hafal lima juz, dapat memilih kesempatan masuk ke universitas negeri di Sumbar.

Selama memimpin Kota Padang dua periode, prestasi Mahyeldi sangat mencolok.

Ia berhasil membenahi Kota Padang di segala lini. Keberhasilan ia membangun Kota Padang bahkan menuai pujian dan penghargaan di tingkat nasional.

Meski masih ada saja sebagian kalangan melayangkan kritik terhadap kepemimpinannya, itu hal biasa. Toh tak ada di dunia ini pemimpin yang sempurna tanpa cela.

Bertabur prestasi, kini Mahyeldi dipercaya PKS sebagai calon Gubernur Sumbar.

Dia dipasangkan dengan kader PPP Audy Joinaldy untuk mengikuti Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar 9 Desember 2020.

Agaknya, warga Kota Padang harus ikhlas melepas Mahyeldi ke tingkat kepemimpinan yang lebih tinggi, yaitu membenahi Sumatera Barat.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama