Sihir Melalui Handphone

Fikroh.com - Beberapa hari lalu, selepas Shubuh saat saya sedang menulis suatu tulisan, tiba-tiba istri menyerahkan HP-nya ke saya. Katanya, "Ini laki-laki yang telepon tapi ga jelas." Saya lihat HP itu. Oh ada yang calling. Tadinya sudah diangkat namun karena tidak jelas, akhirnya ditutup lagi. Namun kemudian orang itu telepon lagi.

Maka saya angkat. Salam. Tidak ada jawaban melainkan suara setengah gumam setengah bicara. Tidak jelas. Dan suaranya seperti 'mendem'. Apa karena sinyal? Saya berkali-kali salam. Juga saya bertanya lagi. Memang direspon dengan jawaban dari seberang. Suara pria. Tapi aneh, sebagaimana yang saya deskripsikan di atas. Lalu saya matikan. 

Baru saja dimatikan, dia telepon lagi. 

Saya angkat. Salam. Hanya gumaman balasannya. Saya ajak bicara. Ini saya sudah pindah-pindah tempat. Barangkali masalah sinyal atau apa. Tapi tetap sama. Dan makin saya merasa bahwa pria itu sengaja menyamarkan suaranya. 

Maka saya ambil keputusan: "Kamu mau saya bacakan al-Qur'an?"

Ada gumaman lagi, tapi seperti gumaman menantang. Perhatikan: gumaman itu bukan pantulan balik suara saya ya. Ini supaya nanti tidak dikomentari: ah, palingan itu pantulan suara saja. Suaranya ini beda. Gumaman yang disengaja. Tapi tidak menggeram. 

Maka saya bacakan langsung Surat al-Fatihah. Sampai selesai. Lalu saya tanya dia, "Gimana?"

Dia menjawab tapi dengan menggumam. Saya berusaha menjaga emosi. Maka saya ancam dia untuk dibacakan al-Qur'an lagi. Dia merespon ancaman saya dengan gumaman menantang. Maka saya setel Surat al-Baqarah, Syaikh Saud asy-Syuraim. Saya dekatkan ke HP itu. Biar pria itu menyimak. Dan kalau hafal, barangkali sekalian dia muraja'ah. 

Sekian menit bahkan hampir 10 menitan sepertinya, dia tidak menutup HP nya. 

Logika dan tradisinya: jika salah sambung, maka pasti sudah dari awal penelepon akan menyadari dan tidak kontak lagi. Dan pasti kalau menyimak al-Qur'an selama ini, pasti sudah ditutup. Kalaupun bukan salah sambung tapi masalah sinyal atau apa, tak mungkin betah menelepon tanpa juntrungan hingga selama ini.

Selama dibacakan al-Baqarah itu, saya meneruskan tulisan saya.

Lalu saya cek, ternyata masih on dia. Maka saya tutup telepon dia. Setelah ditutup, tak sampai 10 detik kira-kira, dia telepon lagi. Dan kita reject. Begitu seterusnya.

Sebagai netizen yang bijak, Anda mungkin akan berusaha mencari celah alasan bahwa mungkin begini mungkin begitu. Tapi sejujurnya, sedari awal mendengar berkali-kali respon gumaman pria itu, saya menilai ini posibilitas sangat besar sebagai upaya memasukkan sihir. Karena memang di zaman kekinian, sihir pun mengikuti perkembangan teknologi. 

Walau ada posibilitas lain selain sihir, tapi melihat alurnya dan  karakternya, terlalu kecil kemungkinannya. Seperti: penipuan, salah sambung, sinyal dst.

Sihir melalui handphone, mungkinkah? 

Mungkin. Kalau di Indonesia, mungkin artikel dan pengalaman seperti ini jarang ditulis (karena memang budaya kita lebih ke budaya tutur bukan budaya literatur). Tapi telepon itu wasilah suara, dan suara bisa berpengaruh. Bahkan bahasa kendatipun tulisan, bisa berpengaruh. Semua dengan izin Allah Ta'ala. 

Kalau lewat bola api saja sihir bisa dimainkan, apalagi lewat telepon!?

Ketika dukun hendak menyihir atau menyantet, maka harus ada beberapa media yang digunakan. Tergantung tingkatan santetnya, juga tergantung 'keilmuan' dukunnya. Di antara caranya: 'memancing emosi'.

Karena amarah jika tersulut, jantung akan kian berdebar, darah kian cepat mengalir, dan setan mudah masuk tanpa disadari. 

Sebagian dukun tidak bisa masuk ke rumah calon korban, maka dikirimlah melalui jin. Kadang, jin suruhan tersebut akan menaruh benda-benda tertentu di rumah sasaran. Berupa bola api, banaspati dan lainnya. Kadang track ini gagal, bisa jadi karena:

[1] Rumah tersebut Allah jaga, disebabkan banyaknya dzikir di dalamnya. Yakni: penghuninya mengamalkan wirid syar'i. Atau:

[2] Rumah tersebut memiliki khodam yang dipasang oleh penghuninya. Tapi kadang khodam ini justru membantu sihir. You know lah namanya setan saling kong kali kong alaihum engkong.

[3] Bola apinya kadung terlihat oleh orang, sehingga gagal. Apalagi kalau dilihat penghuni rumah. Bisa gatot.

Kadang yang dikirim, sebagai muqaddimah sihir: binatang-binatang atau hal-hal yang membuat penghuni rumah marah, sebal dan terhasut. 

Contoh: tikus, terutama tikus werok. Tidak semua kasus tikus masuk rumah karena sihir. Bisa jadi karena situ aja yang kemproh. Tapi Tikus ini media yang bagus dan mungkin lebih mudah disuruh untuk merusak rumah. Ketika banyak tikus, bisa jadi penghuni panik, atau marah. Kuncinya di dua step: [1] kemarahan dan [2] ucapan buruk. Ketika penghuninya marah ada tikus di kamarnya, ini sudah cukup signifikan untuk melancarkan sihir. Nah, finalnya ketika dia mengucapkan kalimat kotor sebagai pelampiasan, maka fixed rumah itu mudah dikirim sihir. 

Selagi saya di Kalibata dulu, malah dikirimi barang berupa cincin akik besar. Terletak di pojokan tangga. Padahal satu rumah saat itu tak satu pun memakai cincin, apalagi akik. Saya pungut, saya kantongi, lalu saya buang di suatu got dekat Volvo. 

Tapi tidak semua rumah bisa dimasuki binatang atau benda yang menyulut emosi.

Nah, melalui telepon; kadang seseorang bisa tersulut emosinya. Dan saya membaca kejadian yang saya ceritakan di awal sebagai trik, agar saya terpancing emosinya. 

Jika dikatakan: "Tapi itu kan di masa subuh, tidak mungkin ada sihir."

Jawaban: Allah Ta'ala turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir, dan saat itu sebagian dukun tetap berusaha melancarkan sihirnya. 

Terjadi atau tidaknya sihir, semua dengan izin Allah Ta'ala secara kauny. Kemudian tinggal bagaimana keadaan calon korban saat itu.

Maka dari itu, saya menghimbau rekan-rekan pembaca, jika ada penelepon yang semodel di atas, agar tidak perlu berlama untuk memblokirnya. 

Saya berharap agar dukun-dukun diberi hidayah oleh Allah Ta'ala, sekalipun mereka yang disebut dukun putih. Kesemuanya tidak benar jalannya. 

Hati-hati, walau teknologi sudah modern, tapi dukun-dukun juga mengikuti teknologi. Jangan lupa dzikir.

Oleh : Hasan Al-Jaizy

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama