Saat Anak Menjadi Musuh Ideologi dan Perjuangan Orangtua

Fikroh.com - Salah satu contoh pertentangan ideologi orang tua dan anak adalah kisah Nabi Nuh dan putranya. Al-quran menggambarkan bagaimana kisah keduanya sangat nyata dan terang-terangan. Kisahnya bisa kita baca pada ayat di bawah ini: 

قال الله تعالى: وَقَالَ ارۡكَبُوۡا فِيۡهَا بِسۡمِ اللّٰهِ مَجْرٖٮٰھَا وَمُرۡسٰٮهَا ‌ؕ اِنَّ رَبِّىۡ لَـغَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ (٤١) وَهِىَ تَجۡرِىۡ بِهِمۡ فِىۡ مَوۡجٍ كَالۡجِبَالِ وَنَادٰى نُوۡحُ اۨبۡنَهٗ وَكَانَ فِىۡ مَعۡزِلٍ يّٰبُنَىَّ ارۡكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنۡ مَّعَ الۡكٰفِرِيۡنَ‏ (٤٢) قَالَ سَاٰوِىۡۤ اِلٰى جَبَلٍ يَّعۡصِمُنِىۡ مِنَ الۡمَآءِ‌ؕ قَالَ لَا عَاصِمَ الۡيَوۡمَ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ‌ۚ وَحَالَ بَيۡنَهُمَا الۡمَوۡجُ فَكَانَ مِنَ الۡمُغۡرَقِيۡنَ‏ (٤٣) وَقِيۡلَ يٰۤاَرۡضُ ابۡلَعِىۡ مَآءَكِ وَيٰسَمَآءُ اَقۡلِعِىۡ وَغِيۡضَ الۡمَآءُ وَقُضِىَ الۡاَمۡرُ وَاسۡتَوَتۡ عَلَى الۡجُوۡدِىِّ‌ وَقِيۡلَ بُعۡدًا لِّـلۡقَوۡمِ الظّٰلِمِيۡنَ (٤٤) وَنَادٰى نُوۡحٌ رَّبَّهٗ فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابۡنِىۡ مِنۡ اَهۡلِىۡ وَاِنَّ وَعۡدَكَ الۡحَـقُّ وَاَنۡتَ اَحۡكَمُ الۡحٰكِمِيۡنَ (٤٥) قَالَ يٰـنُوۡحُ اِنَّهٗ لَـيۡسَ مِنۡ اَهۡلِكَ ‌ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيۡرُ صَالِحٍ ‌‌ۖ فَلَا تَسۡــَٔــلۡنِ مَا لَـيۡسَ لَـكَ بِهٖ عِلۡمٌ‌ ؕ اِنِّىۡۤ اَعِظُكَ اَنۡ تَكُوۡنَ مِنَ الۡجٰهِلِيۡنَ‏ (هود: ٤١-٤٦)

(41) Nuh berkata: ”Naiklah kalian ke kapal dengan menyebut nama Allah mulai dari berlayar sampai berlabuh. Sungguh Tuhanku benar-benar Maha pengampun lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya." (42) Kapal itu mengangkut mereka dalam gelombang sebesar gunung, dan Nuh berseru kepada anaknya ketika anak itu berada di tempat yang jauh. Dia berkata: "Wahai anakku, naiklah bersama kami, dan janqanlah kamu bersama orang-orang kafir.” (43) Anaknya menjawab: "Aku akan menyelamatkan diri ke puncak bukit yang akan menjauhkan aku dari air bah.” Nuh berkata: "Hari ini tidak ada yang bisa menolongmu dari siksa Allah, hanya orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah yang dapat selamat." Gelombang pun memisahkan Nuh dan anaknya, maka anaknya itu termasuk orang yang ditenggelamkan. (44) Allah bertitah kepada bumi: "Wahai bumi, telanlah air banjirmu dan wahai langit, berhentilah dan tahanlah air, dan telah ditetapkan adanya siksa." Kapal itu kemudian mendarat di bukit Jud, dan ada yang berkata: "Sungguh celaka kaum yang telah berbuat zhalim.” (45) Nuh memohon kepada Tuhannya. Dia berdo'a: 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah bagian dari keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu pasti benar dan Engkau adalah hakim yang paling adil." (46) Allah berfirman: "Wahai Nuh, sesungguhnya anakmu itu bukanlah bagian dari keluargamu, karena sesungguhnya dia telah melakukan perbuatan yang tidak baik. Oleh karena itu, janganlah kamu meminta kepada-Ku apa yang kamu sama sekali tidak mengetahui kebenarannya. Sesungguhnya Aku menasehatimu agar kamu tidak tergolong orang yang jahil." (QS. Huud: 41-46).

Diantara kisah yang diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur'an, adalah kisah Nabi Nuh 'alaihissalam. Dimana Nabi Nuh telah berdakwah kepada kaumnya ratusan tahun, namun sangat sedikit yang mau beriman. Hingga kemudian Allah wahyukan kepada Nabi Nuh untuk membuat sebuah bahtera untuk menghadapi banjir besar. Waktu itu, mayoritas kaumnya mengingkarinya dan menertawakannya.

Hingga hari yang dijanjikan pun tiba. Air bah yang sangat besar datang secara bergelombang. Allah perintahkan Nabi Nuh untuk mengangkut seluruh anggota keluarganya dan hewan-hewan secara berpasangan ke dalam kapal. Lalu terjadilah dialog yang memilukan antara ayah yang beriman dan anaknya yang kufur, seperti pada ayat di atas. 

Berikut beberapa 'ibroh (pelajaran) tarbawiyah yang bisa kita ambil darinya:

1. Sebagai seorang utusan Allah, Nabi Nuh telah berusaha untuk berdakwah kepada kaumnya dan keluarganya ratusan tahun lamanya. Sebagaimana disebutkan dalam surat Nuh, ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam. Akan tetapi seruanku itu tidak menambah iman mereka, justru mereka lari dari kebenaran. Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka untuk beriman, agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya dan mereka tetap ingkar serta menyombongkan diri". (QS. Nuh: 5-7)

2. Dan ternyata yang ikut mendustakan dakwah Nabi Nuh adalah anaknya sendiri. Sebagaimana Ibnu Katsir jelaskan dalam tafsirnya, dia adalah anak Nabi Nuh yang keempat yang bernama "Yam". Ada juga yang berpendapat namanya adalah "Kan'an". Anak itu termasuk yang kafir dan mendustakan ayahnya, serta menolak ajakan ayahnya untuk bergabung dalam bahtera, dan lebih memilih cara lain sesuai logikanya, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!”.

3. Padahal ayahnya telah berusaha untuk merayunya dengan panggilan sayang “Wahai Ananda, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” Kata-kata "Ya Bunayya" adalah bentuk tashgir, dimana mengandung makna tambahan yang menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang. Ini adalah bukti bahwa Nabi Nuh sangat mencintai dan menyayangi anaknya tersebut.

4. Saat panggilan sayang itu tertolak, Nabi Nuh tidak putus asa. Ia masih berusaha meyakinkan anaknya dengan menegaskan, "Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.” Namun anak itu tetap bersikukuh. Hingga datanglah gelombang ombak yang memisahkan antara keduanya, hingga anak itu pun tenggelam.

5. Selain sang anak, ternyata istri Nabi Nuh juga mendustakannya. "Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah dua orang hamba yang saleh; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka menghindar dari siksaan Allah; dan dikatakan kepada kedua istri itu: 'Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka.” (QS. At-Tahrim: 10). Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh seorang ibu sangat besar pada keimanan seorang anak, dimana ibu lah yang lebih kuat ikatan emosionalnya dan lebih banyak interaksinya dengan anak.

6. Setelah banjir itu semakin surut, Nabi Nuh sebagai seorang ayah merasa sedih dan bertanya kepada Allah, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar". Tetapi Allah menjawabnya dengan tegas,  “Wahai Nuh, sungguh dia bukan termasuk keluargamu, perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui. Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang yang jahil.” Menurut Al-Qurthubi, ini menunjukkan bahwa hubungan iman itu lebih kuat daripada hubungan nasab atau darah.

7. Dalam kondisi dilematis seperti ini, kita sebagai orang tua terpaksa harus memilih. Jika kita telah berusaha mengingatkan dengan hikmah, dibarengi dengan doa, serta berinteraksi dengan kelembutan, tetapi semua itu tidak mempan; maka sikap dan langkah ketegasan harus dilakukan. Apalagi jika sang anak tidak hanya sekedar berbeda keyakinan, tetapi juga menjadi musuh yang menyerang aqidah dan perjuangan.

8. Seperti yang dicontohkan oleh Abu Bakr Ash-Shiddiq kepada anak sulungnya, Abdurrahman bin Abi Bakr. Dimana setelah sang anak masuk Islam menjelang penaklukan kota Makkah, sang anak bercerita bahwa pada perang Badar sebenarnya ia yang berada dalam barisan kafir Quraisy melihat ayahnya dalam medan tempur. Namun sang anak sengaja menghindar agar tidak berhadap-hadapan dengan ayahnya. Mendengar hal itu, Abu Bakar menjawab dengan tegas, "Adapun aku, andai aku melihatmu ketika itu, pasti aku akan memerangimu".

9. Begitulah, kita sebagai orang tua hanya bisa berikhtiar mendidik dan membimbing anak-anak kita. Setelah upaya itu maksimal, pasrahkan semua kepada Allah Ta'ala. Karena hidayah adalah mutlak anugerah dari-Nya. "Sesungguhnya engkau tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki". (QS. Al-Qashash: 56).

Penulis: DR Hakimuddin Salim

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama