Rasis, Anggota Parlemen Prancis Tolak Kehadiran Muslimah Berjilbab dalam Rapat

Fikroh.com - Anggota parlemen sayap kanan dari partai Republik meninggalkan pertemuan di Parlemen Prancis Pada hari Kamis (17/9), hal ini sebagai bentuk Penolakan kehadiran siswa berjilbab Miriam Puguetou yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Anne-Christine Lang, anggota partai republik yang berkuasa di Prancis, mengatakan dalam sebuah tweet bahwa dia menolak kehadiran seorang wanita berjilbab, Miriam Puguetou, presiden Persatuan Nasional Mahasiswa Prancis di Universitas Sorbonne, pada pertemuan Parlemen, Heart of Democracy.

Anne beralasan, Sebagai pembela hak-hak perempuan dan nilai-nilai sekuler, tambahnya, saya tidak bisa menerima seseorang yang mengenakan jilbab pada pertemuan tersebut.

Di sisi lain, Sandrine Murch, anggota partai yang berkuasa dan ketua sidang, mengatakan bahwa reaksi selama sidang tidak perlu, mengingat tidak ada aturan yang melarang orang menghadiri pertemuan dengan pakaian agama.

Dia menambahkan, perdebatan fiktif tentang jilbab tidak akan menghasilkan adanya perubahan dalam jalannya pertemuan yang membahas masa depan pemuda.

Siapakah gadis berkerudung itu?

Maryam Pougetto, 21 tahun, adalah seorang gadis Muslim berkerudung yang mengepalai Persatuan Nasional Mahasiswa Prancis di Universitas Sorbonne di Paris.

Kisah Maryam meledak pada tahun 2018 setelah muncul dalam sebuah wawancara di saluran televisi Prancis M6, di mana hal itu menimbulkan banyak reaksi. Beberapa orang Prancis tidak suka melihat seorang gadis Muslim mengenakan jilbab saat berbicara atas nama serikat mahasiswa di televisi Prancis.

Karikatur Charlie Hebdo yang menghina Maryam

Dan dia menjadi sasaran kritik keras dari sejumlah menteri karena mengenakan jilbab, yang paling terkenal adalah dari surat kabar "Charlie Hebdo", yang terkenal karena kebenciannya terhadap Muslim.

Kontroversi tentang gadis bercadar diangkat diangkat menjadi isu politik Prancis, dan di surat kabar yang menjadikan masalah tersebut sebagai masalah opini publik, dan beberapa kaum kiri khususnya memanfaatkan masalah ini. Untuk menghidupkan kembali perdebatan tanpa akhir di Prancis tentang jilbab dan cadar, dan tentang Islam dan Muslim pada umumnya, beberapa dari mereka mengaitkan masalah tersebut dengan ekstremisme dan dengan ISIS.

Source: Aljazeera.net

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama