Penjelasan Hadits, Umat Islam Seperti Buih di Lautan

Fikroh.com - Segala kebaikan kita sandarkan hanya pada Allah dan segala kejelekan hanya berpulang kepada amal perbuatan kita semua sebagai hamba Allah yang penuh dengan kelemahan dan kealpaan.

Allah berfirman : “Semua kebaikan yang engkau  peroleh berasal dari Allah, dan semua kejelekan yang menimpamu, Maka dari  dirimu sendiri.”  (an-Nisaa`/04:79)

Firman Allah tersebut menggambarkan betapa kita wajib bersyukur kepada Allah apabila senantiasa  berada di atas kebaikan. Dan begitu juga kita wajib koreksi diri dan introspeksi diri apabila kita begitu mudah terjatuh dalam kejelekan-kejelekan.

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi :

((؛ فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ))

“Barangsiapa  yang mendapati kebaikan pada dirinya, maka hendaklah ia memuji Allah dan barangsiapa yang mendapati selain itu (kejelekan) pada dirinya maka janganlah dia mencela kecuali terhadap dirinya sendiri.” [Hadits Shohih Riwayat Muslim dalam kitab Hadits Arba’in an-Nawawiyah hadits nomor 24].

Demikian juga dengan realita umat Islam hari ini, jika realita mereka baik maka semua itu karena karunia dan taufik dari Allah semata dan jika realita mereka itu jelek maka semua itu karena I’tiqod (keyakinan) dan amaaliyah mereka yang jelek. Dan kita tidak bisa mengingkari realita jeleknya keadaan umat Islam hari ini. Oleh karena itulah Syaikh Abu Usaamah Salim bin ‘Ied al-Hilaaly -حفظه الله تعالى- berkata: “Realita umat Islam hari ini berada dalam Keadaan Wahn (lemah), (حَلَــــةُ الْـــــوَهْنِ)

Hal ini seperti yang disabdakan Rasulullah ;

عَنْ ثَوْباَنَ قَالَ : قََالَ رَسُوْلُ الله  : (( يُوْشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا)) فَقَالَ قَائِلٌ : وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِدٍ؟ قَالَ  : (( بَلْ أَنْتُمْ  يَوْمَئِدٍ كَثِيْرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعنَّ الله ُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ الله ُ فِي قُلُوْبِكُمْ الْوَهْنَ )) فَقَالَ قَائِلٌ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟  قَالَ  : (( حُبُّ الدُّنْيَا وَكرَاهِيَةُ الْمَوْتِ. ))

Dari Tsauban , (dia) berkata: “Rasulullah  telah bersabda: ‘Ummat-ummat hampir saja mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang kelaparan mengerumuni sebuah hidangan (lezat).’ Lalu seseorang bertanya : ‘Apakah kami ketika itu sedikit?’ Rasulullah  menjawab : ‘Justru kalian ketika itu berjumlah banyak. Akan tetapi keadaan kalian seperti buih di tengah lautan. Allah  benar-benar mencabut kehebatan kalian dari dada-dada musuh kalian dan Allah lemparkan ke dalam hati-hati kalian sifat Wahn.’ Lalu orang tersebut bertanya lagi : ‘Wahai Rasulullah  apakah Wahn itu?’ Rasulullah menjawab : ‘(Wahn) adalah cinta dunia dan takut mati.’” [Hadits Shohih Riwayat Abu Dawud (4297), Ahmad (23037), dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul `Auliya (I/182)]

Syarah (Penjelasan) Hadist di atas,

Yang dimaksud dengan Umat-umat adalah Firqoh-firqoh Kufur dan umat-umat sesat.

Yang dimaksud (أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ) adalah sebagian mereka menyeru kepada sebagian yang lain untuk memerangi kalian, mematahkan kekuatan kalian dan merampas semua negeri dan harta yang kalian miliki.

Imam Mulla ‘Aly al-Qoori -Rohimahullahu Ta’aala- berkata : “Orang-orang kelaparan itu mengambil hidangan lezat dengan tanpa ada yang melarang dan menghalanginya lalu mereka menyantapnya dengan semaunya sendiri dan bebas sebagaimana mereka mengambil semua  yang ada pada kalian dengan tanpa susah payah meraihnya atau dengan tanpa bahaya yang menyertainya dan atau dengan tanpa kesulitan yanng menghalanginya.” (Baca : ‘Aunul Ma’bud [6/11/272-273])

Yang dimaksud dengan “Justru kalian waktu itu berjumlah banyak” adalah sesungguhnya jumlah banyak tidak mencukupi sedikitpun bagi ummat Islam apabila mereka semata-mata menyandarkan kepada kuantitas dengan tanpa kualitas. Oleh karena itu Allah di dalam al-Qur`an mencela semata-mata mengandalkan kualitas (berumlah banyak), diantaranya :

“Dan jika kamu menaati kebanyakan orang di muka bumi (maka) mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah”. (al-An’aam/06:116) “Apakah kamu menyangka bahwasanya kebanyakan mereka mendengar atau berakal(?) Mereka hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka yang paling sesat jalannya.” (al-Furqon/25:44)

Bahkan justru sebaliknya. Didalam al-Qur`an banyak sekali Allah memuji jumlah yang sedikit, diantaranya :

“Berapa banyak olongan yang sedikit telah mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah”. (al-Baqoroh/02:249) 

“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur” . (Saba`/34:13)

Kesimpulannya : Sesungguhnya yang terpuji adalah orang yang mempunyai sifat yang baik meskipun sedikit. Maka jika mereka berjumlah banyak berarti cahaya diatas cahaya. Dan sesungguhnya yang tercela adalah orang yang mempunyai sifat yang jelek, meskipun berjumlah banyak. Maka jika sedikit berarti kerendahan demi kerendahan yang menghinakan. (Baca : al-Arba’uuna Haditsan fit Tarbiyah wal Manhaj hal.76)

Adapun yang dimaksud dengan keadaan kalian seperti buih di lautan adalah karena kecil (sedikitnya) keberanian kalian dan rendahnya kadar kalian. Maksud kata (  الْمَهَــابَةَ  ) yaitu rasa takut pada diri musuh kalian.” (Baca : ‘Aunul Ma’bud [6/11/272-273])

Di dalam Kitab Musnad Ahmad ketika ditanya maksud kata Wahn, maka Rasulullah menjawab:

((حُبُّ الْحَيَاةِ وَكرَاهِيَةُ الْمَوْتِ))

“Cinta kehidupan dan takut mati.”

Berdasarkan hadits Tsauban jelaslah bahwa penyakit Wahn sebabnya karena dua hal; pertama, Hubbud Dun-ya (Cinta Dunia) atau Hubbul Hayaat (Cinta Kehidupan), dan Kedua, Karoohiyatul Maut (Takut Mati).

Permasalahannya adalah benarkah cinta dunia dan penghidupan serta takut mati itu mutlaq salah dan terlarang? Jika benar lalu bagaimanakah solusi dan jalan keluarnya?

Dalam hal ini mari kita kaji masalah ini dengan memperhatikan uraian dari Syaikh Doktor ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad as-Sadhan -حفظه الله تعالى - di dalam kitabnya Arba’uuna Haditsan fiit tarbiyyah wal Manhaj :

فِيْهِ : أَنَّ مَحَبَّةَ الدُّنْيَا لَيْسَتْ مَذْمُوْمَةً إِلاَّ إِذَا تَرَتَّبَ عَلَيْهَا ضَيَاعُ أَمْرِ الأَخِرَةِ فَهِيَ حِيْنَئِذٍ مَحَبَّةٌ مَذْمُوْمَةٌ تَزِيْدُ صَاحِبَها مِنْ الشَّرِّ قُرْبًا وَعَنْ الْخَيْرِ بُعْدًا.

“Faidah di dalam hadits tersebut adalah; sesungguhnya cinta dunia tidak mesti tercela kecuali apabila mengakibatkan disia-siakannya urusan akhirat maka ketika itu dia adalah kecintaan yang tercela karena menjadikan pelakunya bertambah dekat dengan kejelekan dan bertambah jauh dari kebaikan.”

Lalu Syaikh as-Sadhan -حفظه الله تعالى- melanjutkan uraiannya;

فِيْهِ : أَنَّ كَرَاهِيَةَ الْمَوْتِ لَيْسَتْ مَذْمُوْمَةً إِلاَّ إِذَا تَرَتَّبَ عَلَيْهَا الْحَسَرَةُ عَلَى فَوَاتِ مَلَذَّاتِ الدُّنْيَا مَعَ إِهْمَالٍ لِأَمْرِ الْأَخِرَةِ. فَأَمَّا مَنْ رَاعَى أَمْرَ آخِرَتِهِ وَكَرِهَ الْمَوْتَ الْكَرَاهَةَ الْجِبِلِيَّةَ فَلاَ تَثْرِيْبَ عَلَيْهِ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيْثِ الْقُدْسِيِّ : (( يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ )) [أخرجه البخاري من حديث أبي هريرة[.

“Faidah di dalam hadits tersebut adalah; sesungguhnya takut mati itu tidak tercela kecuali apabila mengakibatkan kesedihan karena terluputnya kelezatan-kelezatan dunia serta mengabaikan urusan akhirat. Adapun orang yang menjaga urusan akhiratnya dan takut mati dengan rasa takut Jibiliyyah (Berperangai pada umumnya), maka tidak tercela sebagaimana telah datang di dalam Hadits Qudsi : ((“Dia takut mati dan Aku pun takut kematian yang jelek”)) [Hadits Shohih Riwayat al-Bukhory, dari Sahabat Abu Huroiroh]. (Baca : al-Arba’uuna Haditsan fiit Tarbiyyah wal Manhaj hal. 77)

Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid  -حفظه الله تعالى-   mengomentari haidts ini dengan uraian;

إِنَّ هَزِيْمَتَهَا لِأَنّهَا لَمْ تَهْتَمَّ بِالجَانِبِ الْأَصِيْلِ مِنَ الإِسْلاَمِ وَهُوَ تَوْحِيْدُ اللهِ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى وَلَمْ تُرَبِّ الدُّعَاةَ عَلَى مَعْرِفَةِ الْحُقُوْقِ وَأَدَاءِ الْوَجِبَاتِ فَضَعُفُوْا وَوَهَنُوْا فَصَارُوا فِي ذَيْلِ الْقَافِلَةِ بَعْدَ أَنْ كَانُوْا سَادَتهَا وَ صَارُوْا ضِعَافًا بَعْدَ أَنْ كَانُوْا أَقْوِياَءَ.

“Sesungguhnya serangannya adalah karena tidak antusias dengan sisi pokok dari Islam yaitu mentauhidkan Allah dan mendidik para da’i agar mengetahui hak-hak dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, lalu mereka menjadi lemah dan melemah (Wahn). Maka jadilah mereka buntut Kafilah setelah sebelumnya pernah menjadi mulia. Dan jadilah mereka lemah setelah sebelumnya mereka pernah menjadi kuat.” (Baca : Arba’uuna Haditsan fid Da’wah wad Du’aat hal.81).

(Oleh : Ahmad Thonarih al-Atsary)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama