Nilai-nilai Pendidikan dari Surat Al-Baqarah Ayat 133

Fikroh.com - Pendidikan anak memiliki porsi tersendiri dalam islam. Tidak sedikit ayat-ayat Al Qur'an yang mengandung nilai-nilai pendidikan anak. Salah satunya seperti yang terkandung dalam surat Al-Baqarah berikut ini:

قال الله تعالى: أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (البقرة: ١٣٣)

Tarjamah Tafsiriyah: "Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab: 'Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 133).

Ada beberapa ibroh tarbawiyah yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Ya'qub di atas, terutama terkait dengan tugas kita sebagai orang tua untuk terus mendidik dan membimbing anak kita sampai akhir hayat. Berikut ini ulasannya:

1. Dalam menafsirkan ayat ini Imam Al-Baghawy menukil riwayat dari Atha', bahwa Allah tidak akan mencabut nyawa seorang Nabi kecuali setelah diberi pilihan antara hidup atau mati. Dan ketika Nabi Ya'qub ditawari pilihan itu menjelang ajalnya, ia berkata, "Beri aku waktu sebentar, aku ingin bertanya dan memberi wasiat kepada anak-anakku". Maka permintaan itu dikabulkan, lalu Nabi Ya'qub mengumpulkan semua anak dan cucunya, serta bertanya kepada mereka, "Telah tiba ajalku, siapakah yang akan kalian sembah setelah aku mati?". Mereka pun menjawab, "Kami akan menyembah Tuhanmu, dan Tuhan bapak-bapakmu: Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, dan kepadanya kami berserah".

2. Dari sini kita bisa mengambil ibrah tarbawiyah, bahwa Nabi Ya'qub begitu komitmen dengan tugasnya sebagai orang tua, untuk mentarbiyah anak-keturunannya, serta mengarahkan mereka agar istiqomah dalam beribadah kepada Allah Ta'ala meskipun Nabi Ya'qub sudah lanjut usia. Ada yang menyebutkan bahwa ia wafat pada usia 147 tahun. Bahkan upaya membimbing anak-anak itu tetap ia sempatkan, pada detik-detik terakhir menjelang ajalnya tiba.

3. Ibrah tarbawiyah lain yang bisa kita ambil adalah, perhatian dan bimbingan itu tetap diberikan oleh Nabi Ya'qub kepada semua anak-cucunya meski mereka sudah dewasa, sudah menikah, bahkan sudah punya anak. Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Ya'qub wafat, usia Nabi Yusuf adalah 39 tahun. Padahal Yusuf dan Bunyamin adalah termasuk anak yang paling muda. Ini menunjukkan bahwa mendidik anak hingga "akhir hayat" itu, bukan hanya akhir hayat orang tua, tetapi juga akhir hayat anak-anak. Meskipun tentu caranya berbeda dengan ketika mendidik mereka saat masih belia.

4. Ini seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam mendidik putri tercintanya Fathimah. Hingga putrinya sudah dewasa dan berkeluarga pun, nasehat dan bimbingan seorang ayah tetap diberikan. Seperti saat Fathimah mengeluh tentang beban rumah tangganya. Dimana ia mengadu tentang kedua tangannya yang capek membuat adonan dari gandum, dan bersama suaminya hendak meminta pembantu kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah bersabda, “Maukah kalian berdua aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik untuk kalian dari pada seorang pembantu?. Jika kalian hendak mendatangi kasur kalian, maka ucapkanlah 33 kali tahmid, 33 kali tasbih, dan 34 kali takbir.” (HR. At-Tirmidzi).

5. Ibrah tarbawiyah lain yang bisa kita ambil dari Kisah Nabi Ya'qub di atas, adalah isi wasiat dan perihal kegundahannya yang menyebabkan ia meminta waktu sebentar sebelum dicabut nyawanya, yaitu masalah Tauhid. Bukan soal dunia dan tetek-bengek nya. Sebelum meninggal, ia ingin memastikan terlebih dahulu bahwa anak dan cucunya teguh menyembah Allah Ta'ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.

6. Dari ayat ini juga bisa disimpulkan tentang pentingnya orang tua memberi wasiat kebaikan kepada anak-anaknya saat sakit atau tanda-tanda ajal sudah dekat. Karena nasehat kebaikan yang diberikan oleh orang tua menjelang ajalnya, akan lebih membekas dan menjadi perhatian utama bagi para anak di kemudian hari. Tentu tidak hanya wasiat soal harta, yang lebih penting dari itu adalah wasiat kebaikan dan ketakwaan, seperti yang dilakukan oleh Nabi Ya'qub di atas.

Penulis: @hakimuddinsalim


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama