Lima Langkah Menghadapi Kesulitan Hidup Seorang Mukmin

Fikroh.com - Alloh telah menjelaskan bahwa hidup dan mati adalah ujian. Begitu juga susah dan senang keduanya menjadi penghias yang dipergulirkan. Bagi seorang mukmin bukan soal susah dan senangnya hidup yang dirasakan, tapi bagaimana menyikapi keduanya.

Baik senang maupun susah Alloh telah menggariskan konsep untuk dijadikan pedoman bagi setiap orang beriman. Yang jika dilaksanakan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan dunia akhirat. Pada tulisan ini penulis akan menjelaskan konsep seorang mukmin dalam menghadapi kesulitan hidup. Simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

1. Attaslimu liamrillah.

Menyerahkan dan melaksanakan perintah-perintah Allah. Seorang mukmin wajib mempunyai rasa ikhlas melaksanakan perintah Allah. Wabidzalika umirtu waana minal muslimin. Demikianlah aku diperintah begitu pula aku menjadi golongan orang-orang yang berserah diri. Labbaikallohumma labbaik. La syarikalaka labbaik, Innalhamda wanni'matalaka walmulk, La syarika laka. 

Kami selalu tunduk akan perintah-Mu Ya Allah. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Kami selalu tunduk akan perintah-Mu. Sesungguhnya segala puji dan segala nikmat itu hanyalah kepunyaan-Mu, begitu juga segala kekuasaan. Sungguh tidak ada sekutu bagi-Mu Ya Allah. Begitulah seorang mukmin, tanpa sangsi, tanpa protes dan tanpa banyak bicara selalu melaksanakan perintah Allah.

2. Attafwidlu illallah. 

Menyerah bulat-bulat tanpa dapat menyampuri akan kekuasaan Allah. Seorang Muslim, seorang Mukmin di saat sudah tidak dapat lagi berbuat dan berusaha, sudah sampai pada klimaks, maka benar-benar dan bulat-bulat berserah kepada Allah. Betul-betul berserah kepada Allah. Betul-betul berserah diri, karena sudah tak ada sedikit pun kemampuan. Contoh yang mudah, sewaktu orang mau tidur maka merasa bahwa kalau orang sudah tidur sudah tak dapat berusaha lagi, tak dapat berikhtiar lagi. Pada saat begitu apalah Yang akan diperbuat? Bagi seorang yang beriman maka cukuplah sudah berserah diri kepada Allah.

3. Attawakkulu ’alalloh. 

Berserah diri kepada Allah, setelah berusaha menurut kemampuannya yang maksimal. Perhitungan sudah. Taktik sudah. Strategi sudah. Maka tinggal kepada Allah jualah ia berserah diri. Kalau orang mau bepergian. Kendaraan sudah ada dan siap. Bekal-bekal pun sudah lengkap. Tujuan telah ditentukan. Semuanya telah cukup lengkap, Maka diucapkanlah dengan penuh kepercayaan, menyerah diri akan jaminan Aliah : Bismillahi tawakkaltu ’alallah. Wala haula wala quwwata illa billah. Dengan asma Allah. Saya berserah diri kepada Allah, Tidak ada daya, tidak ada kekuatan kecuali atas pertolongan Allah. 

4. Arridlo bi qodloz'llah. 

Ridla, puas dan lega legawa, artinya benar-benar mau menerima dengan segala kerelaan hati akan segala berlakunya kepastian Allah. Tanpa hati yang memberontak atau meronta-ronta, tanpa mengutuk, dan tanpa meratap. Melainkan dengan penuh pengertian akan kelemahan diri dan penuh kepercayaan akan kekuasaan, keadilan dan kebijaksanaan Allah, diterimalah segala takdir dan qodlo Allah. 

5. Assobru 'indassodamatil ula. 

Sabar atau tahan pada pukulan yang pertama, pukulan yang mula-mula. Setiap usaha, setiap perjuangan itu mesti mengalami kesukaran, mengalami tantangan atau halangan. Barangsiapa pada saat mula-mula berusaha atau berjuang itu tiada tahan, niscaya usaha atau perjuangannya itu menemui kegagalan. Dari itu setiap orang yang memulai usahanya atau perjuangannya wajib menyadari akan hal itu dan dia wajib mempertahahkan benar-benar, sehingga permulaan itu harus benar-benar berjalan. Mudah-mudahan dengan berjalannya permulaan itu akan dapat membawa kelanjutan jalannya dengan baik dan lancar. 

Demikian Lima Tips dalam menghadapi masalah kesulitan hidup yang telah dicontohkan oleh sang teladan, Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam. Semoga Alloh mudahkan segala urusan kita dan istiqamah di jalan kebenaran walau bagaimana sulitnya.

Penulis: H. AR Fachruddin

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama