Kerap Bakar Qur'an, Ini Profil Kelompok Ektrimis ‘Stram Kurs’

Fikroh.com -Kelompok ekstrimis sayap kanan asal Denmark, Stram Kurs atau dalam Bahasa Inggris berarti “Hard Line” kembali melakukan pembakaran Al-Quran di daerah Rinkeby, Stockholm yang merupakan daerah komunitas Muslim.

Akan tetapi, aksi pembaran Al-Quran oleh Stram Kurs  ini bukanlah pertama kalinya.

Kelompok Stram Kraus didirikan pada 2017 oleh politisi Rasmus Paludan. Kelompok ini adalah partai di pinggiran Denmark yang tidak memenuhi ambang batas parlemen dalam pemilu 2019.

Kelompok Stram Kurs kerap melakukan pembakaran Al-Quran dan mengunggah video aksi mereka melalui Facebook.

Tindakan aksi semacam ini membuat Rasmus Paludan kabarnya berada dalam bahaya besar, karena dia telah selamat dari sejumlah upaya pembunuhan selama bertahun-tahun.

Pada akhir Agustus lalu, Stram Kraus mengunjungi kota Malmo di Swedia untuk berdemonstrasi menentang Islam, dengan alasan bahwa Islam tidak dapat diintegrasikan ke dalam masyarakat yang beradab.

Stram Kurs melakukan pembakaran Al-Quran di daerah Rosengard. Insiden ini memicu kerusuhan di antara penduduk Muslim Malmo. Sehubungan dengan peristiwa tersebut, Rasmus Paludan dilarang masuk ke Swedia selama dua tahun.

Takut dengan Islamisasi Swedia

Pemimpin Stram Kurs, Rasmus Paludan sebelumnya mengajukan permohonan izin untuk mengadakan lima demonstrasi di pinggiran kota Stockholm, yang mayoritas dihuni oleh umat Muslim.

Kelompok Stram Kraus meminta izin dari otoritas Swedia untuk membakar Al-Quran di lingkungan Rinkeby, Fitttja, Alby, Husby, dan Upplansveby pada Sabtu (12/9). Namun pada Kamis (10/9) pagi kelompok tersebut telah membakar Alquran.

Di halaman Facebook kelompok itu, mereka menyebut Islam sebagai agama yang jahat dan primitif serta tidak memiliki tempat dalam masyarakat yang beradab.

“Islamisasi Swedia merupakan ancaman langsung dan serius bagi keamanan dan kebahagiaan rakyat Denmark. Begitu juga dengan keamanan dan kebahagiaan rakyat Swedia. Kami tidak akan pernah menerimanya tanpa perlawanan!” kata Rasmus  Paludan melalui akun Facebook-nya.

Menurut laporan surat kabar Aftonbladet, polisi sedang menyelidiki insiden pembakaran Al-Quran tersebut.

Kepolisian mengatakan, tindakan itu adalah sebuah hasutan terhadap suatu kelompok etnis. Sejauh ini, pihak berwenang belum melakukan penangkapan.

Pemerintah Swedia belum berkomentar atas aksi pembakaran Alquran di wilayahnya oleh kelompok Stram Kurs itu.

Sementara itu, Turki mengecam keras aksi pembakaran Al-Quran di Swedia itu. Ankara yang jengkel dengan ulah kelompok anti-Islam tersebut, mencirikan tindakan mereka sebagai sikap tidak hormat.

“Kami mengutuk ketidaksopanan kelompok barbar rasis dengan membakar kitab suci kami, Alquran di Stockholm, ibukota Swedia,” kata Kementerian Luar Negeri Turki.

Kementerian Luar Negeri Turki mengapresiasi langkah positif Swedia yang tidak mengizinkan Stram Kurs melakukan penistaan kitab suci tersebut. Kendati demikian, Ankara menyesalkan bahwa tindakan provokatif dari kelompok itu tidak dapat dicegah.[IZ]

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama