Kapan Waktu Terbaik Untuk Berdoa Minta Anak Sholeh?

Fikroh.com - Orang tua, sekuat apapun usaha yang dikerahkan, sebesar apaun pengorbanan yang dikeluarkan dalam mendidik anak jika tanpa pertolongan Alloh tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Maka jika kita ingin lahir seorang anak yang sholeh dari keturunan kita, selain usaha maksimal juga tidak kalah pentingnya mengetuk pintu langit dengan berdoa. Kapan waktu yang tepat untuk mendoakan sang buah hati? Ini dua keadaan yang sangat tepat untuk mendoakan anak.

Pertama Berdoa untuk Anak Saat Masih dalam Sulbi Ayahnya

Dahulu Ketika orang-orang musyrik dari Thaif menolak seruan Nabi yang mengajak mereka untuk masuk Islam, bahkan mereka mencaci dan melempari beliau dengan batu, malaikat penjaga gunung menawarkan kepada beliau untuk menimpakan dua bukit Akhbasy (dua bukit di Mekah) kepada mereka. Pada saat itu juga Nabi yang berhati lembut lagi penyayang menjawab, ”Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka hamba yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun.”' Maka Allah telah merealisasikan harapan Nabi tersebut dengan keislaman anakanak mereka. Nabi Muhammad juga memberikan petunjuk kepada kaum muslim agar melakukan hal-hal yang menghasilkan kemaslahatan bagi anak-anak mereka pada masa mendatang.

Untuk itu, beliau bersabda, ”Seandainya salah seorang di antara kalian sebelum menggauli istrinya berdoa:

"Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau anugerahkan kepada kami,' lalu dari keduanya lahir anak, setan tidak akan dapat mengganggunya selamanya.”

Dalam hadits ini terkandung anjuran bahwa sebaiknya permulaan yang kita lakukan dalam hal ini bersifat rabbani, bukan syaithani. Apabila disebutkan nama Allah pada permulaan senggama, berarti hubungan yang dilakukan oleh suami istri tersebut berlandaskan ketakwaan kepada Allah dan dengan izin Allah anaknya nanti tidak akan diganggu setan.

Allah telah memerintahkan agar kita memilihkan calon suami atau calon istri yang saleh untuk anak-anak kita ketika akan menikahkan mereka. Hal ini agar mereka mampu membesarkan dan mendidik generasi yang saleh pula. Ada pepatah yang mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan bisa memberikan sesuatu. Oleh karena itu, bibit yang tidak saleh jelas tidak akan dapat memberikan keturunan yang saleh. Berkenaan dengan hal ini Allah berfirman:

”Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan... ” (An-Nur: 32).

Hal senada juga telah disampaikan oleh Nabi. Beliau bersabda:

"Pilihlah untuk benih kalian. Menikahlah dengan orang-orang yang sepadan dan nikahkanlah di antara sesama mereka.”

Kedua Berdoa untuk Anak Ketika Masih Berupa Nuthfah

Saat Abu Thalhah berada di luar rumah, anaknya yang sedang sakit keras di rumah menghembuskan nafas terakhir. Namun, saat Abu Thalhah pulang, istrinya, Ummu Sulaim, tidak segera memberitahukan kematian anaknya dan tidak memperlihatkan tanda-tanda kesedihan. Sebaliknya, ia berdandan dan mempersiapkan makan malam untuk suaminya. Abu Thalhah pun langsung menyantap hidangan makan malamnya dan menyetubuhi istrinya.

Setelah semua berlangsung, barulah Ummu Sulaim menceritakan kepada suaminya dengan pendekatan spiritual yang cerdas bahwa anaknya telah meninggal dunia. Pagi harinya, Abu Thalhah menemui Rasulullah g dan menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan istrinya. Rasulullah pun mendoakan keberkahan bagi keduanya malam itu. Beliau bersabda, ”Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.”

Akhirnya, mereka berdua dikaruniai seorang bayi yang diberi nama Abdullah oleh Nabi. Berkat doa Nabi, anak itu tumbuh dewasa lalu menikah dan dikaruniai sembilan anak yang semuanya hafal Al-Qur'an. Kisah ini diriwayatkan dengan redaksi yang panjang dalam kitab Shahih Bukhari.

1. Salah satu bukti yang menunjukkan perhatian Islam terhadap anak semasa masih berada di dalam rahim ibunya ialah nafkah yang diperintahkan oleh Islam agar diberikan kepada wanita hamil yang telah ditalak tiga. Nafkah ini sebenarnya adalah untuk bayi yang ada di dalam kandungannya, bukan untuk ibunya. Sebab, hak nafkah bagi ibunya telah gugur dengan talak tiga yang dijatuhkan oleh sang suami kepadanya.

Seorang wanita yang diceraikan oleh suaminya sebanyak tiga kali, berarti harus berpisah dengannya dan menjadi wanita lain. Ia sudah tidak memiliki hak untuk menerima nafkah atau jaminan tempat tinggal dari mantan suaminya. Demikianlah menurut pendapat yang lebih kuat di kalangan ulama fikih. Namun, jika wanita yang bersangkutan dalam keadaan hamil, menurut kesepakatan semua ulama ia masih berhak mendapat nafkah dari suaminya. Sehubungan dengan hal ini, Allah berfirman:

”…Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin.” (Ath-Thalaq: 6). Kewajiban suami menafkahi wanita mengandung yang telah ditalak ba'in tidak lain hanyalah demi bayinya. Jalan satu-satunya untuk hal ini adalah dengan memberikan nafkah kepada ibunya. Sehubungan dengan hal ini, Ibnu Qudamah berkata, ”Karena bayi yang dikandung adalah anaknya (mantan suami) maka ia pun wajib menafkahinya. Karena pemberian nafkah kepada sang bayi hanya mungkin dilakukan melalui ibunya maka memberi nafkah kepada ibunya menjadi wajib sama halnya dengan upah menyusui.” Demikianlah perhatian Islam kepada anak ditinjau dari segi kewajiban memberi nafkah.

2. Perhatian lain yang diberikan oleh Islam kepada bayi ialah menjaganya dari hal-hal yang dapat membahayakan kesehatan semasa berada dalam rahim ibunya. Karena itu, ibu yang sedang hamil, bila merasa khawatir dengan kesehatan janinnya, diperbolehkan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan.

Posisinya sama dengan orang sakit dan orang yang sedang dalam perjalanan. Bahkan, sebagian ulama ada yang membebaskannya dari kewajiban membayar kafarat, tetapi tidak untuk wanita yang sedang menyusui. Mereka beralasan karena kedudukan janin sama halnya dengan bagian dari tubuh wanita yang mengandungnya dan kekhawatiran akan keselamatannya sama dengan kekhawatiran terhadap keselamatan sebagian dari anggota tubuh wanita yang bersangkutan.

Beda halnya dengan kasus wanita yang menyusui jika tidak dapat men usui bayinya, Dalam hal ini bisa saja ia mengupah wanita lain untuk menyusui anaknya? Para ulama mengategorikan kasus wanita yang menyusui ini ke dalam masalah yang disebutkan oleh firman Allah:

”...Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” (AI-Baqarah: 184). 

3. Perhatian lain dari Islam kepada bayi yang masih ada dalam kandungan ibunya ialah penangguhan hukuman yang harus dijalani oleh sang ibu. Jika hukuman tersebut dapat mempengaruhi atau dipastikan akan mematikan sang bayi yang ada dalam kandungannya maka hukuman bagi sang ibu ditangguhkan. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imran bin Husein mengisahkan bahwa pernah ada seorang wanita yang hamil setelah berzina dari kalangan Bani juhainah datang kepada Nabi Ia berkata, ”Wahai Nabi Allah, aku telah melakukan pelanggaran yang berkaitan dengan hukuman had. Sudilah kiranya engkau menegakkan hukuman itu terhadap diriku.” Setelah mendengar pengakuan itu, Nabi memanggil wali si wanita tersebut, lalu bersabda kepadanya, "Rawatlah ia dengan baik. Bila ia telah melahirkan, bawalah kepadaku kembali.” Wali perempuan itu pun melakukannya. Setelah itu, Nabi g memerintahkan agar wanita tersebut diikat dengan kainnya. Kemudian beliau memerintahkan kepada mereka untuk merajamnya. Setelah selesai hukuman had dan jenazahnya diurus, Nabi menshalatkannya.” Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Muslim, seorang wanita dari Bani Ghamidiyah mengaku telah berbuat zina dan meminta kepada Rasulullah agar menegakkan hukuman had terhadap dirinya. Nabi gag bersabda kepadanya, ”Pulanglah tunggu hingga engkau melahirkan.”

Setelah melahirkan, wanita itu datang dengan membawa bayinya di balutan kain. Ia berkata, ”Ini bayinya, aku telah melahirkan.” Nabi bersabda, ”Pulanglah dan susuilah ia hingga engkau sapih.”

Setelah wanita itu menyapih bayinya, ia datang lagi dengan membawa bayinya yang memegang sepotong roti di tangannya. Ia berkata, ”Wahai Rasulullah, bayi ini telah saya sapih dan sudah bisa makan sendiri.” Nabi pun menyerahkan bayi itu kepada salah seorang shahabat, kemudian memerintahkan agar dibuatkan galian sampai batas dada untuk wanita itu. Beliau lalu memerintahkan kepada orang-orang untuk merajamnya. Mereka pun merajamnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama