Innalillahi, KH. Rizki Zulqornain Al-Batawi, Sosok Kiyai Muda Asli Betawi Meninggal Dunia

Fikroh.com - Kabar duka kembali menyelimuti kaum muslimin nusantara atas berpulangnya seorang 'alim dan dai muda asal Jakarta, KH Rizki Dzulqornain Al Batawi MA. Kabar kematiannya disampaikan oleh keluarga besar Yayasan Al-Mu'afah pada hari Kamis (24/9). Beliau wafat pada Kamis 5 Shafar 1442 H pukul 01.19 WIB di salah satu Rumah Sakit di Jakarta.

Detik-detik sebelum wafatnya, belia sempat mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha illallaah.

Sekilas Biografi KH Rizki Zulkarnain

KH. Rizki Zulkarnain, dilahirkan di Jakarta pada 11 Safar 1403 H/ 26 November 1982 M sebagai putra kedua dari pasangan H. Asmat dan HJ. Kholilah. Sejak kecil telah memulai pendidikan agama dengan belajar membaca al-Qur’an di bawah bimbingan para guru di majelis-majelis ilmu setempat. Pada tahun 1989-1995 menempuh pendidikan Ibtidaiyah di Madrasah ʻUmdatur Rasikhien. Pada tahun 1995-1998 menuntut ilmu di Madrasah Tsanawiyah ʻUmdatur Rasikhien, pada tahun 2001 menamatkan pendidikannya di SMUN 36 Jakarta.

Pada tahun 2007 ia menyelesaikan pendidikan studi S1 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta prodi Tafsir Hadis dengan skripsi “Nusyûz kajian surat al-Nisâ ayat: 128 dalam tafsir al-Sirâj al-Munîr Fî al-ʻIânah ʻAlâ Maʻrifat Baʻd Maʻânî Kalâm Rabbinâ al-Hakîm al-Khabîr karya Syaikh Muhammad al-Syarbînî al-Khaṯîb”. Pada tahun 2011-2012 mendapat beasiswa dari kementrian agama untuk mengikuti short course di Universitas Ibn Thufail, Kinetra, Maroko. Di Maroko ia berhasil merampungkan sebuah karya “Dzakîrat al-Muhtâj Fî Salawât ʻAlâ Sâhib al-Liwâ Wa al-Tâj”. Kitab tersebut telah dicetak dan diberikan sambutan oleh 23 ulama. Pada awal tahun 2012, ia mengambil baiat thariqah Tijâniyah di kota Fez, Maroko.

Pada tahun 2014 lulus dari Ma'had Ali al-Asyirah al-Qur'aniyyah pada prodi Tafsir dan pada pada tahun 2018 ia lulus studi S2 nya pada program Magister Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada prodi Tafsir Hadis Konsentrasi Hadis dengan judul tesis “Kritik Hadis Ahmad al-Ghumârî Terhadap Hadis-Hadis Palsu Riwayat al-Qudâʻi Dalam Kitab al-Jâmi’ al-Saghîr (Telaah Kitab al-Mudâwî Li ‘Ilal al-Jami’ al-Saghîr Wa Syarhai al-Munâwî)”.

Sebelum berkutat dalam dunia akademisi, ia menuntut ilmu kepada para ulama yang menjadi ʻumdah (rujukan) di Jakarta antara lain: Hadarat Syaikh K.H Muhammad Syâfiʻî Hadzâmi Mufti Betawi, Abuya K.H Saifuddin Amsir, K.H Maulana Kamal Yusuf, K.H Ahmad Syâfiʻi Abdul Hamid, K.H Ahmad Hifzhillah Badruddin, Ustad H. Mursalim dan lain-lain.

Selain aktif berdakwah, ia mendirikan Madrasah Diniyah yang diberi nama al-Mu’afah, madrasah tersebut telah diresmikan pada tanggal 6 Desember 2014 M/ 14 Shafar 1436 H oleh Sayyid ʻAbdul Karîm Baqqâsy al-Idrisi al-Maghribi al-Hasanî hafizhahullah. Adapun Majelis al-Muafah sudah eksis sejak tahun 1999.

Di samping itu, ia banyak mendapatkan ijazah ʻammah dari para ulama di antaraya: Syaikh Muhammad al-ʻArabî Bin Mahdî Ighîder al-Maghribî, Sayyid Muhammad al-Râḏî Ghannûn al-Maghribî, Sayyid ʻAbdurrahman Bin ʻAbdul Hay al-Kattânî al-Maghribî, Sayyid ʻAbd al-Qâdir Bin Muhammad al-Makkî al-Kattânî, Sayyid Shalahuddin al-Barkati as-Sudani, Sayyid Ahmad Bin Abî Bakr al-Habsyî, Sayyid Muhammad Bin Abî Bakr al-Habsyî, Sayyid Sâlim Bin ʻAbdullah al-Syâṯirî, Syaikh Rif’at Fauzi ʻAbd al-Muṯallib al-Misrî, Syaikh Muhammad Muṯîʻ al-Hâfiz, Syekh Yahya al-Ghautsani, Syekh Muhammad Amin Abu Khubzah al-Maghribi, Syekh Hasan Bin Husain Basindiwah, Sayyid ʻAbdullah Bin ʻAbdul Qâdir al-Talîdî al-Maghribî, Sayyid Zain Bin Ibrâhîm Bin Sumaiṯ, Sayyid Qâsim Bin Ibrâhîm al-Bahr al-Husaini, Syaikh Yûsuf Bin ʻAbdurrahman al-Marʻasyalî, Syaikh ʻAbdurrahman Muhammad Sirâj, Sayyid ʻAbdul Munʻin al-Ghumârî al-Maghribî, Syekh Farid al-Baji at-Tunusi, Syekh Mushthafa Bin Ahmad al-Qudaimi, Dr. Abdul Halim Bin Muhammad al-Anis al-Halabi, KH Abdurrazzaq Bonang, KH Maimun Zubair Sarang, Sayyid Mâjid Bin Hâmid al-Syîhawî, Syaikh Ahmad Sâlim al-Qaṯʻânî, Syaikh Muhammad Idrîs al-Sindî, Syaikh Muhammad Bin Ahmad Huhûd al-Maghribî, Sayyid ʻUmar Bin Muhammad Bin Sâlim Bin Hafîz, Dr. Adnan Zuhar al-Maghribi dan lain-lain.

Di antara karya yang berhasil ia susun: Kontribusi Syaikh Ibrahim Bin Abdullah al-Syinqîṯî Dalam Ilmu Hadis, Risâlah Shalat Tarâwih, Keutamaan Nishfu Sya’ban, Panduan Shalat Janazah, Pedoman Shalat Safar, Ensiklopedia Shalawat, Tuntunan Ziarah Auliya, Penjelasan Aqidah al-Awam, Terjemah ʻUmdah al-Sâlik Wa ʻUddah al-Nâsik, Terjemah Qashidah al-Hamziyah, Terjemah Nazham Munyat al-Murîd, Keagungan Shalawat al-Fâtih, Keutamaan Shalawat Jauharat al-Kamâl, Mantiq al-Awânî Fi Amdâh al-Musṯafâ al-Adnâni Wa al-Quthb al-Tijâni, Qashidah al-Sîniyah Syaikhul Islam Ibrahim al-Riyâhî, Tartîb Ahâdîts Jawâhir al-Maʻânî Wa Bulûgh al-Amânî dan Ittihaf al-Amajid Bi Nafais al-Fawaid.

Ia juga mendapat kehormatan untuk memberikan taqriz (sambutan) kitab para ulama antara lain: Nasywah Râh al-Wasal Fi Shalat ʻAlâ Mazhar al-Fadl, ʻUqûd al-Jumân Fi al-Tawassul Bi Suwar al-Qur’an, Namâriq al-Hur Wa Bawâriq al-Nûr, al-Rubaiyyat Fi Madh Khair al-Bariyyât, Hadâiq al-Nadiyyah karya Sayyid ʻAbdul Karîm Baqqâsy al-Idrîsî dan Syarh Nazam al-Baiqûniyah karya Syaikh ʻAlî Fâdil al-Hammâdi.

Ia Menikah dengan Hj. Raihanatul Quddus Saifuddin Amsir pada tahun 2008 dan dikarunia seorang putri yang diberi nama Munyatun Nufus.

Sumber : Yayasan Al Mu'afah

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama