Inilah Fakta-fakta Ka'bah yang Menakjubkan


Fikroh.com - Salah satu bangunan paling menakjubkan di dunia saat ini adalah Ka'bah. Bukan hanya diakui oleh kaum muslimin saja namun juga dunia pada umumnya. Dibalik kemegahan dan kesakralannya ka'bah memiliki fakta-fakta menakjubkan yang penting untuk diketahui. Apa saja fakta-fakta Ka'bah berdasarkan runtutan peristiwa yang menyertainya? Berikut ulasannya.

  1. Ka'bah adalah rumah peribadahan yang dibangun oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan putranya Isma’il di kota Makkah. Allah memerintahkan beliau untuk membangunnya, agar manusia beribadah kepada Allah di sana. Allah subhanahu wata'ala berfirman, إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (96) فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (97) "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam." (Ali Imran: 96-97)
  2. Pada saat pembangunan Ka’bah, Ismail berperan mengangkut batu, sementara Ibrahim memasangnya. Setelah bangunan tinggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk menjadi pijakan bagi Nabi Ibrahim. Batu inilah yang akhirnya disebut sebagai maqam Ibrahim. Bukan makam (kuburan) Nabi Ibrahim sebagaimana yang dikira sebagian manusia.
  3. Di masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad ‘alaihi shalatu wassalaam, Yaman adalah sebuah propinsi di bawah kekuasaan Habasyah (Ethiopia) yang beragama Nashrani. Abrahah, gubernur Yaman berkeinginan agar bangsa Arab pada saat itu untuk berhaji ke San'a, ibukota Yaman, tidak ke kota Makkah tempat Ka'bah berada.
  4. Untuk menandingi Ka’bah, Abrahan membuat sebuah gereja yang bernama Al Qullais. Tempat ibadah ini tiada bandingannya. Karena tersinggung, salah seorang dari bangsa Arab merendahkan kedudukan gereja ini dengan cara membuang hajatnya di Al Qullais. Abrahah sangat murka dan langsung memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan Ka'bah. 
  5. Ketika pasukan itu akan mendekati Ka’bah, Allah utus sekumpulan burung. Burung-burung tersebut menghujani pasukan dengan batu-batu kecil. Tidaklah batu itu menimpa tubuh pasukan Abrahah melainkan tubuhnya hancur tercerai-berai. Mereka binasa dengan keadaan yang mengenaskan.
  6. Pada tahun yang sama dengan tahun penyerangan pasukan Abrahah tersebutlah lahirlah junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga tahun tersebut dikenal sebagai ‘tahun gajah’
  7. Kisah penyerangan Ka’bah ini telah Allah abadikan di dalam Al Qur'an. Allah berfirman, أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5) Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (Surat Al Fiil)
  8. Tiga puluh lima tahun setelah peristiwa penyerbuan Abrahah, kota Makkah dilanda banjir besar yang meluap sampai ke Masjidil Haram. Orang-orang Quraisy menjadi khawatir banjir ini akan dapat meruntuhkan Ka'bah. Oleh karena itu bangsa Quraisy akhirnya sepakat untuk merehabilitasi bangunan Ka'bah tersebut dengan terlebih dahulu merobohkannya.
  9. Untuk perbaikan Ka'bah ini, orang-orang Quraisy hanya menggunakan harta yang baik-baik saja. Mereka tidak menerima harta dari hasil melacur, riba dan hasil perampasan.
  10. Di awal-awal perbaikan ka’bah, pada awalnya mereka masih takut untuk merobohkan Ka'bah. Akhirnya salah seorang dari mereka yang bernama Al Walid bin Al Mughirah Al Makhzumy (ayah dari sahabat Khalid bin Walid) bangkit mengawali perobohan tersebut. 
  11. Pembangunan kembali Ka'bah ini dipimpin oleh seorang arsitek dari bangsa Romawi yang bernama Baqum.
  12. Ketika pembangunan sudah sampai ke bagian Hajar Aswad, bangsa Quraisy berselisih tentang siapa yang mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Mereka hampir bunuh-membunuh karena masalah ini. 
  13. Para pemuka Quraisy pun sepakat bahwa keputusan peletakan hajar aswad diserahkan kepada orang yang pertama kali lewat pintu masjid. Allah takdirkan bahwa orang tersebut adalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sebelum beliau diutus sebagai nabi.
  14. Rasulullah pun kemudian menyarankan suatu jalan keluar yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh mereka. Beliau mengambil selembar selendang. Kemudian Hajar Aswad itu diletakkan di tengah-tengan selendang tersebut. Beliau lalu meminta seluruh pemuka kabilah yang berselisih untuk memegang ujung-ujung selendang itu. Mereka kemudian mengangkat Hajar Aswad itu bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam-lah yang kemudian meletakkan Hajar Aswad tersebut. Sebuah cara yang sangat adil dan indah bukan?
  15. Di awal-awal diutusnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam, kiblat kaum muslimin bukanlah Ka’bah melainkan Baitul Maqdis di Palestina yang kini berada di bawah kekuasaan orang-orang Yahudi (semoga Allah melaknat mereka dan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin). 
  16. Kaum muslimin sempat shalat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas sampai tujuh belas bulan.
  17. Rasulullah sangat ingin agar kiblat ini berpindah ke Ka’bah. Akhirnya Allah pun menurunkan perintah untuk mengganti kiblat kaum muslimin ke sana.
  18. Perintah penggantian kiblat ini Allah abadikan di dalam Al Quran dengan firman-Nya, قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit. Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.(Al Baqarah: 144)
  19. Sebagian kaum muslimin pada waktu itu bertanya-tanya perihal pemindahan kiblat ini. Bagaimanakah dengan orang yang dulunya shalat menghadap ke Baitul Maqdis, namun dia keburu meninggal sebelum dia shalat menghadap ke kiblat yang baru, yaitu Ka'bah atau masjidil haram di Makkah? Apakah shalatnya diterima atau tidak? Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firmannya, وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia". (Al Baqarah: 143)
  20. Setelah pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke masjidil haram ini, orang-orang Yahudi yang benci dan hasad kepada kaum muslimin mengatakan, "Apa yang menyebabkan mereka berpaling dari kiblat yang dahulu mereka menghadap kepadanya?" Maka Allah berfirman, سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ "Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus." (Al Baqarah: 142)
  21. Pada tahun kedelapan Hijriyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau ridwanallahu ‘alaihim ajmain menaklukkan kota Makkah. Ketika masuk ke kompleks Masjidil Haram. Beliau mencium Hajar Aswad dan thawaf mengelilingi Ka'bah di atas untanya sambil membawa busur.
  22. Waktu itu di sekitar Ka'bah ada tiga ratus berhala. Dengan panahnya, Rasulullah menunjuk berhala-berhala itu sambil membaca firman Allah ta'ala: وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا Dan Katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Al Isra': 81) Ketika itu Rasulullah memanggil Utsman bin Thalhah, orang yang memegang kunci Ka'bah. Beliau kemudian memerintahkannya untuk membuka pintu Ka'bah. Di dalam Ka'bah Rasulullah melihat berbagai gambar. Di antaranya adalah gambar Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il 'alaihimassalam sedang membagi-bagikan anak panah. Beliau kemudian bersabda, "Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah, sekali pun beliau tidak pernah mengundi dengan anak panah ini". Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam kemudian memerintahkan untuk menghapus semua gambar-gambar yang ada di dalam Ka'bah tersebut. Di dalam Ka'bah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian shalat. Pada saat itu di dalam k'a'bah juga ada Bilal dan Usamah bin Zaid.
  23. Rasulullah, ingin mengembalikannya Ka’bah sesuai dengan pondasi yang dulunya dibuat oleh Nabi Ibrahim. Akan tetapi beliau mengurungkan niatnya karena memandang bahwa bangsa Quraisy baru saja menerima Islam.
  24. Beberapa dekade setelah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Kota Makkah diperintah oleh Abdullah bin Zubair radhiyallahu 'anhu. Abdullah bin Zubair mengembalikan keadaan bangunan Ka'bah ke bentuk aslinya. Hal ini beliau lakukan berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh bibinya Aisyah radhiyallahu 'anha.
  25. Setelah Abdullah bin Zubair dibunuh oleh Al Hajjaj bin Yusuf, Abdul Malik bin Marwan memerintahkan untuk merobohkan dinding Ka'bah dan mengembalikannya ke bentuk sebelum dirubah oleh Abdullah bin Zubair.
  26. Pada zaman Khalifah Al Mahdi bin Manshur, Imam Malik bin Anas mengusulkan untuk mengembalikan Ka'bah ke bentuk semula. Namun Khalifah Al Mahdi keberatan. Dia berkata, "Aku khawatir ini akan menjadi permainan bagi para sultan". Maksudnya setiap kali ada penguasa yang baru maka ia akan membangunnya sesuai dengan kehendaknya. Sejak itu bangunan Ka'bah pun tidak pernah diubah lagi sampai pada masa kita sekarang. Wallahu a'lam.

Referensi:

• Tafsir Al Quranul Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah.
• Shahih Asbabun Nuzul, Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'I rahimahullah.
• Al Rahiqul Makhtum, Asy Syaikh Syafiurrahman Al Mubarakfuri rahimahullah.
• Shahih Qashashul Anbiya' li Ibni Katsir, Asy Syaikh Salim bin I'ed Al Hilali hafizhahullah.


Akhukum Wira Mandiri Bachrun

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama