Bolehkah Memanggil 'Ummi' ke Istri?

Fikroh.com - Sebagian ulama memakruhkan seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan-panggilan mahramnya, seperti memanggilnya dengan, “wahai Ummi, wahai saudari”… dan yang semisalnya. Imam ibnu Qudamah dalam kitabnya “al-Mughni” (8/11) berkata :

يُكْرَهُ أَنْ يُسَمِّي الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ، كَأُمِّهِ، أَوْ أُخْتِهِ، أَوْ بِنْتِهِ؛ لِمَا رَوَى أَبُو دَاوُد، بِإِسْنَادِهِ عَنْ أَبِي تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيِّ، «أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِامْرَأَتِهِ: يَا أُخَيَّةُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أُخْتُك هِيَ،. فَكَرِهَ ذَلِكَ، وَنَهَى عَنْهُ.» وَلِأَنَّهُ لَفْظٌ يُشْبِهُ لَفْظَ الظِّهَارِ. وَلَا تَحْرُمُ بِهَذَا، وَلَا يَثْبُتُ حُكْمُ الظِّهَارِ؛ فَإِنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَمْ يَقُلْ لَهُ: حَرُمَتْ عَلَيْك. وَلِأَنَّ هَذَا اللَّفْظَ لَيْسَ بِصَرِيحٍ فِي الظِّهَارِ وَلَا نَوَاهُ بِهِ، فَلَا يَثْبُتُ التَّحْرِيمُ. وَفِي الْحَدِيثِ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّ إبْرَاهِيمَ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - أَرْسَلَ إلَيْهِ جَبَّارٌ، فَسَأَلَهُ عَنْهَا يَعْنِي عَنْ سَارَةَ فَقَالَ: إنَّهَا أُخْتِي. وَلَمْ يَعُدَّ ذَلِكَ ظِهَارًا.

“dimakruhkan bagi seorang suami menyebut istrinya dengan hal yang menjadi mahram baginya, seperti ibunya, saudarinya atau anaknya, berdasarkan riwayat Abu Dawud dengan sanadnya dari Abi Tamiimah al-Hujaimiy : “bahwa pernah ada seorang shohabi yang memanggil istrinya dengan “wahai saudariku”, maka Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam menanggapinya : “saudarimu kah itu?”, maka Rasulullah membencinya dan melarangnya”.

Alasannya karena lafadz tersebut menyerupai lafadz dzhihar, namun tidak sampai diharamkan dan tidak jatuh hukuman dzhihar padanya, karena Nabi shalallahu alaihi wa sallam tidak mengatakan kepadanya : “diharamkan istrimu untukmu”. Dan juga lafadz ini tidak secara tegas untuk dzhihar dan tidak ada niat padanya, sehingga tidaklah tetap pengharamannya.

Sebagaimana dalam hadits dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam bahwa Nabiyullah Ibrahim alaihis salaam, pernah didatangi oleh utusan raja yang lalim, lalu bertanya tentang Sarah –istrinya-, maka Nabi Ibrahim menjawab : “ia adalah saudariku” dan hal tersebut tidak terhitung sebagai dzhihar”. -selesai-.

Namun berdalil dengan hadits Abu Dawud diatas untuk memakruhkan permasalahan yang kami angkat didalam judul bab tidaklah tepat, karena hadits Abu Dawud yang diriwayatkan dalam “Sunannya” (no. 2210 & 2211) sanadnya dhoif karena kemursalannya, sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam “Fathul Bari” (9/387) :

قلت حَدِيث أبي تَمِيمَة مُرْسل وقداخرجه أَبُو دَاوُد من طرق مُرْسلَة وَفِي بَعْضِهَا عَنْ أَبِي تَمِيمَةَ عَنْ رَجُلٍ مِنْ قَوْمِهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا مُتَّصِلٌ

“kukatakan hadits Abi Tamiimah mursal, dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan jalan mursal, namun dalam sebagian riwayat dari Abi Tamiimah dari seorang laki-laki dari kaumnya ia mendengar Nabi shalallah alaihi wa sallam dan ini adalah tersambung sanadnya”.

Imam al-Albani dalam kitabnya “dhoif Abu Dawud” (2/240-242) telah mentakhrij hadits diatas dan beliau mengatakan bahwa riwayat yang maushul (bersambung sanadnya) adalah syadz. Kemudian beliau menemukan jalan lain dalam riwayat Imam Ibnu Abi Syaibah di “al-Mushonaf” (5/251) dari amr bin Syu’aib secara marfu’, maka kata beliau sanad ini mu’dhol (yakni gugur lebih dari satu perowi secara berurutan, pent.) sehingga dhoif. Dan kesimpulannya, Imam al-albani mendhoifkan hadits diatas dalam Ta’liqnya terhadap sunan Abu Dawud.

Oleh karenanya, sebagian ulama tidak memakruhkan sama sekali seorang suami memanggil istrinya dengan “ummi” atau “dik” (dalam bahasa kita), ketika itu diniatkan sebagai panggilan kasih sayang dan penghormatan kepadanya. Al-‘Alamah ibnu Utsaimin dalam salah satu fatwanya dalam program “nuurun ‘alaa Darb” berkata :

نعم , يجوز له أن يقول لها يا أختي , أو يا أمي , وما أشبه ذلك من الكلمات التي توجب المودة والمحبة , وإن كان بعض أهل العلم كره أن يخاطب الرجل زوجته بمثل هذه العبارات , ولكن لا وجه للكراهة , وذلك لأن الأعمال بالنيات , وهذا الرجل لم ينو بهذه الكلمات أنها أخته بالتحريم والمحرمية , وإنما أراد أن يتودد إليها ويتحبب إليها , وكل شيء يكون سبباً للمودة بين الزوجين , سواء كان من الزوج أو الزوجة فإنه أمر مطلوب "

“na’am, boleh baginya memanggil istrinya “wahai saudariku” atau “wahai ummi” dan yang semisalnya berupa kalimat-kalimat yang isinya kasih sayang dan rasa cinta, sekalipun memang sebagian ulama memakruhkan seorang suami memanggil istrinya dengan kalimat-kalimat diatas, namun (yang benar) tidak ada alasan untuk memakruhkannya. Karena amalan itu tergantung niatnya, sedangkan suami ini tidak meniatkan dengan kalimat-kalimat tersebut bahwa istrinya menjadi saudari dalam pengharaman dan mahram baginya, si suami hanyalah menginginkan hal tersebut sebagai bentuk kasih sayang dan rasa cinta kepadanya, dan semua hal yang menjadi sebab saling berkasih sayang diantara pasangan suami-istri, sama saja itu berasal dari sang suami atau sang istri, maka ini adalah perkara yang diperintahkan”. (https://islamqa.info/ar/83386). Wallahu A’lam.

Penulis: Abu Sa'id Neno Triyono

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama