Berapa Bagian Harta Waris untuk 'Ashobah?

Fikroh.com - Berapa bagian waris bagi 'ashobah? Perlu diketahui disini bahwa dalam masalah pembagian harta waris ada pihak penerima waris yang disebut 'ashobah. Siapa saja pihak yang termasuk 'ashobah dan berapa jatah waris yang diterima?

Apa itu 'Ashabah?

Secara istilah, makna 'ashabah ialah orang yang mendapatkan seluruh waris jika sendirian, atau mendapatkan bagian harta waris yang tersisa jika ada ahli waris yang lain, atau tidak mendapatkan bagian sama sekali dari harta waris jika tidak ada yang tersisa. Demikian itu berdasarkan sabda Nabi :

“Berikanlah harta warisan kepada orang yang berhak menerimanya, adapun sisanya maka diberikan bagi ahli waris laki-laki yang lebih utama.”

Pembagian Ashabah

'Ashabah dibagi menjadi tiga macam, yaitu: 

1. 'Ashabah bi nafsih (ashabah karena dirinya sendiri) yaitu: 

a. Ayah dan kakek berserta jalur sampai ke atas

b. Anak laki-laki dan cucu laki-laki beserta jalur ke bawahnya, 

c. Saudara laki-laki sekandung atau saudara laki-laki seayah, 

d. Anak saudara laki-laki sekandung atau putra saudara laki-laki seayah berserta jalur ke bawahnya, 

e. Paman dari jalur bapak yang sekandung dengan bapak 

f. Anak paman dari jalur ayah yang sekandung atau seayah saja terus sampai kebawah, 

g. Mu'tiq (orang yang memerdekakan budak) baik laki-laki atau perempuan, 

h. Ashabahnya mu‘tiq yang menjadi ashabah dengan dirinya sendiri 

i. Baitul Mal (kas kaum muslimin).

2. 'Ashabah bi ghairihi (‘ashabah yang terbawa ahli waris yang lain). 

Yaitu semua ahli waris wanita yang menjadi ‘ashabah karena terpengaruh oleh ahli waris laki-laki, sehingga ahli waris wanita itu mewarisinya bersama ahli waris laki-laki mendapatkan dua bagian dari ahli waris wanita.

Adapun ahli waris wanita yang menjadi 'ashib adalah: 

  1. Saudara perempuan sekandung terbawa oleh saudara laki-laki sekandung. 
  2. Saudara perempuan seayah terbawa oleh saudara laki-lakinya seayah. 
  3. Anak perempuan terbawa oleh saudara laki-lakinya. 
  4. Cucu perempuan dari anak laki-laki terbawa oleh saudara laki-lakinya atau terbawa oleh cucu laki-laki dari anak laki-laki jika cucu perempuan itu tidak mendapat bagian harta waris. Jika dia mendapatkan bagian harta waris, maka cucu laki-laki dari anak lakilaki yang di bawahnya itu tidak dapat membuatnya mendapatkan 'ashabah. Yaitu misalnya seorang laki-laki meninggal dunia dan meninggalkan satu anak perempuan dan seorang cucu perempuan dari anak laki-laki, dan satu cicit dari cucu laki-laki. 

Maka, pembagiannya adalah: anak perempuan berhak mendapatkan bagian setengah dari harta waris, dan cucu perempuan dari anak laki-laki mendapatkan bagian seperenam, sebagai pelengkap dari dua pertiga, sedangkan sisanya bagi cicit laki-laki dari cucu laki-laki karena menjadi ’ashabah. 

Atau seseorang yang meninggal dengan meninggalkan: cucu perempuan dari anak laki-laki, dan cicit laki-laki dari cucu laki-laki. 

Maka, pembagiannya cucu perempuan dari anak laki-laki itu mendapat bagian setengah, dan setengah sisanya itu untuk cicit laki-laki dari cucu laki-laki karena menjadi ‘ashabah. 

Atau seseorang yang meninggal dengan meninggalkan: dua cucu perempuan dari anak laki-laki dan satu orang cicit laki-laki dari cucu laki-laki karena menjadi ‘ashabah. Maka, dua cucu perempuan dari anak laki-laki mendapat bagian dua pertiga dan satu orang cicit laki-laki dari cucu laki-laki mendapat sisanya karena menjadi ‘ashabah. 

Semua ketentuan ini berlaku apabila cucu perempuan dari anak laki-laki itu sederajat dengan cicit laki-laki dari cucu laki-laki, atau kedudukannya lebih tinggi darinya. Adapun apabila dia (cucu perempuan dari anak laki-laki) lebih rendah darinya satu derajat atau lebih, maka (cicit laki-laki dari cucu laki-laki) menghalanginya dengan halangan yang menggugurkan, maka cucu perempuan tidak mendapat bagian harta warisan sama sekali. 

3. ‘Ashabah ma’a ghairihi (‘ashabah karena keberadaan ahli waris yang lain). 

Yaitu semua ahli waris wanita yang menjadi ‘ashabah karena berkumpul dengan ahli waris yang lain. Mereka itu adalah: saudara wanita sekandung satu orang atau lebih bersama satu anak perempuan atau lebih, atau saudara perempuan sekandung ini berkumpul dengan satu orang atau lebih cucu perempuan dari anak laki-laki. Maka, dalam hal ini saudara perempuan seayah sama seperti saudara perempuan sekandung. Maka, sisa harta warisan dari satu anak perempuan atau lebih, atau satu cucu perempuan dari anak laki-laki, diambil oleh saudara perempuan sendirian jika sendirian, atau bersama-sama dengan saudara-saudara perempuannya yang lainnya, jika mereka memang ada.

Dengan memperhatikan, bahwa saudara perempuan kandung di sini kedudukannya sama seperti saudara laki-laki sekandung, sehingga dia dapat menghalangi saudara perempuannya yang seayah. Dan saudara perempuan seayah kedudukannya sama seperti saudara laki-laki seayah, maka dia dapat menghalangi anak laki-laki dari saudara laki-laki (keponakan) secara mutlak. 

Catatan: Al-Mas‘alah Al-Musytarakah (Masalah Pembagian Warisan Bersama-sama) 

Apabila ada seorang perempuan meninggal dunia dan dia meninggalkan suami, ibu, saudara-saudara seibu, dan satu orang saudara laki-laki sekandung atau lebih, maka masalahnya adalah enam: untuk suami setengah (3 bagian), untuk ibu seperenam (1 bagian), untuk saudara seibu mendapat sepertiga (2 bagian), dan untuk saudara laki-laki sekandung tidak mendapatkan sedikitpun sisa dari harta warisan, karena dia termasuk ‘ashabah, dan ‘ashabah tidak mendapatkan harta warisan apabila harta warisannya telah habis dibagikan. Inilah ketentuan yang berlaku dalam persoalan ini. 

Akan tetapi Umar memutuskan bahwa saudara laki-laki sekandung satu atau lebih, mendapat bagian harta waris bersama-sama dengan suadara seibu pada bagian sepertiga, maka bagian itu dibagi sama rata kepada mereka. Dalam hal ini saudara laki-laki sekandung sama seperti saudara laki-laki seibu, dan bagian saudara perempuan sama seperti bagian saudara laki-laki, dengan demikian masalah ini disebut dengan “musytarakah”, atau “hajariyah”, karena beberapa saudara laki-laki sekandung berkata kepada Umar ketika pada mulanya mereka tidak memperoleh bagian, “Berikanlah putusan tentang bagian kami, anggaplah ayah kami hajar (penghalang), bukankah ibu kami satu? Lalu mengapa kami terhalang mendapat harta warisan, sedangkan saudara-saudara kami mendapatkannya?” lalu Umar menyetujui permintaan mereka dan beliau memberikan putusan bahwa mereka sama dengan saudara-saduaranya yang seibu dalam bagian sepertiga.

Sumber: Kitab Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza'iri (versi terjemahan bahasa Indonesia)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama