Bantah Hoax DN Aidit Keturunan Habaib, Rabithah Terbitkan Surat Pernyataan

Fikroh.com - Rabithah Alawiyah akhirnya memberikan jawaban tegas terhadap hoax dan fitnah keji yang disebarkan oleh para buzzer PKI dan pembenci Habaib yang mengatakan bahwa "DN Aidit tokoh PKI itu adalah seorang Habaib / Alawiyyin atau Dzurriyah Rasulullah SAW".

Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zein bin Umar bin Smith menegaskan D.N. Aidit bukanlah anak cucu Alawiyyin.

Habib Zein menyatakan hal ini perlu ditegaskan, karena menyangkut marga Aidid dan salah satu dalang pemberontakan G30S/PKI.

Nama baik marga Al-Aidid yang tersohor dan diabadikan dalam kamus-kamus ensiklopedia, kata dia, tercoreng oleh gembong PKI. Bahkan menurutnya, nama D.N. Aidit dianggap akan menjelekkan nama baik semua marga Alawiyyin pada umumnya.

Bahkan, itu bisa berdampak pada nama baik Sayyidina Husein RA sebagai anak cucu Nabi Muhammad SAW.

"D.N. Aidit bukanlah anak cucu Alawiyyin karena silsilah nasabnya tidak ditemukan dalam kitab pegangan yang dijadikan pedoman lembaga nasab yang ada di Indonesia," ujar dia dalam keterangan resmi yang diterima Republika.co.id, Kamis (24/9)

Dia menjelaskan, berdasarkan penuturan atau fatwa dari para sesepuh Alawiyyin, nasab itu dimulai saat hijrah pedagang Arab dari marga Al-Aidid ke Kota Pelembang. Hal itu, menurutnya, juga dikuatkan oleh sumber-sumber dari media cetak yang terbit dalam kurun waktu 1960.

"Pedagang itu menikah dengan seorang janda penduduk setempat yang telah mempunyai seorang anak bernama Nuh," katanya.

Nuh menjadi anak angkat dari saudagar Arab tersebut dan menganggap dirinya sebagai keturunan marga Al-Aidid. Namun, karena adanya cara penulisan Aidid dari waktu ke waktu, maka nama Aidid ia sebut berubah menjadi Aidit oleh bahasa setempat.

"Jelasnya huruf 'd' pada akhir kata Aidid diganti dengan huruf 't' sehingga namanya menjadi Nuh Aidit. Setelah Nuh Aidit dewasa, dia menikah dan dari pernikahannya lahirlah seorang anak laki-laki yang bernama Jakfar," ungkap dia.

Habib Zein mengatakan, setelah Nuh dan istrinya meninggal dunia, Jakfar bin Nuh dibawa ke Jakarta dan diasuh oleh keluarga pamannya (adik ibu). Jauh setelah itu, tepatnya ketika Jakfar bin Nuh dewasa, ia terpengaruh oleh ajaran komunis sehingga menjadikannya bagian dari anggota Partai Komunis Indonesia.

"Selanjutnya ia mengganti namanya dengan Dipa Nusantara Adit," ujarnya.


RABITHAH ALAWIYAH

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

SURAT PERNYATAAN

Jakarta, Kamis, 21 September 2017

Bersama surat ini DPP Rabithah Alawiyah beserta Maktab Daimi sebagai lembaga resmi pencatatan nasab Alawiyin menyatakan bahwa DPP Rabithah Alawiyah maupun Maktab Daimi tidak pernah mengeluarkan kisah tentang gembong PKI yang bernama DN. Aidit dan menyatakan pula bahwa kisah tersebut tidak benar dan bahwa Aidit tersebut tidak ada hubungan sama sekali dengan keluarga Al-Aidid, dan hanya kemiripan nama semata. Sekian.

Semoga Alloh SWT menjaga kita semua dari segala macam fitnah.

DEWAN PENGURUS PUSAT

RABITHAH ALAWIYAH

Ketua Umum

Zen Umar Smith

Sekretaris Umum,

Husin Alatas

D.N AIDIT BUKANLAH KETURUNAN ALAWIYYIN MARGA AL AIDID

D.N. AIDIT, GEMBONG PKI DAN SILSILAHNYA

Banyak dipersoalkan dan dipertanyakan apakah D.N. Aidit, Gembong PKI selaku salah satu dalang pemberontakan G 30 S PKI, yang telah mati tertembak karena melarikan diri saat hendak ditangkap oleh ABRI, apakah berhubungan dengan keturunan ALAWIYYIN marga AIDID ? Karena nama dan riwayat hidupnya tersohor baik di dalam dan di luar negeri dan telah diabadikan dalam kamus-kamus Ensiklopedia baik nasional dan Internasional, maka perlu kiranya dicari kebenarannya untuk jawaban tersebut diatas. Karena hal tersebut bukan saja akan menjelekkan nama baik Marga “AL-AIDID” semata-mata tetapi juga akan menjelekkan nama baik semua Marga Alawiyyin pada umumnya dimana seterusnya akan berdampak pula kenama baik Sayyidina Husein RA sebagai anak cucu Nabi Muhammad SAW. 

Maka berdsasarkan pertimbangan-pertimbangan dan analisa tersebut dibawah ini kiranya dapat dijadikan jawaban atas pertanyaan diatas :

1. D.N Aidit bukanlah anak cucu Alawiyyin , karena silsilah nasabnya tidak ditemukan dalam kitab pegangan yang dijadikan pedoman lembaga nasab yang ada di Indonesia.

2. Berdasarkan penuturan atau fatwa dari para sesepuh Alawiyyin diantaranya fatwa Al-Habib Muhammad bin Aqil bin Yahya yang bermukim di Palembang dan dari sumber-sumber media cetak yang terbit sekitar tahun 1960, kiranya akan menjadi sebuah jawaban atas jawaban atas pertanyaan diatas. Bahwa fatwa tersebut berbunyi :

“Bahwa telah berhijrah seorang pedagang Arab dari marga “Al-Aidid” ke kota Palembang Sumatra Selatan dan menikah dengan seorang janda penduduk setempat yang telah mempunyai seorang anak bernama Nuh. Dari sejak kecil Nuh menjadi anak angkat saudagar arab tersebut dan MENGANGGAP DIRINYA SEBAGAI MARGA AL-AIDID, karena adanya cara penulisan AIDID pada waktu itu yang berbeda, maka nama AIDID berubah menjadi AIDIT oleh bahasa setempat, jelasnya huruf D pada akhir kata AIDID diganti dengan huruf T, sehingga namanya menjadi NUH AIDIT. Setelah NUH AIDIT dewasa dia menikah, dan dari pernikahannya lahirlah seorang anak lak-laki yang bernama “JAKFAR”. Setelah Nuh dan istrinya meninggal dunia, JAKFAR BIN NUH dibawa ke Jakarta dan diasuh oleh keluarga pamannya (adik ibunya). Setelah Dewasa JAKFAR BIN NUH ini terpengaruh oleh ajaran-ajaran komunis, sehingga ia menjadi anggota Partai Komunis Indonesia. Selanjutnya ia mengganti namanya dengan DIPA NUSANTARA AIDIT yang kelak merupakan Gembong Komunis di Indonesia.

SUMBER : 

Muhammad Hasan Aidid, Petunjuk Monogram Silsilah Berikut Biografi Dan Arti Gelar Masing-Masing Leluhur Alawiyyin, Jakarta, Penerbit Amal Shaleh, 1999. Hlm 29 - 30

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama