Fikroh.com - Adalah sebuah nikmat yang patut disyukuri tatkala kita diberi kemudahan oleh Allah untuk bisa melaksanakan shalat tahajjud. Tahajud merupakan ibadah yang memiliki banyak sekali manfaat dan keutamaan seperti yang sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya. Untuk melengkapi pembahasan pada artikel yang lalu, selanjutnya akan kita pelajari tentang Beberapa Adab-adab dalam Qiyamul Lail.

Untuk dapat melaksanakan shalat tahajud dengan sempurna, perlu memperhatikan adab-adabnya. Lazimnya sebuah amalan, terlebih shalat tahajud, maka sangat penting diketahui dan dilaksanakan adab dan hal-hal yang menambah afdhaliyah (keutamaannya). Apa saja adab shalat tahajud yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW? Berikut ulasannya.

Adab-adab Shalat Tahajud

Adab yang dimaksud disini adalah cara mempersiapkan diri dengan perkara yang dapat membantu dan memudahkan bangun malam untuk tahajjud. Yang dapat dilakukan dengan beberapa upaya-upaya syar'i, di antaranya:

1. Tidur sejenak di siang hari, Jika memungkinkan

Meninggalkan begadang jika tidak ada keperluan syar'i. Dan telah dibahas sebelumnya tentang berbicara setelah waktu Isya' yang hukumnya makruh kecuali jika terdapat kepentingan syar'i.

Lebih diutamakan bagi yang merasa malas, yang condong kepada watak santai dan hidup mewah, agar tidak berlebihan di tempat tidur. Karena hal itu merupakan penyebab banyaknya tidur dan lalai, serta sibuk lalu berpaling dari kebaikan"[1]

Penulis berkata: Bahwa tempat tidur Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dari bahan kasar, sebagaimana dalam riwayat Umar bin Khattab radhiallahu 'anhuma :

دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُضْطَجِعٌ عَلَى حَصِيرٍ فَجَلَسْتُ فَأَدْنَى عَلَيْهِ إِزَارَهُ وَلَيْسَ عَلَيْهِ غَيْرُهُ وَإِذَا الْحَصِيرُ قَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبهِ

“Aku menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau sedang berbaring –miring– di atas tikar, lantas aku pun duduk. Sewaktu beliau membetulkan sarung, dan tidak ada kain lain di atas beliau, maka terlihat olehku bekas tikar di tubuh –bagian tulang rusuk– beliau,)

Juga dalam riwayat Aisyah radhiallahu 'anha ia berkata:

كَانَتْ وِسَادَتُهُ الَّتِي يَنَامُ عَلَيْهَا بِاللَّيْلِ مِنْ أَدَمٍ حَشْوُهَا لِيفٌ

“Sesungguhnya bantal milik Rasulullah yang beliau gunakan saat tidur di malam hari, terbuat dari kulit yang di dalamnya berisi tali ijuk (sabut)”

2. Saat ingin tidur, berniat di dalam hati akan mengerjakan shalat tahajjud.

Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Darda radhiallahu 'anhubahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ فَيُصَلِّيَ مِنْ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى يُصْبِحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ

“Siapa yang hendak tidur kemudian dia berniat akan bangun mengerjakan shalat tahajjud, tapi matanya tak mampu menahan kantuk hingga Subuh, maka ia telah mendapat pahala dari apa yang dia niatkan itu. Sedangkan tidurnya, itu merupakan sedekah (karunia) pemberian Tuhannya.”

3. Tidur dalam keadaan berwudhu’.

Telah disebutkan dalam bab wudhu’, bahwa hal ini merupakan ajaran dan petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

4. Tidur dengan posisi miring dan bertopang di atas tubuh bagian kanan.

Sebagaimana diriwayatkan dari Hafshah radhiallahu 'anha, berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ جَعَلَ كَفَّهُ الْيُمْنَى تَحْتَ خَدِّهِ الْأَيْمَنِ

“Sesungguhnya di saat tidur, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meletakkan telapak tangan kanan beliau di bawah pipi kanan”

Dan tidur dengan bertopang di atas bagian kanan tubuh seperti ini, merupakan fitrah manusia sebagaimana nanti akan dibahas dalam hadits Barra' bin 'Azib radhiallahu 'anhuma:

Catatan Tambahan:

Dalam posisi tidur Rasulullah seperti ini, di dalamnya terdapat suatu rahasia penuh hikmah yaitu; "Bahwa posisi hati di dalam tubuh terletak di sebelah kiri badan. Dan jika seseorang tidur bertopang di atas bagian kiri badannya, maka itu akan memberatkannya, karena hal tersebut tidak membuatnya nyaman beristirahat dan membuatnya terasa berat. Namun jika seseorang tidur bertopang di atas badannya sebelah kanan, maka dia akan cemas dan tidak bisa tidur nyanyak, karena hati yang terasa cemas, karena ia ingin berada dalam posisi telentang, dan karena itu disebabkan oleh posisinya yang miring. karena itu, para dokter menganjurkan untuk tidur di atas bagian tubuh sebelah kiri, karena itu dapat menciptakan istirahat sempurna dan tidut pun nyaman. Sedangkan Syariat menganjurkan untuk tidur di atas tubuh bagian kanan, hal tersebut agar tidak memberatkan tidurnya, sehingga ia mampu untuk bangun malam. Dengan demikian, tidur miring di atas bagian kanan badan itu lebih bermanfaat untuk hati, sedangkan tidur miring di atas bagian kiri badan itu lebih bermanfaat untuk tubuh. Wallahu A'lam.

5. Jika seseorang khawatir tidak akan bangun shalat tahajjud, hendaknya ia mengerjakan shalat witir sebelum tidur. 

Dan jika ternyata dia bangun, maka dia bisa langsung mengerjakan shalat tahajjud tanpa harus mengulangi shalat witirnya. Hal ini telah dibahas sebelumnya dalam bab "Shalat Witir"

6. Berdzikir dan mengingat Allah Subhanahu wata'ala saat tidur.

Dalam hal ini terdapat beberapa riwayat shahih tentang dzikir-dzikir tersebut. Di antaranya:

Hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata:

أنَّ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ إذا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرأَ فيهِما : [قُلْ هُوَ اللهُ أحَدٌ] ، وَ [قَلْ أعُوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ] ، وَ [قُلْ أعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ] ثُمَّ مَسَحَ بِهِما مَا استْطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَبْدَأُ بهما عَلَى رَأسِهِ وَوجْهِهِ ، وَمَا أقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila hendak tidur setiap malam, beliau merapatkan kedua telapak tangannya kemudian meniup ke dalamnya, lalu beliau membaca ke dalam kedua telapak tangannya itu "surat al-Ikhlash", "surat al-Falaq" dan "surat an-Nas". Kemudian beliau usapkan pada kedua telapak tangan tersebut ke seluruh tubuh yang dapat beliau jangkau, beliau mulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya, beliau lakukan hal ini sebanyak tiga kali”

Hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu saat melaporkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam seseorang yang mengambil harta zakat –seseorang tersebut adalah setan yang menyamar– namun setan tersebut mencegah Abu Hurairah seraya berkata:

دَعْنِي أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِنَّ، قُلْتُ: مَا هِيَ؟ -و كانوا أحرص شيء على الخير- قَالَ: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ [اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ] حَتَّى تَخْتِمَهاَ ، فَإِنَّهُ لاَ يَزَالُ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ... فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "صَدَقَكَ , وَ هُوَ كَذُوبٌ , ذَاكَ الشَّيْطَانُ

“Izinkan aku mengajarimu kata-kata yang membawa manfaat bagimu dari Allah. Abu Hurairah berkata, "Apa itu?" –dan Abu Hurairah termasuk dari orang-orang yang loba kebaikan (ilmu)– lalu orang itu berkata, "Jika kamu ingin bergi ke tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursi [Allahu La Ilaha Illa Huwal-Hayyul-Qayyum][1] hingga akhir ayat. Maka dengan itu kamu akan senantiasa dijaga oleh Allah, dan setan tidak akan mendekatimu hingga Subuh". … Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kamu benar, dan orang itu berbohong, dan sesungguhnya orang itu adalah setan").

Hadits riwayat Abu Mas'ud al-Anshari radhiallahu 'anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ الآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, maka itu sudah cukup baginya.”

Maksudnya, dengan membaca kedua ayat tersebut cukup untuk menangkal keburukan baginya. Dan ada yang mengatakan, dengan membaca dua ayat tersebut ia mendapatkan pahala shalat malam yang di dalamnya dibaca Al-Qur'an keseluruhan.

Hadits riwayat Naufal bin al-Asyja'iy radhiallahu 'anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya,

اِقْرَأْ قُلْ يأَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا ، فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ

“Bacalah surat al-Kafirun kemudian tidurlah di penghujung bacaannya. Karena sesungguhnya ayat itu membebaskan dari syirik”

Hadits riwayat Hudzaifah radhiallahu 'anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ : "بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا" وَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ : "الـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُور

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila hendak tidur, beliau berdoa

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

"Dengan Asma-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup" dan ketika bangun tidur beliau berdoa,

الـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُور

"Segala Puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah kita akan dibangkitkan kembali"

Hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ عَن فِرَاشِهِ ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهِ فَلْيَنْفُضْهُ بِصَنِفَةِ إِزَارِهِ] ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ بَعْدُ فَإِذَا اضْطَجَعَ فَلْيَقُلْ بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tempat tidurnya, kemudian ingin kembali lagi, hendaklah ia kibaskan tempat tidurnya dengan ujung kain sarungnya tiga kali. Karena ia tidak tahu apa yang terdapat di tempat tidurnya setelah ia bangun berdiri meninggalkannya. Dan saat ingin kembali tidur, hendaklah membaca doa:

بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

Dengan nama-Mu wahai Tuhanku, aku letakkan jasadku dan dengan nama Mu pula Engkau angkatkan ia (rohku). Jika rohku Engkau tahan, maka kasihanilah ia, dan jika rohku Engkau lepaskan, maka sudilah kiranya Engkau memeliharanya sebagaimana Engkau pelihara hamba-hamba-Mu yang saleh”

Hadits riwayat Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhuma ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya dan juga kepada Fatimah –saat mereka berdua meminta kepada Rasulullah seorang pembantu–

أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْ خَادِمٍ إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا ، فَسَبِّحَا ثَلاثًا وَثَلاثِينَ ، وَاحْمَدَا ثَلاثًا وَثَلاثِينَ ، وَكَبِّرَاثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَإِنَّهُ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

“Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari seorang pembantu? Yaitu bila kalian akan tidur maka bertasbihlah tigapuluh tiga kali, lalu bertahmid tigapuluh tiga kali, kemudian bertakbir tigapuluhtiga kali. Sesungguhnya itu lebih baik bagi kalian dari pada –memiliki– seorang pembantu”

Hadits riwayat Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma :

أنَّهُ أَمرَ رَجُلاً ، إذَا أَخَذَ مِضْجَعَهُ أَنْ يَقُوْلَ : اللَّهُمَّ أَنْتَ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَتَوَفَّاهَا ، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا ، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا ، وَإنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْألُكَ العَافِيَةَ قَالَ ابْنُ عُمَرَ ؛ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahwa ia memerintahkan seseorang jika hendak tidur untuk membaca doa, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menciptakan rohku dan Engkau pula yang akan mematikannya. Engkaulah yang memiliki kematian dan kehidupannya. Jika Engkau hendak menghidupkannya maka jagalah ia, namun jika Engkau hendak mencabutnya (mematikannya) maka ampunilah ia. Ya Allah sesungguhnya aku meminta ampunan dari-Mu" Ibnu Umar kemudian berkata, "Aku mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam"

Hadits riwayat Barra' bin 'Azib radhiallahu 'anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ، وَقُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَ رَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ، فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ

فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ فَقُلْتُ وَبِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ "لَا وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Jika engkau hendak tidur, berwudhu’lah seperti hendak shalat. Lalu tidurlah dengan posisi miring di atas bagian kanan badanmu. Lalu berdoalah, "Ya Allah, aku telah menyerahkan diriku kepada-Mu, kupasrahkan urusanku kepada-Mu, kusandarkan diriku (tawakkal) kepada-Mu, mengharap pahala-Mu dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung, dan tidak ada tempat lari –dari adzab-Mu– kecuali hanya kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan dengan Rasul-Mu yang telah Engkau utus." Dan jika setelah –membaca doa itu– engkau ditakdirkan mati, maka engkau mati dalam fitrah (tauhid). Dan jadikanlah doa itu akhir perkataanmu.”

“Lalu aku (Barra' bin 'Azib) berkata, "Aku akan mengucapkannya dengan lafadz "Wa Birasulikal-ladzi Arsalta" (Dan dengan Rasul-Mu yang telah Engkau utus). Lantas Nabi bersabda, "Tidak, tetapi ucapkanlah "Wa Nabiyyikal-ladzi Arsalta" (Dan dengan Nabi-Mu yang telah Engkau utus)."

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama