Fikroh.com - Zionis ‘Israel’ dan Uni Emirat Arab telah mencapai kesepakatan pada Kamis yang akan mengarah pada normalisasi hubungan diplomatik penuh antara kedua pihak dengan dukungan Presiden Donald Trump lapor Al Jazeera.

Di bawah kesepakatan itu, ‘Israel’ telah setuju untuk menangguhkan penerapan kedaulatan ke wilayah Palestina di Tepi Barat yang terjajah yang telah dibahas dalam rencana pencaplokannya.

Perbaikan hubungan itu adalah hasil dari diskusi panjang antara ‘Israel’, UEA, dan Amerika Serikat yang dipercepat baru-baru ini, kata pejabat Gedung Putih kepada kantor berita Reuters.

Kesepakatan itu terjadi setelah panggilan telepon pada Kamis antara Trump, Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu dan Sheikh Mohammed Bin Zayed, putra mahkota Abu Dhabi.

UEA menjadi negara Arab ketiga yang memiliki hubungan aktif dengan ‘Israel’ dan negara Teluk Arab pertama yang melakukannya.

“Terobosan diplomatik bersejarah ini akan memajukan perdamaian di kawasan Timur Tengah dan merupakan bukti diplomasi dan visi yang berani dari ketiga pemimpin dan keberanian Uni Emirat Arab dan ‘Israel’ untuk memetakan jalan baru yang akan membuka potensi besar di wilayah, “kata pernyataan itu.

Trump memuji perjanjian bersejarah itu sebagai langkah pertama, berbicara kepada wartawan di Ruang Oval pada hari Kamis.

“Sekarang es telah pecah, saya berharap lebih banyak negara Arab dan Muslim akan mengikuti Uni Emirat Arab,” katanya.

Namun langkah itu dikecam oleh pejabat senior Palestina Hanan Asrawi di twitter.

“Israel mendapat imbalan karena tidak menyatakan secara terbuka apa yang telah dilakukannya terhadap Palestina secara ilegal & terus-menerus sejak awal pendudukan,” tulis pejabat senior Palestina Hanan Ashrawi di Twitter. Dia juga mengatakan UEA telah maju dengan “kesepakatan/normalisasi rahasia dengan Israel.”

Hamas: UEA Menikam Orang Palestina dari Belakang

Hamas menuduh Uni Emirat Arab menikam orang-orang Palestina dari belakang dengan membuat kesepakatan normalisasi hubungan diplomatk dengan pemerintah Zionis Israel.

“Pengumuman ini adalah hadiah atas kejahatan penjajahan Israel. Normalisasi adalah penusukan dari belakang untuk orang-orang kami.” kata juru bicara Hamas Fawzi Barhoum dikutip dari Aljazeera pada Kamis (13/8/2020).

Dalam pernyataan yang berbeda, Juru bicara Hamas Hazem Qassem menegaskan bahwa perjanjian ini sama sekali tidak melayani kepentingan Palestina, melainkan melayani narasi Zionis.

“Perjanjian ini mendorong pendudukan [oleh Zionis ‘Israel’] untuk melanjutkan penyangkalannya terhadap hak-hak rakyat Palestina, dan bahkan melanjutkan kejahatannya terhadap rakyat kami,” tambah Hazem Qassem.

“Apa yang diperlukan untuk mendukung perjuangan sah rakyat kami melawan pendudukan adalah tidak membuat kesepakatan dengan penjajah ini. Yang diperlukan adalah melawan aneksasi apa pun yang akan kami hadapi dan mendukung perjuangan Palestina yang didukung oleh orang Arab dan internasional, dan bukan dengan menandatangani perjanjian normalisasi. dengan mereka [Israel].” pungkasnya. (*)

$ads={2}

Sumber: Hidayatullah

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama