Fikroh.com - Kemuliaan disisi Alloh tidak diukur dari harta maupun tahta. Namun orang mulia yang menjadi kekasih Alloh, bisa jadi adalah mereka yang miskin harta dan jauh dari popularitas. Namun hatinya bersih dari dosa dan hasrat duniawi. Doanya maqbul tak ada sekat antara dirinya dan Robbnya.

Dari Abu Hurayrah, Nabi (shallallahu ‘alayhi wa sallam) bersabda,

رب أشعث مدفوع بالأبواب لو أقسم على الله لأبره

“Berapa banyak orang yang rambutnya kusut dan tertolak di pintu-pintu (manusia), namun sekiranya ia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah pun mengabulkannya.” [HR Muslim dalam Shahih-nya, no. 2622.]

Dalam syarahnya pada bab Fadhl al-Dhu’afa` wa al-Khamilin (Keutamaan Kalangan Duafa dan Tersembunyi), Imam al-Nawawi menjelaskan hadits tersebut, “Maknanya, sekiranya orang itu bersumpah untuk terjadinya sesuatu maka Allah pun merealisasikannya, sebagai bentuk pemuliaan terhadap orang tersebut dengan mengabulkan permintaannya dan juga untuk menjaganya agar tidak menyelisihi sumpahnya. Hal tersebut karena tingginya kedudukan orang itu di sisi Allah, meskipun ia hina dalam pandangan manusia. Dijelaskan pula bahwa makna ‘sumpah’ di sini maksudnya adalah ‘doa’.” [Syarh Shahih Muslim, vol. XVI, hlm. 174.]

Orang-orang yang dimaksud dalam hadis di atas adalah para Wali Allah dari kalangan duafa, tersembunyi dan jauh dari popularitas, sebagaimana dijelaskan oleh al-Munawi [dalam Faydh al-Qadir, vol. V, hlm. 48]. Pengabulan doa mereka diperlukan oleh masyarakat, khususnya pada saat terjadi musibah dan bencana, sebagaimana sebagian kisah yang terjadi di era Salaf.

Muhammad bin al-Munkadir, seorang tokoh generasi Tabiin (w. 130 H, rahimahullah), bertutur:

“Ada sebuah tiang di masjid Nabawi yang biasanya saya pakai untuk menghadapnya di dalam shalat dan juga untuk duduk bersandar. Ketika itu penduduk Madinah sedang dilanda kemarau panjang. Mereka sudah keluar melakukan salat Istisqa'. namun hujan belum juga turun.

Pada suatu malam, saya beristirahat sambil bersandar pada tiang tersebut seusai mengerjakan salat Isya di masjid Nabawi. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki berkulit hitam yang mengenakan jubah dan syal di lehernya. Ia maju menghadap tiang di bagian depan, sementara saya (tersembunyi) di balik tiang di belakangnya. Orang itu selanjutnya mengerjakan salat dua rakaat, kemudian ia duduk dan berdoa:

أي رب خرج أهل حرم نبيك يستسقون فلم تسقهم، فأنا أقسم عليك لما سقيتهم

Duhai Rabbku, penduduk kota Nabi-Mu telah keluar untuk meminta hujan kepada-MU namun Engkau belum jua menurunkan hujan kepada mereka, maka aku bersumpah atas nama-Mu agar kiranya Engkau menurunkan hujan kepada mereka.’

Saya pun bergumam, ‘Orang ini gila.’

Namun, belum sampai ia menurunkan tangannya, tiba-tiba terdengarlah suara halilintar, kemudian diikuti dengan turunnya air hujan dari langit. Ketika mendengar suara hujan, ia pun memuji Allah dengan berbagai pujian yang belum pernah saya dengar yang semisalnya, lalu ia berkata:

ومن أنا وما أنا حيث استجبت لي، ولكن عذت بحمدك وعذت بطولك

‘Siapa aku, apa kedudukanku, sehingga Engkau mengabulkan doaku… Namun aku berlindung kepada-MU dengan memuji-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dengan karunia-Mu.’

Lelaki itu kemudian mengerjakan salat, hingga menjelang waktu Subuh, maka ia pun mengerjakan salat Witir. Ketika masuk waktu Subuh, ia pun mengerjakan salat sunah Fajar, lalu ia pun salat shubuh berjamaah bersama orang-orang lainnya, termasuk saya.”

Demikian kurang lebih penuturan Muhammad bin al-Munkadir.

Selanjutnya, Muhammad bin al-Munkadir berusaha mengikuti dan mengetahui identitas orang tersebut. Tak lama kemudian upaya itu berhasil. Ketika perbuatan dan identitasnya diketahui oleh Muhammad bin al-Munkadir, orang itu pun pergi menghilang dengan meninggalkan kediamannya. Muhammad bin al-Munkadir kembali berupaya mencarinya, namun ternyata sudah tidak bisa menemukannya.

[Lihat: Shifah al-Shafwah, vol. I, hlm. 403-404 dan Ayna Nahnu min Akhlaq al-Salaf, hlm. 24-26.]

Terdapat kisah yang mirip dengan itu namun lebih mengagumkan, yang dituturkan oleh tokoh Salaf lainnya, ‘Abdullah bin al-Mubarak (w. 181 H, rahimahulllah). Namun kisahnya terjadi di Makkah. Di dalam Shifah al-Shafwah, Ibn al-Jawzi juga mencantumkan kisah tersebut pada bab yang berjudul: Dzikr al-Mushtafin min ‘Ubbad Kanu bi Makkah lam Tu’raf Asma`uhum (Penyebutan Orang-orang Pilihan dari Kalangan Ahli Ibadah di Makkah yang Tidak Diketahui Nama-nama Mereka).

Kisahnya sebagai berikut:

Ketika itu, penduduk Makkah mengalami krisis kemarau. Mereka sudah melaksanakan salat Istisqa` namun hujan belum jua turun.

Pada suatu malam, ‘Abdullah bin al-Mubarak melihat sosok berkulit hitam dan berpenyakitan berdoa di dalam masjid al-Haram, 

اللهم إنهم قد دعوك فلم تجبهم وإني أقسم عليك أن تسقينا

‘Ya Allah, mereka telah memohon kepada-Mu namun belum Engkau kabulkan. Dan aku bersumpah atas nama-Mu agar kiranya Engkau menurunkan hujan kepada kami.’

Seusai ucapannya, hujan pun turun.

‘Abdullah bin al-Mubarak pun takjub dengan peristiwa tersebut dan selanjutnya menyelidiki identitas orang tersebut. Ternyata ia adalah seorang budak remaja yang berpenyakitan. ‘Abdullah bin al-Mubarak pun membelinya dari pemiliknya dengan harga 14 dinar dan kemudian membebaskannya. Ketika mengetahui kisah di balik pembeliannya dan identitasnya terbongkar, orang tersebut lantas berdoa,

اللهم إذ شهرتني فاقبضني إليك

“Ya Allah, Engkau telah menjadikan aku terkenal maka wafatkanlah aku.”

Orang itu pun wafat seketika itu. ‘Abdullah bin al-Mubarak dan penduduk Makkah pun berduka dengan kematiannya. [Lihat: Shifah al-Shafwah, vol. I, hlm. 444.]

Betapa butuhnya kita terhadap sosok-sosok orang saleh dari kalangan duafa semacam itu. Yang dengan doa mereka, semoga Allah Ta’ala berkenan segera mengangkat krisis pandemi yang saat ini menimpa kita…


Adni Abu Faris

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama