Fikroh.com - Kata “الغسْلِ” jika huruf  ‘ghoinnya’ dibaca dhommah "Ghusl", maka artinya ‘الِاغْتِسَالُ’ yakni mashdar (kata kerja yang dibendakan) dari perbuatan mandi. 

Jika dibaca dengan memfathahkan huruf  ‘ghoinnya’ "ghosl", maka artinya adalah perbuatan mandi. 

Adapun jika dikasrahkan huruf ‘ghoinnya’ "ghisl", maka bermakna sesuatu yang digunakan bersama air. 

Demikian penjelasan Imam Shon’ani dalam kitab “Subulus Salam”.

Adapun secara istilah adalah didefinisikan oleh Syaikh Sayyid Sabiq dalam “Fiqhus Sunnah” :

تعميم البدن بالماء

“Mengguyurkan air keseluruh tubuh”.

Sebenarnya mandi itu sendiri telah kita ketahui dan telah kita lakukan sehari-hari. Dan yang dimaksud mandi disini adalah mandi dalam rangka beribadah, oleh karenanya Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya "syarah mumti’" telah mengingatkan kepada kita semua untuk menambahkan setiap definisi dalam masalah ibadah seperti bersuci, sholat, puasa dan selainnya dengan menambahkan kata “dalam rangka beribadah kepada Allah”. Karena jika itu mandi saja tanpa ada niat untuk beribadah, maka tidak akan mendapatkan pahala, karena itu adalah perbuatan mubah. Namun jika kita niatkan mandi tersebut dalam rangka beribadah kepada Allah, agar menghadap Allah dalam keadaan bersih, maka akan mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

Pembahasan mandi dalam kitab para ulama yang membahas masalah fikih, maka yang dimaksud adalah mandi yang disyariatkan, bisa jadi hukumnya wajib atau sunnah. Maka untuk mandi seperti ini, dipersyaratkan adanya niat.

Hal-hal Yang Mewajibkan Mandi

1. Keluar mani yang memancar diiringi kenikmatan, ini adalah kondisi yang disepakati oleh para ulama yang mengharuskan mandi.

2. Bertemunya dua khitan, sekalipun tidak keluar mani. Ini disepakati oleh 4 mazhab.

3. Jika seorang Muslim meninggal dunia, tidak dalam kondisi mati syahid di medan jihad fî sabilillah. Ini adalah mazhabnya jumhur ulama, kecuali al-Imam Malik bin Anas rahimahullah, hanya menganjurkannya saja. Diantara dalil jumhur adalah hadits Ummu 'Athiyyah radhiyallahu anhâ dalam Shahihain yang berkata :

تُوُفِّيَتْ إِحْدَى بَنَاتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ فَقَالَ : " اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ

"Salah satu anak perempuan Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat, lalu Beliau keluar dan berkata : "kalian (para wanita) mandikanlah ia tiga kali, atau lima kali atau lebih banyak dari itu, jika kalian memandangnya lebih bagus....".

Disini ada perintah Nabi dan hukum asal perintah adalah wajib. Ini dari sisi mayitnya adapun dari sisi yang memandikannya maka hukumnya fardhu kifayah, sebagaimana pengurusan jenazah lainnya.

4. Mandi haidh bagi wanita, ini adalah disepakati oleh para ulama.

5. Mandi nifas setelah wanita melahirkan, ini juga disepakati oleh para ulama.

Mengambil faedah dari kitab "Maushû'ah Ahkâm ath-Thahârah", karya asy-Syaikh Abu Umar Dubyân hafizhahullah.

Tatacara Mandi

Mandi yang disyariatkan ada dua macam, yaitu : yang sempurna dan yang minimalis.

1. Mandi yang sempurna

  • Pertama membasuh kedua telapak tangannya.
  • membersihkan kemaluannya.
  • berwudhu seperti wudhu untuk sholat.
  • mengguyurkan air ke kepalanya sebanyak tiga kali.
  • lalu mengguyurkan air ke seluruh badannya.
  • memulai bagian tubuh sebelah kanan, baru sebelah kirinya, ini yang lebih utama.
  • menggosok-gosokkan tangan ke seluruh badannya bersamaan dengan mengguyurkan air, berdasarkan perselisihan pendapat yang ma'ruf, apakah ini wajib sebagaimana dikatakan oleh mayoritas ulama Malikiyyah atau tidak?.

Kesimpulannya, jika ia menggosok-gosokkan sambil mengguyurkan air ke badannya, tidak ragu lagi ini lebih utama dan lebih berhati-hati, namun jika sekedar mengguyurkan air tanpa digosok-gosok, maka ini sudah mencukupi.

2. Mandi yang sederhana

Yaitu mengguyurkan badan ke seluruh tubuhnya.

Faedah dari Ma'âliy Syaikh DR. Abdul Karîm al-Khudhoir hafizhahullah -anggota lajnah Daimah, KSA-.

Tambahan :

Al-Imam Syafi’i rahimahullah dalam “al-Umm” (1/56, Daarul Ma’rifah) :

فَكَانَ فَرْضُ اللَّهِ الْغُسْلَ مُطْلَقًا لَمْ يَذْكُرْ فِيهِ شَيْئًا يَبْدَأُ بِهِ قَبْلَ شَيْءٍ فَإِذَا جَاءَ الْمُغْتَسِلُ بِالْغُسْلِ أَجْزَأَهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ كَيْفَمَا جَاءَ بِهِ وَكَذَلِكَ لَا وَقْتَ فِي الْمَاءِ فِي الْغُسْلِ إلَّا أَنْ يَأْتِيَ بِغُسْلِ جَمِيعِ بَدَنِهِ

“Allah mewajibkan mandi secara mutlak dan tidak menyebutkan sedikitpun sesuatu untuk memulainya, jika seorang yang mandi telah mandi, maka hal itu telah mencukupi –wallahu A’lam-, bagaimanapun cara ia mandi. Demikian juga tidak ada waktu lama air tersebut yang digunakan untuk mandi, melainkan cukup untuk mencuci seluruh badannya”. -selesai-.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah dalam “al-Istidzkaar” (1/260) menukil adanya ijma atas sahnya mandi minimalis ini, kata beliau :

فإن لم يتوضأ المغتسل للجنابة قبل الغسل ولكنه عم جسده ورأسه ويديه وجميع بدنه بالغسل بالماء وأسبغ ذلك فقد أدى ما عليه إذا قصد الغسل ونواه لأن الله تعالى إنما افترض على الجنب الغسل دون الوضوء بقوله ( ولا جنبا إلا عابري سبيل حتى تغتسلوا ) النساء 43 وقوله ( وإن كنتم جنبا فاطهروا ) المائدة 6  وهذا إجماع من العلماء لا خلاف بينهم فيه والحمد لله إلا أنهم مجمعون أيضا على استحباب الوضوء قبل الغسل للجنب تأسيا برسول الله صلى الله عليه و سلم

“jika orang yang mandi junub tidak berwudhu sebelum mandi, namun hanya mengguyurkan air keseluruh tubuh, kedua tangan dan seluruh badannya, lalu menyempurnakan mandinya tersebut, maka ia telah dianggap menunaikannya, jika memang ia meniatkan dan memaksudkan mandinya untuk janabah, karena Allah Subhanahu wa Ta’alaa hanyalah mewajibkan orang yang junub untuk mandi, tanpa berwudhu, sebagaimana firman-Nya : “(jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi” (QS. An Nisaa’ : 43) dan Firman-Nya : “dan jika kamu junub maka mandilah” (QS. Al Maidah : 6).

Ini adalah ijma ulama  yang tidak ada perselisihan diantara mereka dan Alhamdulillah mereka juga bersepakat disunahkannya wudhu sebelum mandi junub dalam rangka meneladani Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam." -selesai-.

Oleh: Abu Sa'id Neno Triyono

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama