Fikroh.com - Jika anda pernah hidup di tahun 80 - an, ada lagu yang sangat populer dimana potongan liriknya berbunyi:

“Mengaku Bujangan Kepada Tiap Wanita, Ternyata Cucunya Segudang”

Nah, dalam kehidupan keseharian kita, barangkali kita pernah mendengar teman kita atau saudara kita atau keluarga kita atau family kita yang berseloroh “kalau disini saya jomblo alias bujangan”.

Pertanyaannya, apakah 'guyonan' semacam ini memiliki dampak serius dalam hubungan pernikahan yaitu jatuh thalaq alias cerai?

Para Fuqaha Syafiiyyah (madzhab Imam Asy-Syafii) sudah membahas hal ini dalam kitab-kitab mereka.

Sebagai contoh misalnya di dalam Kitab Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imam Asy Syafii juz 3 halaman 11 dijelaskan :

وإن قال له رجل ألك زوجة فقال لا فإن لم ينو به الطلاق لم تطلق لأنه ليس بصريح وإن نوى به الطلاق وقع لأنه يحتمل الطلاق.

“Dan jika ada seseorang yang berkata padanya : ‘apakah engkau memiliki istri?’, kemudian dia menjawab : ‘tidak’, maka jika dia tidak meniatkan thalaq, istrinya tidak ter-thalaq, karena bukan thalaq yang sharih (jelas/tegas), dan jika dia meniatkan thalaq ketika mengucapkan itu, maka jatuhlah thalaq, karena hal tersebut mengandung thalaq.”

Ibarat diatas sama persis dengan ibarat dibawah ini yakni dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab juz 17 halaman 102.

وان قال له رجل: ألك زوجة؟ فقال لا، فإن لم ينو به الطلاق لم تطلق، لانه ليس بصريح، وان نوى به الطلاق وقع لانه يحتمل الطلاق.

“Dan jika ada seseorang yang berkata padanya: ‘Apakah engkau memiliki istri?’, kemudian dia menjawab: ‘Tidak’, maka jika dia tidak meniatkan thalaq, istrinya tidak terthalaq, karena bukan thalaq yang sharih (jelas/tegas), dan jika dia meniatkan thalaq ketika mengucapkan itu, maka jatuhlah thalaq, karena hal tersebut mengandung thalaq.”

Tentu ini tidak aneh karena Kitab Al-Majmu’ini adalah syarah dari Kitab Al-Muhadzdzab.

Namun ternyata Fuqaha Syafiiyyah tidak satu suara terkait pembahasan ini, misalnya di dalam Kitab Mughnil Muhtaj juz 4 halaman 528 dijelaskan sebagai berikut:

ولو قيل له ألك زوجة، فقال: لا لم تطلق وإن نوى؛ لأنه كذب محض، وهذا ما نقله في أصل الروضة عن نص الإملاء، وقطع به كثير من الأصحاب. ثم ذكر تفقها ما حاصله أنه كناية على الأصح

“Dan kalau dikatakan kepada seseorang: Apakah kamu memiliki istri?, dia menjawab : Tidak, maka istri tidak terthalaq meskipun suaminya meniatkan thalaq, karena hal tersebut adalah suatu kedustaan yang jelas. Ini dinukil dalam Ar Raudhah dari nash Al-Imla’. Dan kebanyakan ashab Syafiiyyah menyatakan demikian. Kemudian disebutkan secara tafaqquhan bahwa yang terjadi itu adalah kinayah berdasarkan pendapat yang ashoh (الأصح).”

Senada dengan ibarat diatas, dalam kitab An-Najmu Al-Wahhaj fii Syarhil Minhaj juz 7 halaman 586 dijelaskan :

قيل له: ألك زوجة؟ فقال: لا … لم يقع به طلاق وإن نوى؛ لأنه كذب محض.

“Dikatakan kepadanya: Apakah kamu memiliki istri?, dia menjawab : Tidak, tidak jatuh thalaq meskipun dia meniatkan thalaq, karena hal itu adalah kedustaan yang nyata.”

Demikianlah, meskipun terdapat perbedaan pendapat Fuqaha Syafiiyyah dalam hal ini, yakni apakah jatuh thalaq atau tidak jatuh thalaq, selayaknya kita sebagai seorang suami tidak bermain-main dalam hal mengaku bujangan atau belum punya istri.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama