Puasa 'Asyura, Hukum dan Keutamaannya

Fikroh.com - Salah satu puasa sunnah yang memiliki fadhilah besar adalah puasa Syura atau 'asyura. Asyura adalah hari pada tanggal 10 bulan Muharram. Pada hari ini disyariatkan bagi kaum Muslimin untuk berpuasa. Puasa Asyura telah dikerjakan oleh bangsa Arab pada masa jahiliyyah dulu. Aisyah Rodhiyallahu anha bercerita :

أَنَّ قُرَيْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِصِيَامِهِ حَتَّى فُرِضَ رَمَضَانُ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْهُ ، وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ »

“Orang quraisy sudah berpuasa hari Asyura pada zaman jahiliyah dahulu, lalu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam memerintahkan (kaum Muslimin) berpuasa pada hari Asyura, hingga diwajibkannya puasa Ramadhan. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “Barangsiapa yang berkehendak silakan berpuasa (Asyura), barangsiapa yang mau tidak usah berpuasa”. (Muttafaqun ‘Alaih).

Bahkan orang-orang Yahudi juga melestarikan puasa pada hari ini. Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu anhuma menuturkan :

قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ ، فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَقَالَ « مَا هَذَا » . قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِى إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ ، فَصَامَهُ مُوسَى . قَالَ « فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam datang ke Madinah, lalu melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bertanya : “mengapa kalian berpuasa hari ini?”, mereka (orang-orang Yahudi) menjawab : ‘ini adalah hari baik, pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Isroil dari musuh mereka, maka Musa alaihi salaam pun berpuasa karenanya’. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam menanggapi : “saya lebih berhak terhadap Musa dibandingkan kalian”. Maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pun berpuasa dan memerintahkan (kaum Muslimin) berpuasa pada hari itu”. (muttafaqun ‘Alaih).

Abu Musa Rodhiyallahu anhu mengatakan dengan versi lain :

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَعُدُّهُ الْيَهُودُ عِيدًا ، قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « فَصُومُوهُ أَنْتُمْ »

“Hari Asyura dianggap orang Yahudi sebagai hari raya, Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “Puasalah kalian pada hari Asyura”. (Muttafaqun ‘Alaih).

Tidak hanya kaum Musyirikin dan orang-orang Yahudi yang melestarikan puasa pada hari ini, orang-orang Kristen pun melaksanakan puasa pada hari ini juga.  Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu anhu berkata :

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

“Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata : ‘wahai Rasullah ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani”. (HR. Muslim).

Sebelum datangnya kewajiban puasa Ramadhan, maka puasa Asyura ini hukumnya wajib, namun setelah diwajibkan puasa Ramadhan, maka puasa ini  hukumnya menjadi sunnah saja. Aisyah Rodhiyallahu anha berkata :

كَانَ عَاشُورَاءُ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ لاَ يَصُومُهُ

“Asyura adalah hari yang orang Quraisy pada zaman jahiliyah berpuasa padanya dan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pun berpuasa, ketika Beliau datang ke Madinah, Beliau tetap berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu. Namun ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, maka barangsiapa yang berkehendak silakan berpuasa dan barangsiapa yang mau silakan tidak berpuasa”. (Muttafaqun ‘Alaih).

Keutamaan puasa Asyura

Puasa hari Asyura memiliki keutamaan bagi yang mengerjakannya, sehingga selayaknya bagi kaum muslimin yang mampu untuk tidak meninggalkan puasa pada hari ini. Berikut beberapa keutamaan berpuasa pada hari Asyura :

1. Allah menyelamatkan kaum nabi Musa alaihi salaam dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya, sehingga karena hal inilah Nabi Musa alaihi salaam berpuasa dalam rangka bersyukur terhadap nikmat Allah. Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu anhu berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Bahwa Rasullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam datang ke Madinah, Beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam berkata kepada mereka : “mengapa kalian berpuasa pada hari ini?”, mereka menjawab : ‘ini hari agung, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya, maka Nabi Musa alaihi salaam berpuasa dalam rangka bersyukar, sehingga kamipun ikut berpuasa’. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “kami lebih berhak dan lebih utama kepada Musa dibandingkan kalian”. Maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pun berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari Asyura”. (Lafadz HR. Muslim).

2. Puasa Asyura dapat menghapus dosa pada tahun yang lalu.

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ »

“Nabi ditanya tentang puasa Asyura, maka Beliau Sholallahu ‘alaihi wa Salaam menjawab : “ia dapat menghapuskan dosa pada tahun yang lalu”. (HR. Muslim).

3. Ini adalah hari yang diutamakan oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhumaa berkata :

أن النبي صلى الله عليه و سلم لم يكن يتوخى فضل يوم على يوم بعد رمضان إلا عاشوراء

“Bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam tidak pernah sengaja mengutamakan suatu hari atas hari lainnya selain bulan Ramadhan, kecuali khusus hari Asyura.” (HR. Thabrani, dihasankan oleh Imam Al Albani).

Mengikutkan puasa pada hari ke-9 Muharram dalam Puasa Asyura

Untuk menyelisihi ritual puasa Asyura yang dilakukan oleh orang Yahudi dan Nasrani, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam mensyariatkan bagi umatnya untuk berpuasa juga sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal 9 Muharram. Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu berkata :

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ». قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata : ‘wahai Rasullah ini adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani”. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pun menanggapi : “tahun depan nanti –Insya Allah- kita berpuasa pada hari ke-9”. Namun Rasullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam keburu wafat sebelum melaksanakannya pada tahun depannya”. (HR. Muslim).

Mengikutkan puasa pada hari ke-11 Muharram dalam Puasa Asyura

diriwayatkan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

ﺻُﻮﻣُﻮﺍ ﻳَﻮْﻡَ ﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ، ﻭَﺧَﺎﻟِﻔُﻮﺍ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩَ، ﺻُﻮﻣُﻮﺍ ﻗَﺒْﻠَﻪُ ﻳَﻮْﻣًﺎ، ﺃَﻭْ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻳَﻮْﻣًﺎ

“Berpuasalah pada hari Asyura dan selisihilah Yahudi, berpuasalah satu hari sebelumnya atau satu hari setelahnya”. (HR. Ahmad dan selainnya).

Syaikh Syu’aib Arnauth ketika mentahqiq Musnad Ahmad berkata :

ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺿﻌﻴﻒ، ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻟﻴﻠﻰ - ﻭﺍﺳﻤﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ - ﺳﻴﻰﺀ ﺍﻟﺤﻔﻆ، ﻭﺩﺍﻭﺩ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ - ﻭﻫﻮ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺍﻟﻬﺎﺷﻤﻲ - ﺭﻭﻯ ﻋﻨﻪ ﺟﻤﻊ، ﻭﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻓﻲ “ ﺍﻟﺜﻘﺎﺕ ” ، ﻭﻗﺎﻝ : ﻳﺨﻄﻰﺀ، ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻹِﻣﺎﻡ ﺍﻟﺬﻫﺒﻲ : ﻭﻟﻴﺲ ﺣﺪﻳﺜﻪ ﺑﺤﺠﺔ

“sanadnya dhoif, Ibnu Abi Laila –namanya Muhammad bin Abdur Rokhman- jelek hapalannya dan Dawud bin Ali –ibnu Abdiilah bin Abbas Al Hatsimiy-diriwayatkan oleh jamaah, Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-tsiqot dan berkata : ‘ia keliru’. Imam Adz-Dzahabi berkata : ‘haditsnya bukan hujjah’”.

Dalam riwayat lain, lafazh "au" diganti dengan "wawu" sehingga maknanya berpuasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram, namun sanadnya juga dhoif. Akan tetapi mengingat anjuran untuk berpuasa pada bulan muharam satu bulan penuh, maka puasa selama 3 hari tersebut masuk kedalam cakupan anjuran tersebut, oleh karenanya, sebagian ulama seperti Syaikhul Islam Ibnul Qayyim dan Al Hafizh Ibnu Hajar dan selainnya rahimahumullah merekomendasikan yang paling bagus adalah puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharam, kemudian tingkat dibawahnya puasa 9 dan 10 Muharam dan dibawahnya lagi puasa hanya 10 Muharam saja. Asy-Syaikh Muhammad Shâlih al-Munajid menukil dari Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah yang berpendapat puasa tanggal 10 Muharam saja tidaklah makruh hukumnya :

قال المرداوي في "الإنصاف" (3/346) : "لا يكره إفراد العاشر بالصيام على الصحيح من المذهب ، ووافق الشيخ تقي الدين [ابن تيمية] أنه لا يكره"

"Al-Mardâwiy rahimahullah dalam "al-Inshâf" (III/346) berkata : "tidak dimakruhkan menyendirikan tanggal 10 untuk berpuasa menurut pendapat yang shahih dalam mazhab, syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah sepakat pendapatnya tidak makruh." -selesai-.


Abu Sa'id Neno Triyono

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama