Fikroh.com - Selasa kemarin terjadi insiden tragis di Pelabuhan Beirut di mana ledakan besar kembali terjadi di Lebanon setelah insiden ledakan bom TNT yang membunuh mantan Perdana Menteri Rafik al-Hariri pada 14 Februari 2005 silam.

Hasil investigasi insiden yang menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai empat ribu lainnya, diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun.

Para pakar politik mulai berbicara bahwa bencana di Pelabuhan Beirut ini akan menjadi titik balik penting dalam sejarah Lebanon dan akan menyebabkan kerusakan berbahaya di Timur Tengah.

Sejauh ini ledakan tersebut nampak seperti sebuah kejadian yang tak disengaja atau kebetulan saja.

Namun jika ditinjau dari segi dampaknya dan konsekuensinya, insiden itu mengarah pada sebuah "langkah strategis” mengingat Lebanon disorot sebagai wilayah konflik kekuatan-kekuatan regional dan mengalami masalah ekonomi belakangan ini.

Ledakan yang menghancurkan 70 persen kegiatan dari impor dan ekspor di pelabuhan strategis itu diperkirakan juga akan merusak berbagai kerja sama politik.

Tak ada bukti nyata bahwa ledakan seperti itu terjadi akibat intervensi langsung dari luar.

Namun krisis ekonomi yang melanda Lebanon dalam beberapa bulan terakhir, keterlibatan langsung Hizbullah di Suriah, dukungan Iran untuk Hizbullah dan perkembangan negara itu dengan Israel di perbatasan dalam beberapa minggu terakhir, memperkeruh keadaan di kawasan yang tak kunjung stabil.

Para pakar pun mulai meramalkan siapa aktor dibalik aksi protes anti-pemerintah, pembunuhan politik dan ledakan besar terakhir ini, namun mereka juga sulit untuk mengungkapkan secara objektif terkait serangan tersebut dengan data yang ada sekarang.

Negara yang diuntungkan dari ledakan di tengah krisis politik Lebanon

Pada 3 Agustus, sehari sebelum ledakan, Menteri Luar Negeri Lebanon Menteri Luar Negeri Lebanon Nassif Hitti mengajukan pengunduran dirinya kepada Perdana Menteri Hassan Diab.

Hizbullah diketahui berpengaruh dalam pemerintahan Lebanon saat ini.

Pada 7 Agustus mendatang, Pengadilan Swasta Internasional Lebanon akan mengumumkan hasil kasus pembunuhan berencana terhadap Rafik Hariri pada 14 Februari 2005 silam.

Menurut beberapa pihak, pengadilan akan mengumumkan kepada dunia bahwa "Hizbullah telah membunuh Rafik Hariri".

Dalam review yang diterbitkan di pusat penelitian Al-Marsad Al-Masry yang berbasis di Mesir, peneliti politik Mesir Dr. Muhammed Mujahid al-Zayyad mengungkapkan bahwa perkembangan sebelum ledakan di Beirut mengarah kepada Hizbullah.

Dalam artikelnya yang berjudul "Operasi intelijen yang bersih dan bertujuan untuk memperburuk situasi internal", Zayyad memperkirakan bahwa Israel akan menjadi negara yang paling mengambil keuntungan dari ledakan ini.

Menggarisbawahi bahwa Hizbullah akan lebih ditekan di Lebanon setelah ledakan itu dan Nasrallah akan semakin mengalami kesulitan di arena internasional, Zayyad berpendapat bahwa Saad al-Hariri juga menjadi sasaran dalam serangan itu.

Terbuka peluang bagi AS untuk aktif di Lebanon.

Beberapa pengamat memperkirakan bahwa perkembangan pahit dan krisis politik di Lebanon akan menjauhkan negara itu dari Iran dan keadaan tersebut membawa Lebanon lebih dekat ke Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya pemerintah Prancis mendesak Washington untuk campur tangan terhadap Lebanon, tetapi pemerintahan Donald Trump tak setuju dengan langkah itu, sehingga para pakar pun menganggap ledakan itu menawarkan peluang kepada AS untuk menjadi lebih aktif di negara itu.

Para pakar sepakat bahwa Hizbullah akan menjadi pihak yang paling dirugikan dalam periode mendatang di Lebanon. Mereka juga memperkirakan dukungan politik domestik terhadap Saad al-Hariri akan meningkat.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama