Fikroh.com - Kajian fikih kali ini akan membahas tentang Tata Cara Memandikan Mayit atau jenazah yang benar berdasarkan dalil-dalil syar'i yang telah di kaji oleh para ulama sehingga memudahkan kita dalam memahaminya. Dan berikut ini penjelasan selengkapnya

Salah satu rujukan dalam masalah memandikan janazah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Athiyyah. Hadits ini menjadi hujjah yang kuat karena ia menyaksikan dan memandikan putri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kemudian menceritakan dengan yakin, karena itu para sahabat dan tabi’in dari kota Bashrah mengambil metode darinya dalam memandikan mayit, begitu juga diikuti oleh para imam.

Diriwayatkan dari Ummu Athiyyah Al Anshariyyah radhiallahu 'anha mengatakan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menghampiri kami yang sedang memandikan putrinya (Zainab). Beliau bersabda:

اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ بِمَاءٍ , وَسِدْرٍ وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا ، فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي ، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ فَأَلْقَى إِلَيْنَا حِقْوَهُ[1] , فَقَالَ : أَشْعِرْنَهَا[2] إِيَّاهُ و فى لفظ : إغسلنها وترا و فيه : ثلاثا أو خمسا أو سبعا و فيه : إبدأن بميامنها و مواضع الوضوء منها و فيه أن أم العطيه قالت : ومشطناها ثلاثة قرون.

“Mandikanlah ia tiga kali, lima kali atau lebih dengan air yang di campur daun bidara dan pada siraman terakhir dengan air yang di campur kapur barus. Apabila telah selesai beritahukanlah kepadaku. Ketika selesai kami pun memberitahu beliau. Dan beliaupun melemparkan kainnya kepada kami dan berkata, “Pakaikanlah ia dengan kain itu”.

Dalam redaksi lain, “Mandikanlah dengan bilangan ganjil, tiga kali, lima kali atau tujuh kali”.Dalam redaksi lain, “Mulailah dengan bagian sebelah kanan mayit dan anggota wudhu”. Ummu Athiyyah mengatakan, “Kami menyisir dan mengepangnya dengan tiga kepang”.[3]

Kesimpulan dari hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Athiyyah dan lainnya bahwa tata cara memandikan mayit menurut ulama adalah sebagai berikut:

1. Melepaskan semua pakaian mayit kemudian menutupi auratnya dengan penutup.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu 'anha mengatakan dalam kisah wafatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tatkala para sahabat hendak memandikan jasad beliau mereka berkata:

وَاللَّهِ مَا نَدْرِي ، أَنُجَرِّدُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ثِيَابِهِ كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا ، أَمْ نَغْسِلُهُ وَعَلَيْهِ ثِيَابُهُ

“Demi Allah kami tidak tahu apkah kami harus melepaskan pakaian beliau seperti halnya melepaskan pakaian jenazah lainnya ataukah kami memandikannya dalam keadaan beliau berpakaian.”

Seperti penjelasan pada bab melepaskan pakaian mayit. Alangkah baiknya menutupi aurat dengan kain penutup, sebagaimana sabda Rasululah Shallallahu 'alaihi wasallam:

لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

“Janganlah seorang laki-laki melihat aurat lelaki yang lain, jangan pula wanita melihat aurat wanita yang lain”

Abu Hanifah, Malik, Ahmad, sependapat dengan riwayat ini dan menetapkan batasan menutup aurat antara pusar sampai lutut.

2. Melepaskan ikatan rambut mayit wanita (jika ada).

Ummu Athiyah mengatakan :

جَعَلْنَ رَأْسَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاثَةَ قُرُونٍ ، قُلْتُ : نَقَضَتْهُ فَغَسَلَتْهُ فَجَعَلَتْهُ ثَلاثَةَ قُرُونٍ

“Kami jadikan rambut putri rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjadi tiga jalinan, lalu kami melepaskan dan memandikannya kemudian kami ikat kembali menjadi tiga jalinan”.

3. Harus lemah lembut ketika memandikan mayit

Hal ini berdasarkan keumuman hadits nabi yang menjelaskan pentingnya kelembutan dalam segala hal

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya lemah lembut tidak ada pada sesuatu melainkan menjadikannya bertambah indah. Dan tidaklah ia terlepas dari sesuatu melainkan menjadikannya semakin buruk”.

Karena menghormati mayit seperti halnya tatkala si mayit masih hidup, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ ، كَكَسْرِهِ حَيًّا

“Mematahkan tulang mayit seperti halnya mematahkannya ketika masih hidup”.

4. Menuangkan air di waktu memandikan pertama kali dengan daun Bidara (Sabun atau sejenisnya)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اغسلنها بماء و سدر

“Memandikan ia dengan air dan daun bidara.”

Lebih baik lagi menggunakan air hangat untuk menghilangkan kotoran, maka lakukanlah dengan baik untuknya.

5. Dimulai memandikannya pada bagian sisi kanan, dan anggota wudhu setelah berniat dan membaca basmalah 

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ابدأن بيمينها وموا ضع الوضوء فيها.

“Mulailah dari sisi kanan dan anggota wudhunya”.

Termasuk dalam pembahasan ini adalah mengkumur-kumurkan mayit, apabila dikhawatirkan air masuk ke dalam tubuhnya maka cukup dari sisi luar dan membersihkan gigi dan hidungnya dengan potongan kain yang sudah dibasahi sehingga bersih.

Mencuci kepalanya dengan air dan daun bidara hingga ke kulit kepala dan menyisirnya dengan pelan. Sebagaimana Rasulullah ketika mandi junub, beliau menyiram kepalanya tiga kali dan menyela-nyela rambutnya hingga ke kulit kepala, seperti telah dijelaskan dalam bab bersuci.

Membasuh tubuh mayit dari arah kanan. Dimulai menuangkan air dari arah sisi kanan leher hingga telapak kaki kanan dan mencuci belahan dadanya sebelah kanan, kemudian paha dan semuanya dari sisi kanan dan sedikit menggerakan angotan badan mayit agar air merata dan masuk kesela-sela paha dan sekitarnya, kemudian menuangkan air di belahan punggungnya sebelah kanan.

6. Memandikannya dari bagian kiri seperti halnya membasuh dari arah kanan

Memiringkan tubuhnya dan mencuci tengkuknya, punggung dan dada, kemudian mencuci dari arah yang tidak bisa dijangkau dari depan.

7. Menyisir rambutnya dan mengepang rambut mayit wanita dengan tiga kepangan.

Setiap sisi kepalanya satu kepangan dan satu kepangan bagian tengahnya kemudian diletakan kebelakang. Ini dilakukan pada basuhan terakhir. Diriwayatkan dari ummu Athiyah radhiallahu 'anha :

فضفرناها ثلاثة قرون والقيناهاخلفاها

“Kami mengepang rambutnya dengan tiga kepangan lalu kami letakan di belakang”

Membersihkan secara berulan-ulang hingga bersih. Berdasarkan hadits rasul Shallallahu 'alaihi wasallam, “Atau kalian lebihkan bila perlu.” Disunnahkan dengan bilangan ganjil, berdasarkan hadits rasul Shallallahu 'alaihi wasallam, “Mandikanlah ia dengan bilangan ganjil.”

Menggunakan kapur barus (minyak misk atau wangian lain) pada basuhan terakhir. Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam:

واجعلن في الاخرة كا فورا

“Dan basuhlah pada yang terakhir menggunakan kapur barus”

Pengecualian bagi mayit yang sedang ihram maka dilarang menggunakan minyak wangi,

Pendapat ulama tentang masalah ini:

Setelah memandikan jenazah, hendaklah kedua tangan dan kaki dikembalikan pada posisi semula. Kedua tangan dirapatkan dengan lambungnya, kedua kakinya diluruskan, kedua mata kakinya ditempelkan satu sama lain dan kedua pahanya dirapatkan. Kemudian mengeringkannya dengan handuk dan sejenisnya. Para ulama berpendapat agar menekan perutnya saat memandikan agar keluar kotoran yang ada di dalamnya. Dan hendaklah mayit tersebut didudukan pada akhir setiap basuhan.

Tidak boleh bagi yang memandikan mayit menyentuh auratnya secara langsung kecuali dalam kondisi darurat. Hendaklah menggunakan sarung tangan supaya tidak bersentuhan langsung, karena melihat aurat orang lain adalah haram apalagi menyentuhnya.

Soal: Apakah Kuku Mayit Di Potong Dan Dicukur Bulu Kemaluannya?

Ada dua pendapat Ulama:

Pertama: Dilakukan karena hal itu adalah fitrah pada masa hidup, karena membersihkannya disyariatkan untuk menghilangkan kotoran. Imam Syafi’i sependapat dengan hal ini. Berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu tentang kisah terbunuhnya Khubaib radhiallahu 'anhu, “Ketika Khubaib ditawan oleh orang-orang musyrik dan mereka sepakat akan membunuhnya. Lalu Khubabib meminjam pisau pencukur kepada salah seorang putri Harits kemudian ia memberikannya. Seolah-olah ia mencukur bulu kemaluannya sebagai persiapan untuk kematiannya. Karena ia berada di tengah-tengah kaum musyrikin yang tidak akan mencukur bulu kemaluannya setelah kematiannya nanti.

Diriwayatkan dari Abu Qilabah radhiallahu 'anhu:

ان سعدا غسل ميتا فدعا بموسي فحلقه

“Tatkala Sa’d memandikan mayit, ia meminta pisau cukur lalu mencukur bulu kemaluan mayit itu”

Riwayat shahih juga dengan redaksi yang serupa dari Abu Bakr bin Abdullah al-Muzani

Kedua: Hukumnya makruh, karena memotong anggota tubuh seperti halnya khitan. Ini pendapat al-Muzani dari pengikut Syafi’iyah.

Diriwayatkan juga dari Ibnu Sirrin, bahwa apabila orang yang sakit sudah parah maka hendaklah ia memotong kumis dan kukunya serta mencukur bulu kemaluannya. Sehingga apabila ia telah meninggal maka itu tidak diambil lagi darinya.

Penulis berkata: Pendapat yang paling jelas, bahwa ketika terlihat bulu yang cukup panjang pada mayit maka dianjurkan memotongnya dan tidak ada larangan melakukannya. Karena demi kebaikan si mayit. Wallahu alam.

Catatan tambahan:

Kuku dan rambut mayit yang dipotong atau rontok apa yang harus dilakukan?

Menurut para ulama, bahwa semuanya harus dikuburkan bersamanya. Sebagaimana dalam atsar salaf yang diriwayatkan dari Ibnu Abu Saibah (3/247). Silahkan dilihat.

Soal: Jika Wanita Hamil Meninggal Dan Janinnya Masih Hidup

Wanita yang meninggal dan kondisi janinnya masih hidup, apabila janin masih ada harapan hidup maka perutnya dibedah dan dikeluarkan, apabila tidak ada harapan maka tidak boleh dikeluarkan. Ini pendapat Mazhab Hanafiyah, Syafiiyah, Hanabilah dan sebagian Mazhab Malikiyah.

Soal: Bagaimana Jika Wanita Meninggal Dalam Kondisi Haid Ataupun Junub Maka Cukup Dimandikan Sekali

Apabila telah meninggal maka keluar dari hukum taklifiyah (tanggungan) dan tidak ada tanggungan untuk melakukan ibadah wajib. Memandikan mayit adalah termasuk ibadah supaya ia keluar dari kehidupan dunia dalam kondisi bersih dan baik. Maka cukup dimandikan sekali, karena mandi sekali sudah memenuhi dua kewajiban yaitu antara junub dan haid.

Apakah Yang Memandikan Mayit Harus Mandi?

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ الْمَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ، وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Siapa yang memandikan mayit hendaklah ia mandi, dan siapa yg memikul mayit hendaklah ia berwudhu”

Hadits ini dhaif menurut para ahli hadits diantaranya: Ibnu al-Madini, Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i, Ibnu Mundzir, Al-Baihaqi dan yang lainnya.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

كَانَ " يَغْتَسِلُ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنَ الْجَنَابَةِ، وَيَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَمِنَ الحِجَامَةِ، وَمِنْ غُسْلِ الْمَيِّتِ

“Mandi dari empat hal, karena junub, shalat jumat, setelah berbekam dan setelah memandikan mayit”. Hadits ini juga dhaif.

Di kisahkan dari Najiyah bin Ka’ab tentang kematian Abu Thalib, sabda nabi kepada Ali:

اذْهَبْ فَوَارِ أَبَاكَ، ثُمَّ لَا تُحْدِثَنَّ شَيْئًا، حَتَّى تَأْتِيَنِي

“Bergegaslah pergi kuburkan ayahmu dan jangan ceritakan sesuatupun hingga engkau menemuiku”.

Ali berkata, “Aku pergi dan menguburkan ayahku. Kemudian menemui rasul dan memerintahkanku mandi. Setelah mandi beliau memanggilku.

Ulama berbeda pendapat tentang derajatnya yang hasan. Bahwa tidak ada disebutkan Ali memandikan jenazah Abu Thalib.

Dari penjelasan hadits sebelumnya nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tidak ada memerintahkan mandi ketika selesai memandikan mayit. Bahkan terdapat riwayat yang menyelisihinya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ فِي غَسْلِ مَيِّتِكُمْ غُسْلٌ إِذَا غَسَّلْتُمُوهُ ، فَإِنَّ مَيِّتَكُمْ لَيْسَ بِنَجَسٍ فَحَسْبُكُمْ أَنْ تَغْسِلُوا أَيْدِيَكُمْ

“Tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mandi ketika selesai memandikan mayit, karena mayit kalian tidaklah najis cukuplah dengan membasuh tangan kalian”

Pendapat para ulama di sini termasuk para sahabat dan setelahnya tidak melihat ada kewajiban mandi setelah memandikan mayit, namun hanya dianjurkan.

Hal ini diriwayatkan dari Tsabit dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Sa’ad bin Abi Waqash, Ibnu Umar dan Aisyah dengan sanad yang Shahih.

Menurut sebagian Ulama diantaranya Abu Daud mengatakan bahwa hadits ini Mansukh.

Soal: Bagaimana Jika Tidak Ada Air Atau Uzur Menggunakannya Maka Mayit Cukup Ditayamumkan?

Ada udzur yang menyebabkan tidak bisa memandikan mayit, karena tidak ada air, ataupun khawatir ketika memandikannya malah terkelupas kulitnya dikarenakan terbakar atau sejenisnya maka cukup ditayamumkan saja. Hukum tayamum menjadi wajib karena bersuci yang tidak berhubungan dengan menghilangkan najis dan kotoran yang melekat, seperti mandi junub.

Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

جعلت لي الارض مسجدا و طهورا اذا لم نجد الماء

“Bumi dijadikan untukku sebagai masjid dan bersuci apabila tidak mendapatkan air”.

Soal: Bagaimana Hukum Mayit Yang Sudah Dikubur Dan Belum Dimandikan?

Jumhur ulama, Maliki, Syafii, Ahmad, Daud, dan Ibnu Hazm berpendapat bahwa wajib membongkar kuburannya untuk dimandikan selama jasadnya belum rusak atau membusuk.

Abu Hanifah berkata bahwa tidak perlu membongkar kuburan setelah jenazah dikuburkan ke dalam tanah.

Penulis berkata: Dalil yang membolehkan mengeluarkan mayit dari kuburan karena ada tujuan yang dibenarkan. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari jabir bahwa nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi kuburan Abdullah bin Ubay setelah dimasukan ke dalam liang lahad.

فَأَمَرَ بِهِ، فَأُخْرِجَ، فَوَضَعَهُ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَنَفَثَ عَلَيْهِ مِنْ رِيقِهِ، وَأَلْبَسَهُ قَمِيصَهُ

“Kemudian nabi memerintahkan untuk mengeluarkannya, beliau meletakan di atas kedua lututnya dan menghembuskan air liurnya kemudian memakaikan gamis beliau kepadanya”.


Footnote:
[1] Yang dimaksud adalah pakaian bawah.
[2] Yang dimaksud adalah pakaian yang menutupi jasad.
[3] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1254), Muslim (939), Abu Daud (3142), An-Nasa`i (4/32), Ibnu Majah (1458), dalam bab ini terdapat hadits panjang yang menerangkan metode memandikan mayit dari Ummu Athiyyah secara marfu’ yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (4/4) akan tetapi dha’if bahkan Abu Hatim dalam kitab ‘Ilal (1/361) mengatakan bahwa hadits tersebut bathil seolah-olah perkataan Ibnu Sirin namun banyak ditakwilkan oleh kebanyakan orang yang menjelaskannya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama