Fikroh.com - Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal, dan Ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengkritik pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, soal ‘lahir keluarga miskin baru’.

Jika pemerintah sampai mengatur dengan siapa seseorang harus menikah; demi mengentaskan kemiskinan, bagi Fithra, itu sudah kebablasan.

“Kalau untuk menyatakan harus menikah dengan siapa, itu saya rasa kebablasan. Itu ‘kan hak privasi, tidak bisa diatur juga,” tuturnya, seperti dikutip Ngelmu dari CNN, Kamis (6/8).

Ia mengingatkan, pemerintah punya andil besar untuk membuat kemiskinan di negeri ini tak bertambah.

Begitupun dengan upaya mengeluarkan seseorang dari jurang kemiskinan. Salah satunya adalah akses.

“Ini menjadi tugas pemerintah untuk memberikan akses dan afirmasi buat orang miskin,” kata Fithra.

Bagaimana jika akses yang dimiliki orang miskin dan orang kaya tak imbang?

Menurut Fithra, akan semakin banyak pula orang miskin baru ke depannya.

Sebab, anak dari keluarga miskin, kesulitan untuk keluar dari ‘areanya’.

“Misalnya saja akses pendidikan. Orang miskin kesulitan internet dan teknologi, jadi sulit belajar,” ujar Fithra.

“Kalau orang kaya, sudah ada. Ini harus difasilitasi. Jadi solusinya bukan orang miskin dinikahkan dengan orang kaya,” tegasnya.

Fasilitas yang diberikan untuk orang miskin, lanjut FIthra, harus lebih besar daripada orang kaya.

Sebab, jika fasilitasnya sama, orang miskin tidak akan pernah bisa mengejar, atau setara dengan orang kaya.

“Ibaratnya orang kaya lomba lari menggunakan sepeda, orang miskin lari biasa. Ya beda,” jelas Fithra.

“Makanya, fasilitasnya juga harus beda. Kalau bentuk fasilitasnya sama, ya orang kaya lebih sukses,” tutupnya.

Baca Juga: Ekonomi RI Kuartal II 2020 Lebih Parah dari Prakiraan Sri Mulyani dan Airlangga

Begitupun dengan yang disampaikan Bhima. Ia mengatakan, pemerintah memiliki andil dalam penambahan jumlah orang miskin.

Menurut Bhima, selama penyaluran bantuan sosial (bansos) efektif, fasilitas pendidikan untuk orang kelas menengah ke bawah diberikan secara baik, dan ada penambahan modal kerja, seharusnya bisa jadi pintu untuk orang miskin keluar dari ‘areanya’.

“Indonesia ini, kenapa keluarga miskin hasilkan orang miskin juga? Karena masalahnya pemerintah tidak memberikan fasilitas yang layak, dan dukungan ke keluarga miskin secara proporsional,” kritiknya.

Bicara soal kesempatan, yang dimiliki keluarga miskin juga tidak sama dengan mereka yang ada di kelas menengah ke atas.

Jadi, seakan mustahil bagi keluarga miskin untuk bisa membuat anaknya keluar dari garis kemiskinan.

“Ini karena tidak ada kesempatan. Kuncinya di negara,” tegas Bhima.

“Jadi yang salah adalah bukan keluarga miskin menikah dengan keluarga miskin,” sambungnya.

“Negara tidak perlu ikut campur dengan siapa orang menikah,” lanjutnya lagi.

Bhima menganggap, sumber kemiskinan di Indonesia adalah kemiskinan struktural.

Ketidakmampuan sistem dan struktur sosial dalam menyediakan kesempatan yang memungkinkan orang miskin bisa kerja—sama seperti orang kaya—itulah yang memunculkan kemiskinan baru.

“Jadi mereka dimiskinkan karena struktur ekonomi memang tidak berpihak pada mobilitas kelas bawah,” kata Bhima.

“Mulai dari sistem pendidikan, kemudian orang kaya yang menguasai aset,” imbuhnya.

“Misalnya 1 persen orang terkaya, menguasai 50 persen kekayaan nasional, ya bagaimana orang miskin mau naik kelas?” tanya Bhima.

Maka pemerintah, dinilai harus introspeksi diri; terkait sejumlah kebijakan yang dikeluarkan untuk orang miskin.

Salah satunya, stimulus fiskal yang masih lambat pencairannya di tengah pandemi COVID-19.

“Jadi kemiskinan akan bertambah terus, kalau pemerintah abai,” ujar Bhima.

“Kemiskinan terjadi karena struktur ekonomi, bukan pernikahan,” pungkasnya tegas.

Sebelumnya, Muhadjir, mengklaim pernikahan sesama keluarga miskin, melahirkan keluarga miskin baru di Indonesia.

“Sesama keluarga miskin besanan, kemudian lahirlah keluarga miskin baru,” demikian tuturnya, Rabu (5/8) lalu.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama