Fikroh.com - Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut, Jawa Barat, akhirnya menghadiahi sebuah handphone serta bantuan sembako, kepada Ajang (40), pelaku pencurian handphone yang dilakukan untuk membantu anaknya dalam proses belajar online.

Namun setelah ditelusuri, Ajang melakukan hal itu, semata untuk keperluan anaknya yang baru masuk menjadi siswa baru di MTSN Garut, dalam proses belajar secara daring.

Diketahui dalam satu bulan terakhir, S (13), anak pelaku, terlambat dalam mengerjakan tugas sekolah yang dilakukan secara daring alias online, akibat ketidakmampuannya menyediakan fasilitas handphone smartphone tersebut.

Kepala Kejaksaan Negeri Garut Sugeng Hariadi mengatakan, perbuatan yang dilakukan Ajang melanggar hukum, tetapi dengan pertimbangan kemanusiaan, akhirnya tidak dilimpahkan ke tingkat penyidikan.

"Sesuai dengan Perma (Peraturan Mahkmah Agung) tahun 2016, itu memang di bawah Rp 2 juta tidak perlu dinaikkan menjadi pidana," ujarnya selepas memberikan bantuan di rumah pelaku, Rabu (5/8/2020).

Dalam keterangannya, Ajang mengakui seluruh perbuatannya. Bapak tiga anak itu nekat mencuri HP keluarga AT, untuk memenuhi kebutuhan anaknya dalam proses belajar secara online.

"Mungkin teman-teman bisa melihat kondisi rumahnya (mengkhawatirkan), orangtuanya yang hanya sebatas buruh tani yang memiliki tiga orang anak," ujarnya.

Bahkan saat pertama kali ditemukan oleh AT, HP curian yang dilakukan Ajang, tengah digunakan S, anaknya untuk proses belajar secara online tersebut.

"Korban tidak mempersalahkan, bahkan mencabut laporannya, karena korban melihat kondisinya seperti itu akhirnya tersentuh," kata dia.

Tidak hanya itu, untuk membantu keluarga Ajang, lembaganya memberikan bantuan sembako serta peralatan sekolah untuk S.

"Kami juga memfasilitasi kakaknya nomor satu untuk kembali sekolah melalui paket belajar, sebab putus sekolah saat kelas dua," ujarnya.

Baca juga: Seorang Ayah Nekat Curi HP demi Belajar Daring Anaknya

Meskipun demikian, Sugeng mengingatkan jika perbuatan yang dilakukan Ajang tetap melanggar di depan hukum, dan meminta untuk tidak mengulangi.

"Kami juga berikan pendidikan hukum dan Alhamdulillah korban juga tidak mempersoalkan secara hukum dan mencabutnya," kata dia.

Source: Liputan6

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama