Fikroh.com - Bulan-bulan awal wabah merebak di Jakarta, Anies Baswedan mewakili Pemprov DKI Jakarta mencari segala macam cara untuk bisa meningkatkan kapasitas testing. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan alat RT-PCR. Saat itu, di dalam negeri terbatas, di pasaran global pun RT-PCR adalah barang yang amat langka dan sulit didapat dengan cepat.

“Semua upaya dikerjakan untuk meningkatkan kapasitas itu. Mulai dari usaha membeli ke produsen sampai usaha meminjam alat RT-PCR,” kata Anies dalam unggahan status Facebooknya, Kamis (13/08).

Terkait peminjaman, lanjut Anies Ada 8 kota yang dikirimi surat, kota-kota maju dunia yang menjadi sahabat Jakarta. Dalam surat yang dikirimkan kepada semua pimpinan kota itu, Anies menyampaikan bahwa Jakarta berencana meminjam alat RT-PCR selama masa pandemi ini saja. Setelah wabah selesai, maka alat itu akan dikembalikan. Semua merespon cepat. Mayoritas menjawab bahwa mereka juga sedang mengalami masalah yg sama. Memang tidak ada satupun kota di belahan dunia manapun yang bisa berkata: kami siap menghadapi pandemi.

“Beberapa negara merespon positif dan siap membantu. Ada beberapa yang membantu memberikan alat PCR-RT. Tapi ada satu yang unik, yaitu Mayor Park Woon Soon, Walikota Seoul,” ungkap Anies.

Mayor Park, Anies melanjutkan mengirim pesan bahwa lebih mudah untuk menghibahkan RT-PCR daripada meminjamkan. Alat milik mereka yang masih baru itu dihibahkan untuk Pemprov DKI Jakarta. Permohonan pinjaman dijawab bukan dengan peminjaman tapi dengan hibah.

“Datanglah sebuah mesin RT-PCR. Dikirim langsung dari Seoul. Diantarkan oleh Dubes Korea Selatan ke Balaikota. Alat ini mampu memproses hingga sekitar 900 sampel per hari,” tuturnya.

Dengan alat tersebut, Anies yakin akan banyak orang bisa ditemukan positif walau mereka tidak sadar bila telah terpapar. Hal tersebut membuat masyarakat tahu dan diharapkan bisa isolasi dan bila perlu dirawat agar terhindar dari resiko.

“Mayor Park adalah seorang sahabat baik. Kita berinteraksi dalam berbagai kesempatan. Bukan saja di Jakarta saat ia berkunjung dan di Seoul ketika ada acara di sana. Bahkan saat ada pertemuan-pertemuan di negara ketiga, maka kita selalu atur waktu agar tetap bisa bertemu dan diskusi bersama,” kenang Anies.

Saat Dubes Korsel datang mengantarkan mesin RT-PCR dari Mayor Park, Anies titipkan sepucuk surat dan selembar kain batik betawi untuk Mayor Park. Dubes Korea itu memang akan kembali ke Seoul, karena masa tugasnya di Jakarta telah selesai.

“Surat itu telah sampai pada Mayor Park, tapi batik khas betawi itu belum sempat dipakainya karena Mayor Park ditemukan wafat 3 minggu kemudian,”

Hingga akhirnya, seorang walikota yang turut berjasa dalam membantu Jakarta itu telah tiada. Ia telah berpulang tapi budi baik dan persahabatannya bisa kita semua rasakan hingga sekarang.

“Pada ribuan tes yang dilakukan di Jakarta, ada jejak jasa Mayor Park dan persahabatan antar dua kota,” ujarnya.

Hikmah yang bisa diambil dalam cerita yang disampaikan Anies melalui Facebooknya merupakan interaksi yang selama ini dibangun di tataran global yang mengantarkan pada persahabatan dan jejaring internasional. Yang kesemuanya dikerjakan sebagai pelaksanaan dari pesan “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Batang Sukeru, Pemerhati Sosial.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama