Fikroh.com - Tak dapat dipungkiri, pengaruh Turki semenjak dipimipin Erdogan begitu kuat. "Saya berduka melihat anarkisme pemeluk Hindu terhadap Muslim. Alasannya hanya karena Muslim memakan daging sapi. Keterlaluan. Memilukan. Muslim muslimah dipukuli, bahkan dibakar hingga mati. Saya sendiri makan daging sapi. Saya tunggu apa hukuman untuk saya dari mereka. Negara yang mengklaim demokratis, menghargai perbedaan keyakinan. Tapi memperlakukan Muslim-Muslimah sangat biadab. Bukankah tidak mungkin semua hal dalam kehidupan hanya berupa vegetarian?", tegas Presiden Erdogan.

Kritikan pedas pemimpin Muslim soal kasus Muslim-Muslimah India, hanya kita dengar dari Presiden Erdogan dan Mantan PM Malaysia, Mahathir Muhammad. Negara Muslim lainnya, tidak ada yang bersuara lantang bahkan ketika Masjid Babri yang bersejarah, akan dijadikan kuil Hindu.

Tidak ada suara dari Ketua OKI yang meratapi Holocaust terhadap Muslim ini. Setali tiga uang, lembaga sebesar Al-Azhar, Dar Ifta Mesir,

Hai'ah Kibar Ulama Saudi, atau Imam Masjidil Haram. Semua bungkam.

Presiden Erdogan pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagaimana PM Pakistan, tidak punya kemampuan melawan keangkuhan PM Hindu pro terorisme. Mengapa? Sebab Pakistan tidak memiliki dukungan penuh dari 50-an negara Muslim lainnya.

Pakistan berharap kepada Saudi Arabia. Namun seperti diketahui, Saudi termasuk negara dengan investasi besar di India. Jangan tanya Mesir era AsSisi yang berhutang budi kepada PM India. Sebab India menjadi negara yang turut mengabsahkan kudeta di Mesir.

Presiden Erdogan praktis kini hanya seorang diri melawan kekuatan jahat dunia. Seandainya Juli 2016 kudeta berhasil, umat Islam dunia pasti hanya menunggu hiburan lara hati dengan kedatangan Imam Mahdi dan Isa Al-Masih, yang Allah saja Maha Tahu.

Kita memiliki kewajiban minimalis untuk mendukung Presiden Erdogan. Kita bersyukur, masyarakat Turki adalah masyarakat kritis objektif. Terbukti dari survey elektabilitas Presiden Erdogan bulan Agustus, menyentuh angka 52℅, posisi lawan minim dari 35 ℅.

Pertanyaannya, siapakah calon pengganti Presiden Erdogan, usai ia berkuasa tahun 2027? AKP sendiri memiliki tiga calon unggulan yang memiliki popularitas memadai dan kinerja unggul Plus tidak terindikasi korupsi.

Berdasarkan lembaga survey Artibir Arastirma, calon pemimpin AKP paska Presiden Erdogan adalah: Sulaiman Soulu, Mendagri saat ini dengan popularitas menyentuh angka 38.2℅, Fakhruddin Koca, Menteri Kesehatan dengan prestasi melawan Corona mencapai 17.8 ℅ dan Beirat AlBeiraq, Menteri Keuangan yang sukses mempertahankan fiskal dan ekspor Turki dengan angka 5.8℅.[]

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama