Definisi Ta'zir dan Hukumnya Menurut Islam (Bag. 1)

Fikroh.com - Secara bahasa At-Ta`Zir berarti kecaman, dan biasa dimutlakan dengan cambukan yang tidak sampai pada hukuman atau dengan cambukan yang sangat keras. Dimaksudkan dari hukuman ringan ini untuk menunjukan kebesaran, keagungan dan menolong atas sesuatu. [Al-Qamus al-Muhith dan al-Mughny (9/176) cet. Maktabah Cairo]

Hukuman ringan dalam agama berarti: Suatu hukuman yang disyariatkan atas suatu kejahatan yang tidak ada hukuman ataupun hukuman setimpal (qishash) di dalamnya. Misalnya seperti orang yang mencuri sesuatu yang tak sampai ukuran, menggauli perempuan yang tidak halal namun bukan di kemaluan, menggauli istri dari dubur, menghina namun tak sampai qadzaf, berbuka sebelum waktunya di bulan Ramadhan atau hal-hal lain yang seperti itu dari perbuatan-perbuatan yang tak ada hukuman tertentu secara syar'i. Dalam hal ini hendaknya pemimpin memberi pelajaran dan menghukumnya dengan cara yang akan dijelaskan nanti.

Dasar Legalitasnya

Tak diragukan lagi bahwa agama dibangun atas dasar mendapatkan kebaikan dan meminimalisi kerusakan, oleh karena itu telah disyariatkan hukuman ringan untuk kejahatan yang tak ada hukuman ataupun hukuman setimpal (qishash) di dalamnya untuk memenuhi tujuan ini. Juga untuk merealisasikan budaya amar ma'ruf nahi munkar. Telah ada contoh dalam sunnah Nabi tanpa membatasi:

  1. Perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam untuk memukul anak-anak yang tidak shalat ketika sudah berusia sepuluh tahun.
  2. Tekad beliau Shallallahu 'alaihi wasallam untuk membakar rumah orang-orang yang tidak hadir dalam shalat jama'ah.
  3. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam membakar harta curian dari rampasan perang.
  4. Perintahnya Shallallahu 'alaihi wasallam untuk memotong kepala patung sehingga menjadi seperti pohon dan memotong tirai (yang bergambar) untuk kemudian dijadikan bantal.
  5. Perintah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam untuk memecahkan kendi khamr dan menyobek kantongnya.
  6. Perintah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam kepada Abdullah bin `Umar untuk membakar dua baju yang terkena warna kuning (dari za'faron)
  7. Dilipatgandakan denda bagi orang yang mencuri dari selain tempat penyimpanan, orang yang mencuri buah-buahan namun tidak sampai nishab dan orang yang menyembunyikan ternak yang tersesat
  8. Perintah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengambil setengah harta oang yang tak mau membayar zakat.
  9. Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam memenjarakan beberapa orang karena menuduh.

Seluruh contoh ini dan selainnya telah tetap dari Nabi yang sebagiannya akan disebutkan haditsnya pada penjelasan bab ini dan sebagiannya tersebar di antara kitab ini dan telah disebutkan atau mungkin belum.

Maksud dari ini adalah bahwa sesungguhnya Nabi menghukuman ringan orang-orang yang berbuat kejahatan dan mensyariatkan bagi Shahabat dan wakil-wakil beliau untuk melakukannya. Beliau bersabda:

(لا يجلد فوق عشر جلدات إلا في حد من حدود الله)

"Jangan mencambuk lebih dari sepuluh kali kecuali dalam hukuman dari hukum-hukum Allah." [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim]

Para khalifah setelah beliau menghukuman ringan dalam kejahatan yang tak ada hukuman atau qishash di dalamnya. Atsar mengenai perbuatan mereka sangatlah banyak dan akan disebutkan pada tempatnya nanti. Salah satunya adalah yang datang dari Ali tentang seorang lelaki yang berkata kepada lelaki lain: “Wahai orang yang buruk, wahai fasik.” Ali berkata: “Tak ada hukuman yang diketahui atasnya, maka pemimpin memberinya hukuman ringan berdasarkan pandangannya.” [Dihasankan oleh al-Albany, diriwayatkan oleh al-Baihaqy (8/253) dan lihat al-Irwa` (2393)]

Disepakati Bahwa Tak Ada Batasan Minimal Dalam Hukuman Ringan

Bahkan hukuman ringan dilakukan dengan segala sesuatu yang bisa mengecam manusia berupa perkataan, perbuatan dan meninggalkan pembicaraan dan perlakuan. Maka terkadang bisa dihukum ringan dengan menasehatinya, menjelek-jelekannya, bersikap keras kepadanya, memboikotnya, tidak menyapanya sampai dia bertaubat, diasingkan dari tempatnya, tidak memakainya dalam pasukan, memutus penghasilannya, memenjarakannya, menghitamkan wajahnya lalu menaikannya pada tunggangan dengan terbalik atau yang lainnya sesuai dengan yang dipandang oleh pemimpin bisa mencegah orang jahat dari kejahatannya dan memotivasinya untuk berbuat kebaikan. [Maratib al-Ijma’ (hal.136), Majmu' al-Fatawa (28/108, 244) dan lihat Ibnu 'Abidin (4/60), Fathu al-Qadir (5/516) dan al-Mughny (10/344 – dengan penjelasannya)]

Apakah Ada Batasan Maksimal Dalam Hukuman Ringan?

Ulama berselisih dalam hal ini menjadi tiga pendapat:

Pertama: Tidak lebih dari sepuluh cambukan, hal ini dituliskan oleh Ahmad dan perkataan Ishaq, al-Laits dan Ibn Hazm berserta pengikutnya. Argument mereka adalah hadits Abu Hurairah dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

(لا يجلد أحد فوق عشرة أسواط إلا في حد من حدود الله)

"Janganlah seorang mencambuk lebih dari sepuluh kali kecuali dalam hukuman dari hukum-hukum Allah." [Hadits Shahih, takhrijnya telah disebutkan beberapa waktu lalu dan hadits ini muttafaq 'alaihi]

Ibn Hazm berkata: Bagi siapa yang melakukan banyak kejahatan, maka hendaknya hakim mencambuk untuk setiap kejahatannya dengan sepuluh kali cambukan, maka inilah hukuman paling sedikit atas perbuatannya.

Kedua: Hukuman ringan lebih sedikit dari hukuman terkecil, yang berpendapat dengan hal ini berselisih menjadi beberapa sisi, di antaranya:

Hendaknya hukuman ringan tidak sampai dengan hukuman terkecil yang disyariatkan secara mutlak: hal ini dikatakan oleh Abu Hanifah, asy-Syafi'I dan Ahmad dalam salah satu riwayat. [Al-hidayah (2/117), al-Badaa`i' (7/64), Raudhatu ath-Thalibin (10/174), Nihayatu al-Muhtaj (8/22), al-Mughny (10/347 – dengan asy-Syarh al-Kabir)]

Berdasarkan hal itu maka hukuman ringan paling banyak adalah tiga puluh sembilan kali cambukan (menurut asy-Syafi'I, karena hukuman khamr menurutnya adalah empat puluh cambukan) dan tujuh puluh sembilan (menurut Abu Hanifah).

Hendaknya hukuman ringan untuk setiap kejahatan tak sampai pada hukuman yang disyariatkan pada kejahatan yang serupa: ini adalah riwayat ketiga dalam madzhab Ahmad. Ibn Taimiyah menyetujui bagian ini sebagaimana yang akan disebutkan. Argument dari pendapat ini adalah:

a. Hadits yang diriwayatkan secara shahabat (marfu`):

(من بلغ حدا في غير حد, فهو من المعتدين)

"Bagi siapa yang menghukum hingga sama dengan hukuman pada kejahatan yang tak ada hukuman, maka dia adalah orang yang telah melampaui batas." hadits ini dha`if dan tidak valid.

b. Diriwayatkan dari Ibnul Musayyab tentang seorang budak perempuan yang dimiliki oleh dua orang lelaki, maka salah satu di antara mereka berdua menggaulinya? Dia berkata: Dia dicambuk sebanyak sembilan puluh sembilan kali. [Sanadnya Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan lihat al-Irwa` (2398)] Pendapat ini diriwayatkan dari `Umar yang diriwayatkan oleh al-Asyram dan Ahmad berhujjah dengannya. Al-Albany berkata: Aku belum memastikan atas kualitas sanadnya.

c. Karena hukuman itu disesuaikan dengan kejahatan dan maksiatnya, sedangkan maksiat yang telah ada hukum-hukumnya adalah lebih besar daripada selainnya. Maka tidak boleh hukuman untuk suatu hal yang paling rendah di antara dua hal sama dengan yang paling besar. Jadi tidak boleh mencambuk seseorang yang mencium perempuan yang haram lebih dari hukuman zina, padahal zina dengan besarnya perkaranya dan kekejiannya, tidak boleh hukumannya lebih dari hukuman, maka apalagi yang di bawah itu.

Ketiga: Pemimpin bisa menghukum lebih dari hukuman jika melihat ada maslahat di dalamnya, ini adalah perkataan Malik dan salah satu dari pendapat-pendapat Abu Yusuf, perkataan Abu Tsaur dan sekelompok pengikut asy-Syafi'i dan merupakan salah satu sisi pada pendapat mereka, juga ath-Thahawy dari Hanafiyyah dan Syaikhul Islam menyetujuinya pada kejahatan-kejahatan yang tak ada hukuman pada jenisnya. [Al-Muhalla (11/403), al-Kafy karya Ibnu Abdilbarr (2/1073), al-Kharsyi (8/110), Raudhatu ath-Thalibin (10/174), al-Inshaf (10/243) dan al-Mughny (10/348 – dengan penjelasannya)] Yang berpendapat dengan hal ini berhujjah dengan hal-hal berikut:

Yang diriwayatkan dari an-Nu'man bin Basyir:

)أَنَّه رفع إليه رجل غشى جَارِيَةِ امْرَأَتِهِ، فَقَالَ: لَأَقْضِيَنَّ فِيها بِقَضِاء رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنْ كَانَتْ أَحَلَّتْهَا لَكَ جَلَدْتُكَ مِائَةً، وَإِنْ كانت لَمْ تحلهَا لَكَ رَجَمْتُكَ)

"Sesungguhnya dilaporkan kepadanya tentang seorang lelaki yang menggauli budak istrinya, maka dia berkata: “Sungguh aku akan menghukumiya dengan yang diputuskan oleh Rasulullah. Jika istrinya menghalalkannya bagimu, maka aku cambuk engkau seratus kali. Dan jika dia tidak menghalalkannya untukmu maka aku akan merajammu.” hadits ini dha`if, diriwayatkan oleh Abu Dawud (4458), at-Tirmidzi (1451), an-Nasaa`i (6/123) dan Ibnu Majah (2551)

Suatu riwayat: bahwa Ma'an bin Za`idan membuat cap yang sama dengan cap baitul maal, kemudian dia mendatangi penjaga baitul maal dan mengambil harta dari dalamnya. Maka hal itu sampai kepada 'Umar dan dia mencambuknya sebanyak seratus kali dan memenjarakannya. Kemudian 'Umar menyidangnya dan mencambuk sebanyak seratus kali lagi dan menyidangkannya lagi setelah itu dan dia mencambuknya sebanyak seratus kali dan mengasingkannya.

Suatu riwayat bahwa dihadapkan kepada Ali seorang dari Najasyi yang minum khamr pada bulan Ramadhan. Maka Ali mencambuknya delapab puluh kali kemudian memerintahkannya untuk dipenjara. Lalu keesokan harinya Ali mengeluarkannya dari penjara dan mencambuknya lagi dua puluh kali kemudian berkata: “Sesungguhnya aku mencambukmu sebanyak dua puluh kali ini adalah karena kamu berbuka saat berpuasa Ramadhan dan keberanianmu melanggar larangan Allah.” [Al-Albany menghasankannya, diriwayatkan oleh ath-Thahawy (2/88) dan lihat al-Irwa` (2399). Aku berkata: dan ada juga yang serupa pada al-Baihaqy (321) dan najasyi di sini bukanlah an-Najasyi dari Habasyah yang terkenal]

Suatu riwayat: Sesungguhnya `Umar mencambuk Shabigh (karena melihat kebida'ahannya) dengan banyak cambukan yang tak terhitung jumlahnya.

Pendapat Yang Kuat (rajih)

Adapun pendapat pertama, maka yang mengatakannya berpegang pada hadits Abu Burdah tentang larangan mencambuk lebih dari sepuluh kali “kecuali pada hukuman dari hukum-hukum Allah.” Mereka membawa makna “hukuman” kepada hukuman yang telah ditentukan pada kejahatan-kejahatan yang memiliki hukuman, sedangkan yang lainnya memaknainya dengan: salah satu hak dari hak-hak Allah walaupun bukan maksiat yang telah ditentukan hukumannya, karena seluruh maksiat merupakan hukum-hukum Allah. Penulis berkata:Inilah pendapat yang lebih benar.

Sedangkan Syaikhul Islam Ibn taimiyah berpendapat bahwa maksud dari hukum-hukum Allah: segala sesuatu yang diharamkan dalam hak Allah. Beliau berkata: lafadz hudud dalam Al-Qur'an dan as-Sunnah maksudnya adalah batas antara yang halal dan yang haram, seperti yang terakhir haram dan yang pertama halal. Maka dikatakan untuk yang pertama:

(تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا)

"Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya." [Al-Qur'an, Surat Al-Baqarah: 226]

Dan untuk yang terakhir:

(تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا)

"Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu mendekatinya." [Al-Qur'an, Surat Al-Baqarah: 187]

Adapun penamaan suatu hukuman yang telah ditentukan dengan hukuman merupakan pengertian baru, maka maksudnya dalam pengertian sekarang menjadi: bahwa sesungguhnya yang mencambuk untuk hak dirinya sendiri seperti cambukan seorang suami terhadap istri ketika tidak taat tidaklah lebih dari sepuluh cambukan. [Lihat as-Siyasah asy-Syar'iyyah (hal. 55,56)]

Penulis berkata: Di antara hal-hal yang menunjukan bolehnya meambah lebih dari 10 cambukan dalam hukuman ringan adalah yang akan disebutkan dari banyaknya gambaran hukuman ringan yang tak hanya berupa cambbukan atau pukulan. Dan ini sanagtlah jelas, segala puji bagi Allah.

Adapun yang mengatakan bahwa hukuman ringan tak sampai dengan hukuman terkecil, maka aku tidak melihat ada hujjah yang kuat untuknya. Yang tampak bagiku bahwa pendapat yang paling adil adalah: diperbolehkan menambah lebih dari hukuman pada hukuman ringan untuk kejahatan yang tak ada hukuman pada jenis kejahatannya. Adapun jika dalam jenis kejahatan tersebut ada hukumannya, maka tidak boleh dilebihkan dari hukumannya. Inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah.

Baca selanjutnya: Macam-macam Bentuk ta'zir

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama