Fikroh.com - Bukan hal baru, karena kegiatan ini sudah mereka jalani, setidaknya sekitar empat bulan lalu; saat sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ), guna mencegah penyebaran COVID-19.

Salsa Nur Azizah, salah satunya. Ia yang duduk di bangku kelas 6 SD—bersama lima teman sekampung—setiap pagi harus berjalan kaki menuju makam.

Berjarak sekitar 300 meter dari rumah, makam yang dimaksud terletak di bukit lumayan tinggi.

Itu sebabnya, mereka bisa mendapat sinyal internet di sana. Tetapi jelas, jalan menuju lokasi merupakan tanah dan batu yang cukup terjal.

“Kami belajar daring di kuburan, karena di rumah tidak ada sinyal internet,” kata Salsa, salah seorang murid, seperti dilansir Detik, Senin (10/8).

Sesampainya di makam, mereka masih harus berpencar mencari sinyal; menggunakan ponsel pintar masing-masing.

Ada yang duduk di tengah-tengah area makam, ada pula yang mengambil posisi di bagian pinggir.

Setelah mendapat sinyal yang memadai, mereka langsung mengerjakan tugas yang dibagikan guru, melalui aplikasi percakapan.

“Setiap hari (ke makam) karena tugas sekolah setiap hari. Kadang pagi, kadang sore. Kami tidak takut,” akuan Salsa.

Meski demikian, Salsa mengaku, belajar secara daring adalah hal yang tidak mengenakan; karena susah sinyal.

Maka kalaupun PJJ masih terus harus dilakukan karena pandemi, Salsa berharap, pemerintah bisa membantu pemasangan wi-fi, di Dusun Ngapus.

“Sekolah daring ga enak karena cari sinyalnya jauh. Inginnya dipasang wi-fi,” ujarnya.

Mendengar keluhan para siswa dan siswinya, Kepala SDN Sumberaji 2, Surati, pun memberikan penjelasan.

Sekolahnya, kata Surati, saat ini hanya mempunyai 16 siswa:

4 siswa kelas 1,

2 siswa kelas 2,

4 siswa kelas 5, dan

6 siswa kelas 6.

Tak ada siswa sama sekali yang duduk di kelas 3 dan 4 sekolahnya.

Surati pun tahu, kondisi siswa kelas 5 dan 6 yang harus belajar di makam Dusun Ngapus; karena susah sinyal internet.

Namun, pihaknya tak bisa berbuat banyak, karena pemasangan wi-fi di kampung itu terkendala.

“Kami mau pasang wi-fi, petugasnya datang ke sini, tapi petugasnya tidak bisa menjamin bisa terkoneksi 100 persen,” kata Surati.

“Sementara biayanya mahal, dulu itu sebulan Rp200 ribu. Sehingga tidak jadi pasang wi-fi,” sambungnya.

Maka Surati, memberi kelonggaran waktu mengerjakan tugas bagi para siswa kelas 5 dan 6.

“Karena harus cari sinyal dulu ke makam. Tugas hari ini, baru besok bisa dikumpulkan,” lanjutnya lagi.

Sementara bagi siswa kelas 1 dan 2, pembelajaran dilakukan dengan teknik luring; luar jaringan.

Para guru mata pelajaran datang ke rumah siswa untuk memberikan tugas secara langsung.

Baru keesokan harinya, orang tua siswa yang mengumpulkan tugas anak-anaknya ke sekolah.

“Karena anak-anak kelas 1 dan 2 banyak yang tidak bisa mengoperasikan ponsel pintar,” kata Surati.

“Para orang tua mereka juga awam, mohon maaf, karena orang desa,” imbuhnya.

Di akhir percakapan, Surati pun berharap, pandemi COVID-19 dapat segera berakhir.

Agar semua siswa SDN Sumberaji 2, dapat mengikuti proses belajar mengajar seperti sedia kala di sekolah.

“Saya dan teman-teman berdoa semoga pandemi ini segera berakhir,” harapnya.

“Biar anak-anak bisa belajar maksimal sesuai yang ada di kurikulum itu,” pungkas Surati.


Source: Ngelmu

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama