Fikroh.com - Hitam adalah Warna yang diidentikkan dengan kemisteriusan, kegelapan, kejahatan dan kemauan. Saat momen berkabung, busana serba hitam pun menjadi pilihan karena dinilai memiliki makna filosofis yang selaras dengan nuansa duka yang ada. Sehingga busana hitam seakan menjadi dresscode atau semacam “seragam” khusus untuk melayat, menghadiri upacara kematian. Persepsi ini diperkuat oleh adegan-adegan film yang dalam setiap adegan penguburan mayat, para pelayat menggunakan busana dan payung hitam.

Bagi beberapa kalangan nonmuslim, kebiasaan semacam ini sudah menjadi semacam etika. Adapun di masyarakat kita secara umum, berbusana serba hitam saat berta'ziyah memang belum terlalu jamak dilakukan. Akan tetapi saat bertakziyah atau melayat, kebanyakan orang akan menghindari baju-baju berwarna terang. Karena menurut kepantasan umum warna terang dan mencolok identik dengan kegembiraan dan suka cita sehingga tidak pantas untuk melayat. Bagaimana menurut Islam? Yang harus kita perhatikan adalah, ta'ziyah merupakan ibadah. Maka kita harus mengetahui hukum-hukum syariat yang mengaturnya. Seperti misalnya, tidak boleh makan dan minum saat ta’ziyah, tidak berlama-lama duduk di rumah ahli mayit, tidak meratapi si mayit dan lainnya termasuk juga cara berpakaian. Karena ibadah sifatnya adalah tauqifi, paten dari asalnya, maka tidak boleh ada penambahan dan pengurangan. 

Bid'ah, Bukan Sunah 

Beberapa ulama berpendapat, mengkhususkan pakaian hitam saat berta'ziyah adalah amalan yang tak memiliki landasan syar'i yang jelas. Tidak ada hadits shahih dari Nabi yang menganjurkan untuk mengenakan pakaian hitam saat berta'ziyah. 

Syaikh Shalih al Utsaimin ketika ditanya soal masalah ini berkata, “ Memakai pakaian hitam saat terjadi musibah tak memiliki landasan sunah. Saat musibah datang, seharusnya manusia melakukan apa yang diperintahkan syariat dan berdoa, 

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah berilah pahala atas musibahku ini dan berlah aku ganti yang lebih baik darinya yang telah hilang.” 

Jika dia mengucapkannya dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya Allah akan memberinya pahala dan menggantinya dengan yang lebih baik. Adapun mengenakan pakaian tertentu seperti busana hitam atau yang semisalnya, maka sejatinya semua itu tak ada perintahnya dan merupakan perkara batil yang dicela.” 

Syaikh Ali Mahfudz menjelaskan bahwa pada saat terkena musibah, diharamkan meratapi mayit dan semua hal yang berkenaan dengan perubahan cara berpakaian dengan mengenakan pakaian tertentu yang tidak seperti biasanya Lebih lanjut beliau berkata, “Termasuk bid'ah adalah apa yang sudah menjadi kebiasaan orang-orang berupa mengenakan pakaian hitam saat terjadi musibah. Hal semacam itu tak memiliki dasar dalam as Sunnah. Sebaliknya, yang disunahkan adalah memakai pakaian putih dalam kondisi susah maupun senang, hidup maupun mati. Dalam hadits riwayat Ibnu Abbas disebutkan, Rasulullah bersabda, 

"Pakailah pakaian-pakaian kalian yang berwarna putih, karena itulah pakaian terbaik bagi kalian, juga kafanilah jenazah dengan pakaian putih.” (HR. At Tirmidzi, an Nasa’i. Ibnu Maiah dan Ahmad) 

Baju putih 

Pada dasarnya, syariat tidak menentukan satu model dan warna busana tertentu untuk ta'ziyah. Berta'ziyah dengan baju apapun yang kita miliki adalah boleh. Tentu dengan menyesuaikan adat kesopanan masyarakat setempat yang tidak melanggar syariat. Berbaju hitam pun, jika saat itu yang kita miliki memang hanya baju hitam, maka sebenarnya Islam tidak akan pernah mempersulit. 

Jika ingin lebih sesuai dengan sunah, maka seperti disebutkan dalam hadits di atas, disunahkan mengenakan pakaian berwarna putih. Dalam keterangannya, hadits tersebut bermakna umum. Mengenakan baju putih bukan hanya khusus saat ta'ziyah saja tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Warna putih adalah warna yang disukai Rasulullah. Beliau memerintahkan umatnya untuk mengenakan pakaian berwarna putih. Beliau bersabda, “Pakailah pakaian putih karena ia lebih baik dan lebih suci.” (HR. At Tirmidzi) 

Warna putih mengisyaratkan tawadhu', tidak ujub dan kesahajaan. Di dalam Tuhfatul Ahwadzi disebutkan, Imam ath Thayyibi mengatakan bahwa warna putih dikatakan lebih suci karena akan mudah terlihat jika terkena kotoran, sehingga ia akan selalu dijaga dan dicuci. Imam al Qarrafi menyebutkan, Umar bin Khattab pernah berkata, “ Aku sangat suka melihat seorang penghafal al Qur'an mengenakan pakaian berwarna putih.” Ulama menjelaskan bahwa pakaian putih bersih adalah seharusnya menjadi simat atau identitas bagi orang shalih dan para thalibul ilmi, pencari ilmu. Mungkin ada diantara kita yang menganggap hal seperti ini hanyalah perkara remeh. Hanya sekadar urusan warna baju. Tapi demikianlah Islam menjaga kemurnian ajarannya. Mengenakan busana serba hitam dalam prosesi acara kematian adalah adat yang entah darimana asalvmulanya. Tentunya, meski hanya setitik, tak akan kita biarkan keislaman kita ternoda. Wallahua'lam.

Sumber: Majalah Ar risalah

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama