Fikroh.com - Rizki dan ajal merupakan taqdir yang sudah ditentukan oleh Alloh semenjak di dalam kandungan. Namun kewajiban manusia untuk ikhtiar tetap berlaku selama masih hidup. Dengan cara yang halal dan dibenarkan dalam syariat.

Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menyampaikan ada 9 dari 10 pintu rizki. Lalu secara terpisah menyebutkan salah satunya adalah dengan berniaga. Lalu apa maksud sebenarnya dari makna hadits ini?

Hadits ini telah dihasankan oleh Imam as-Suyuthi dalam jami 'ush Shaghir, Rasulullah bersabda :

تسعةُ أعشارِ الرزقِ في التجارةِ قال نعيمٌ : العشرُ الباقي في السائمةِ ، يعني : الغنمَ

“Sembilan dari sepuluh pintu rezeki terdapat pada perniagaan dan sepersepuluhnya terdapat pada peternakan.” (Diriwayatkan Said bin Manshur dalam sunannya dari Nu'aim bin Abdir Rahman Al-Azdi dan Yahya bin jabir Ath-Tha'i)

Penilaian terhadap hadits

Hadits ini dihasankan Imam As-Suyuthi dalam Al-jami 'ush Shaghir (3296).

Sekilas penjelasan

Dengan sabdanya ini, Rasulullah saw. ingin memotivasi dan mendorong umatnya agar menjadi orang-orang yang memiliki semangat wirausaha yang sangat tinggi. Karena dengan berwirausaha, umat ini akan menjadi umat yang kuat secara ekonomi dan finansial. Sehingga mereka akan mampu mengentaskan diri dan orang lain dari kefakiran yang seringkali menjerumuskan banyak orang kepada kekafiran. Sebagaimana kata-kata hikmah yang sudah populer, ”Hampir-hampir kefakiran itu menyeret kepada kekafiran." Oleh karena itu, setiap aktivis dakwah hendaknya memiliki wirausaha meskipun kecil-kecilan, agar ia mendapatkan berkah dari perniagaan ini, dan mampu memberikan sumbangsih keuangan yang lebih besar lagi untuk dakwah dan perjuangannya. Ironisnya, banyak di antara aktivis dakwah yang tidak memiliki kecenderungan berwirausaha, sehingga sumbangsih mereka untuk dakwah menjadi kurang maksimal. Padahal Rasulullah saw. bersabda,

'Sebaik-baik harta yang potensial adalah harta yang berada di tangan orangshalih."

Penjelasan kalimat: "Sembilan pintu rizki terdapat pada perniagaan"

Ada beberapa penafsiran ulama mengenai maksud dan penggalan hadlts di atas sebagai berikut:

a. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan perniagaan adalah semua bentuk usaha selain peternakan, sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Sembilan dari sepuluh pintu rezeki terdapat pada perniagaan dan sepersepuluhnya terdapat pada peternakan.”

Karena perniagaan adalah setiap usaha pertukaran, baik barang dengan uang, barang dengan barang, barang/uang dengan jasa, pemikiran, gagasan, cita-cita dan lain sebagainya. Artinya pekerjaan seorang guru, pengacara, dokter dan lain-lainnya adalah termasuk dalam perniagaan, sehingga wajar bila sembilan dari sepuluh pintu rezeki terdapat pada perniagaan.

b. Sebagian lain berkata bahwa maksud dari sabda beliau, ”Sembilan dari sepuluh pintu rezeki terdapat pada perniagaan", adalah karena pada dasarnya setiap orang akan mampu melakukan perniagaan untuk mengais rezeki demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Di mana setiap orang telah memilih kemampuan berniaga sejak kecil. Bertrand Russel berkata,” Setiap orang sebenarnya niagawan. Seorang bayi yang baru lahir sudah dikaruniai ilmu berniaga. Dengan menggerakkan kaki dan tangannya, dengan senyum dan tangisnya serta kemungilan-nya seorang bayi sedang berniaga dengan tubuh untuk mendapatkan perhatian, perawatan dan kasih sayang.

Berbeda dengan profesi tertentu yang hanya mampu dilakukan sekelompok kecil orang karena menuntut adanya fasilitas, ketrampilan dan keahlian khusus yang kadang tidak dimiliki kebanyakan orang.

c. Sebagian lain berpendapat bahwa maksud ”Sembilan dari sepuluh pintu rezeki terdapat pada perniagaan", karena hanya dengan berniaga seseorang mampu melipatgandakan keuntungan yang dihasilkannya dalam hitungan pekan, hari, jam bahkan menit. Berbeda dengan profesi lain yang cenderung statis karena bersifat menunggu upah atau gaji dalam setiap bulan atau pekan, sehingga sulit untuk melipatgandakan kekayaan dalam waktu yang relatif cepat.

d. Karena melalui perniagaan seseorang mampu mendapatkan penghasilan yang berlipat ganda seseringkali mungkin karena adanya banyak faktor, di antaranya faktor waktu, kelangkaan barang, besarnya modal, penghematan biaya operasional, efisiensi dan efektivitas produksi dan lain sebagainya. Sementara untuk mendapatkan penghasilan yang besar melalui profesi lain seseorang hanya punya satu pilihan meningkatkan waktu dan kemampuan bekerja yang secara umum memiliki keterbatasan dan cenderung melemah dari waktu ke waktu.

Cara-cara meningkatkan produksi dan memperbesar usaha

Banyak usaha yang kurang berkembang bahkan akhirnya gulung tikar karena cenderung menggunakan sebagian besar keuntungannya untuk keperluan yang bersifat konsumtif, atau melakukan pengeluaran yang lebih besar dari penghasilannya.

Oleh karena itu, kita harus mengatasi kelemahan ini agar dapat meningkatkan produksi dan memperbesar usaha kita dengan melakukan cara-cara berikut:

1. Sedapat mungkin kita menyisihkan laba yang diperoleh dan memasukkannya dalam modal. Hal ini akan menambah kekayaan perusahaan, di mana dengan modal yang semakin besar, usaha akan menjadi semakin besar sehingga mampu meraih keuntungan yang lebih besar.

2. Apabila hal ini tidak memungkinkan, maka kita bisa memanfaatkan berbagai dana penyusutan yang masih belum terpakai untuk memperbesar modal. Pemakaian ini bersifat sementara sampai tiba waktunya, di mana dana tersebut harus digunakan untuk pengadaan aktiva tetap.

3. Untuk mengurangi cara penjualan dengan kredit, maka kita harus mengusahakan penjualan secara kontan atau dengan tempo yang lebih pendek dengan jalan memberikan potongan harga pada pembelian secara kontan, atau dengan meningkatkan promosi hasil produksi.

4. Aktiva tetap yang tidak terpakai lagi sebaiknya dijual atau disewakan kepada pihak lain untuk menambah modal. Tindakan ini lebih baik daripada membiarkan barang-barang tak terpakai menganggur saja.

ltulah petunjuk singkat agar usaha kita bisa berkembang dan mampu menjadi sumber rezeki yang melimpah bagi kita sehingga kita tetap menjadikan berwirausaha sebagai sarana yang paling efektif untuk membangun ekonomi keluarga dan umat. Wallahu a'lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama