Fikroh.com - Sultan Abdul Hamid II demikian hati-hati menanggapi gerakan organisasi Persatuan dan Pembangunan, yang didukung kalangan Yahudi dan gerakan Freemasonry serta negara-negara Barat. Intelijen-intelijen bentukan Sultan berhasil mengenali gerakan mereka dan berhasil menghimpun data-data tentang gerakan ini. Namun gerakan ini sangat kuat, sedangkan pengawasan Sultan sangat terlambat terhadap anggota-anggota gerakan ini.

Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah berkisah mereka telah berhasil menggerakkan anggota masyarakat untuk melakukan demonstrasi secara masif di Salanika, Manistar, Isakub dan Susan yang menuntut diberlakukannya kembali undang-undang. Ditambah lagi dengan ancaman para demonstran, bahwa mereka akan melakukan tindakan eksodus dari Istanbul.

Tindakan ini memaksa Sultan untuk tunduk pada tuntutan kaum demonstran. Sultan kembali mengumumkan undang-undang dan menghidupkan sistem parlemen pada tanggal 24 Juli 1908 M. (Baca juga: Bumi Utsmani Jadi Pintu Pertama dan Pondasi Gerakan Yahudi Internasional)

Ada beberapa alasan mengapa organisasi Persatuan dan Pembangunan ini membiarkan Sultan Abdul Hamid II tetap duduk di singgasananya. Pertama, organisasi ini memiliki kekuatan yang cukup untuk menurunkan Sultan Abdul Hamid II pada tahun 1908 M. Kedua, Sultan Abdul Hamid menggunakan cara yang sangat elastis dan fleksibel terhadap mereka, yakni dengan dipenuhinya keinginan mereka untuk mengembalikan undang-undang. Ketiga, loyalitas rakyat Utsmani terhadap Sultan Abdul Hamid II.

Poin ini sangat jelas kelihatan dimana panitia Persatuan dan Pembangunan tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menebarkan kampanye anti Sultan Abdul Hamid ll di kalangan tentara. Sebab mereka demikian menaruh hormat pada Sultan. 

Peristiwa 31 Maret

Sesungguhnya kalangan Yahudi internasional tidak hanya berusaha untuk melakukan perombakan terhadap undang-undang pada tahun 1908 M bahkan lebih jauh dari itu mereka bekerja sama dengan organisasi Persatuan dan Pembangunan ini untuk mencapai tujuan lain di Palestina.

Untuk tujuan itu, mereka harus bisa lepas dari kekuataan Sultan Abdul Hamid ll selama-lamanya. Oleh sebab itulah, mereka mengatur peristiwa tragis yang terjadi pada 31 Maret 1909 di Istanbul yang menimbulkan guncangan hebat. Bahkan sebagian pembela organisasi Persatuan dan Pembangunan itu terbunuh. Peristiwa ini di dalam sejarah dikenal dengan sebutan “Peristiwa 31 Maret.”

Akibat peristiwa itu, terjadi guncangan hebat di ibu kota yang dirancang oleh orang-orang Yahudi-Eropa dan orang-orang dari organisasi Persatuan dan Pembangunan. Peristiwa ini telah mendorong orang-orang Persatuan dan Pembangunan yang berada di Salonika memasuki ibu kota Istanbul. Dengan peristiwa ini, maka Sultan diturunkan dari kedudukannya sebagai khalifah kaum muslimin, baik dari posisinya sebagai orang yang bertanggung jawab dalam masalah sipil ataupun masalah agama.

Setelah itu Sultan dituduh oleh organisasi Persatuan dan Pembanguan ini dengan empat tuduhan: Pertama, Sultan dianggap orang yang merencanakan terjadinya peritiwa 31 Maret; Kedua, Membakar mushaf-mushaf Al-Qur’an; ketiga, boros; dan keempat orang yang zalim dan penumpah darah.

Walaupun orang-orang dari Persatuan dan Pembangunan ini membangun pemikirannya dengan menjadikan Barat sebagai model yang sangat bertentangan dengan Islam dan pemikiran Islam, namun mereka menggunakan agama sebagai tunggangan, tatkala mereka menyatakan kepentingan-kepentingannya di depan khalayak untuk memberikan pengaruh terhadap mereka dan untuk mendapatkan dukungan dari rakyat dalam hal perang mereka melawan Sultan Abdul Hamid II.

Fitnah Itu

Mereka sukses dalam peperangan tersebut. Dalam sebuah selebaran yang mereka edarkan di kalangan rakyat Utsmani gerakan Persatuan dan Pembangunan ini mengatakan;

“Wahai rakyat Utsmani, aksi yang kami lakukan adalah dalam rangka menyelamatkan negara dan khilafah, dan tidak seorang pun yang tidak mengetahui hal ini. Dan dengan pertolongan Sang Maha Pencipta dan keinginan keras saudara-saudara sekalian, wahai kaum muslimin, telah cukup bagi kita semua untuk menjadi penonton Sultan yang kejam, yang tidak memiliki keimanan, yang menginiak-injak Al-Qur'an dengan kakinya, sebagaimana ia juga telah menginjak-injak keimananan dan perasaan. Maka bangunlah Wahai umat Muhammad.”

“Bangkitlah dengan penuh keberanian, wahai kaum muslimin. Keberanian adalah dari kami dan pertolongan datangnya dari Allah. Pertolongan dari Allah dan pembukaan telah semakin dekat.”

“Wahai muslim yang bertauhid, ‘bacalah dengan nama Tuhanmu’. Bangkitlah, wahai muslim yang bertauhid, selamatkan agamamu, imanmu dari orang-orang yang zalim. Selamatkan dirimu. Di sana ada setan yang jahat yang membawa mahkota di atas kepalanya. Sedangkan di tangannya ada keimananmu. Selamatkan agama dan imanmu darinya wahai orang yang bertauhid.”

“Wahai kaum muslimin, sesungguhnya Sultan Abdul Hamid II secara syariah-bukanlah seorang Sultan, bukan pula khalifah. Dan barangsiapa yang tidak percaya dengan apa yang kami katakan, maka hendaknya dia melihat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Organisasi kami telah meneliti ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah, perintah Allah dan Rasul-Nya yang ditujukan pada pemerintahan dan penduduk negeri ini.”

“Namun Sultan Abdul Hamid memalingkan wajahnya dan berpaling jauh dari perintah Allah dan perintah-perintah Rasulullah. Sehingga tampaklah kezalimannya dan dia tidak malu untuk melakukan tindakan yang tidak disukai Allah. Oleh sebab itulah, wajib bagi bangsa kita untuk mengangkat senjata melawannya. Jika bangsa ini tidak melakukan ini, maka hendaklah dia menangung dosa dan kezaliman yang dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid ll.”

Pemikiran yang menjadi panduan dalam organisasi Persatuan dan Pembangunan ini adalah: “Pemikiran Freemasonry yang sama sekali tidak mengakui eksistensi agama-agama; Rasionalisme yang juga menafikan agama, serta sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan”.

Namun demikian, menurut Ash-Shalabi, para revolusioner Persatuan dan Pembangunan ini menggunakan agama sebagai senjata untuk memerangi Sultan Abdul Hamid II dan memfitnah juga atas nama agama.

Tuduhan yang mereka lakukan pada Sultan Abdul Hamid II, sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat, tidak memiliki hujjah dan fakta yang menunjukkan kebenaran tuduhan mereka. Fakta yang ada malah menunjukkan sebaliknya. Dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa Sultan Abdul Hamid sama sekali tidak mengetahui peristiwa 31 Maret itu.

Apalagi tuduhan bahwa Sultan melakukan pesta dengan membakar Al-Qur’an. Karena Sultan Abdul Hamid sangat dikenal dengan ketakwaannya. Sultan tidak dikenal sebagai seorang yang pernah meninggalkan salat dan tidak pernah meremehkan ibadah.


Dia juga tidak dikenal sebagai sosok yang boros. Dia memiliki harta yang cukup. Bahkan Sultan banyak menutupi beban negara dengan menggunakan kekayaan pribadinya. Sedangkan mengenai kezalimannya, hal itu sama sekali tidak dikenal sebagai perilaku Sultan Abdul Hamid II. Penumpahan darah tidak pernah menjadi kebijakan politiknya.

Ash-Shalabi menjelaskan, untuk memuluskan tujuan mereka, para revolusionir melakukan tekanan pada mufti Islam Muhammad Zhiyauddin untuk mengeluarkan fatwa pencopotan.

Source: sindonews

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama