Fikroh.com - Warganet dihebohkan dengan unggahan foto ASN berpakain Panjang semacam gamis. Pakaian resmi korpri itu menjadi perbincangan oleh netizen.

Foto tersebut memicu sejumlah warganet memberikan komentarnya. Tak terkecuali politikus PDI Perjuangan, Budiman Sudjatmiko.

Dalam cuitan yang diunggah pada Rabu (15/7/2020), Budiman buka suara terkait viralnya foto ASN berbaju korpri panjang ini.

Pria yang memakai seragam korpri dengan ukuran panjang hingga selutut dalam foto itu tampak berdiri berjajar dengan laki-laki lain.

Mereka semua memakai baju korpri berwarna biru. Para pria yang diduga ASN ini juga mengenakan masker.

Tiga di antara pria itu bahkan memakai pelindung wajah atau face shield. Termasuk laki-laki yang berbaju korpri panjang.

Rata-rata para ASN dalam foto itu memakai peci hitam. Hanya ada satu pria yang tidak memakai peci.

Menanggapi beredarnya foto yang telah menimbulkan banyak komentar kontraproduktif, seorang Ustadz dari kalangan Salafi angkat bicara. Dalam akun media sosialnya Ust. Abdullah Al-jirani menyampaikan tanggapannya.

"Pakaian syuhrah" demikian judul postingan ustadz lulusan Yaman pada Jum'at (17/7).

Lebih lanjut Ust Abdullah menuarankan agar kaum muslimin memakai pakaian yang telah menjadi adat masyarakat setempat.

"Sebisa mungkin, pakailah pakaian yang sesuai dengan adat setempat selama pakaian tersebut tidak ada pelanggaran syariat di dalamnya. Menurut hemat saya, pakaian Korpri yang dipakai di Indonesia sudah sesuai dengan tujuan syariat, yaitu menutup aurat, sebagaimana baju koko, baju batik dan yang semisalnya. Bahkan secara umum, pakaian asli negeri kita lebih utama dibandingkan pakaian negara lain." Jelasnya.

Ustadz Abdullah menambahkan pakaian yang tidak lazim justru menimbulkan syuhrah atau keanehan dikalangan masyarakat dan merupakan perbuatan yang dilarang.

"Memakai pakaian yang tidak lazim dipakai, justru akan menjadikan seorang menjadi "syuhrah" (aneh atau tampil beda) di tempat atau di masyarakat dia tinggal/bekerja. Dan ini telah dilarang oleh Nabi. Terlebih, pakaian gamis atau jubah, hanyalah masuk katagori adat atau masalah dunia, bukan termasuk sunah Nabi. Setiap negeri memiliki jenis pakaian yang lazim dikenakan. Pakaian yang lazim dipakai di negeri A, belum tentu pantas di pakai di negeri B. Demikian juga sebaliknya." imbuhnya.

Memang tidak mengapa berpakaian gamis atau yang semisalnya, asalkan waktu dan tempatnya pas.

"Jika pun akan pakai gamis atau jubah, pakailah pada waktu dan tempat yang pas, misalkan saat ke masjid untuk ibadah shalat atau menghadiri majelis taklim. Tiap waktu, tempat, dan kondisi memiliki pakaian yang pas untuk dikenakan. Barakallahu fiikum." Pungkasnya.
Lebih baru Lebih lama