Fikroh.com - Orang besar lahir dari perjuangan panjang yang melelahkan. Ustadz Farid Okbah adalah sosok inspiratif untuk teladan bagi generasi milenial. Pribadi yang ilmunya meluas samudera namun tetap santun dan apa adanya.

Dikisahkan bahwa Syaikhuna Farid حفظه الله menceritakan kepada kami, saat kami berkunjung ke rumah beliau, bahwa dulu saat baru berumur 19.5 tahun, beliau sudah ditunjuk sebagai pimpinan perpustakaan LIPIA.

Tugas ini beliau jalani hingga enam tahun kemudian.

Setelah enam tahun menjadi pimpinan perpus LIPIA, beliau berangkat ke Australia untuk menjadi imam dan berdakwah di sana, kira-kira hampir tiga tahun lamanya.

Sekembalinya dari Australia beliau pun pulang ke Indonesia sambil membawa buku berkardus-kardus, menurut kesaksian putra beliau.

Rupanya kabar kepulangannya ke tanah air sampai juga ke pihak LIPIA. Ketika kedatangan beliau dari Australia terdengar oleh dosen-dosen LIPIA, mereka meminta beliau kembali untuk menjadi pimpinan perpustakaan.

Atas permintaan itu Beliau pun menyanggupinya hingga berjalan tujuh tahun kemudian. Sehingga jika ditotal secara keseluruhan beliau mengurus perpustakaan LIPIA hingga 13 tahun.

Diantara nasehat yang sering beliau sampaikan. Beliau sering mengatakan, baca buku itu harus delapan jam sehari. Dan itu selalu beliau ulang-ulang di depan murid-muridnya.

Kami mengira bahwa itulah yang beliau lakukan saat menjadi kepala perpustakaan LIPIA.

Bisa dibayangkan, berapa banyak ilmu yang sudah dibaca selama 13 tahun, setiap harinya 8 jam?

Masya Allah...

Di perpustakaan LIPIA beliau sampai hafal kitab-kitab apa saja yang ada di dalamnya, beserta letaknya, warnanya, jumlah jilidnya, dst.

Hingga para dosen LIPIA sampai heran, "Kok bisa Antum bisa hafal begini?"

Di situ beliau banyak membantu para mahasiswa LIPIA, juga mahasiswa luar yang ingin menulis tesis S2 atau disertasi S3 untuk mendapatkan referensi kitab-kitab yang mereka butuhkan.

Selama beliau menjadi kepala perpustakaan, beliau hidup sederhana dan Qanaah dengan apa yang ada.

Padahal jika beliau mau, beliau bisa banyak mengisi pengajian di sana-sini. Akan tetapi karena kecintaan beliau terhadap ilmu dan buku, beliau enggan meninggalkan perpustakaan, meskipun berakibat hidup pas-pasan.

Bahkan selama tiga tahun lamanya, beliau hanya naik angkot ke LIPIA.

Subhanallah...

Kegigihan, sabar, ulet, qanaah, itulah yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu. Hingga akhirnya ia muncul di tengah umat dalam kondisi ilmu dan amal mumpuni.

Semoga Allah menjaga Syaikhana dan memanjangkan umur beliau di jalan dakwah. Aamiin Ya Rabb.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama