Oleh : Prof. Dr. Syarif Ibrahim Alqadrie

Fikroh.com - Upaya mengungkap kisah Sultan Abdul Hamid II Al-Qadrie (SAHIIA), seorang tokoh nasional, regional dan global, tidak akan pernah sia-sia. Kisah dalam sejarah sering menjadi produk politik bagi pemenang dalam menampilkan pihak tertentu sebagai pahlawan. Walau tak punya peran apapun dalam sejarah, namun, mereka ditampilkan untuk kepentingan baik politik etnis, politik kepartaian maupun ekonomi politik dan memperkuat status quo penguasa.

Jadi, upaya mengungkapkan kisah tersebut adalah ingin mengungkapkan fakta riil dan obyektif mengenai hubungan sejarah dan politik: ‘sejarah adalah politik masa lampau dan politik ialah sejarah masa kini’ (Isjwara, 1967). Ini berarti, kalaupun seorang putra Indonesia keturunan Arab Alawwiyyin- Dayak- Melayu- Bugis-Turki-dan Banjar, kelahiran Kal-Bar ini, terlempar dari sejarah, itu berarti ada kekeliruan besar dalam politik masa lalu. Ini juga mengingatkan kita bahwa kebijakan yang keliru semacam itu jangan pernah terulang, karena ia merupakan rasisme dan sejarah kelam bangsa ini.

Kehilangan Satu Generasi Pemimpin


Rakyat Indonesia, terutama di Kal-Bar mendambakan hadirnya pemimpin-pemimpin besar sekaliber antara lain Multatuli, Soekarno, Mohammad Hatta, A. H. Nasution, Habibie dan SAHIIA yang ide politik mereka merakyat dan banyak berbicara pada tingkat local, nasional dan internasional. Setelah SAHIIA, memang banyak pemimpin formal dan informal berdatangan silih berganti mengisi jabatan kosong, karena Kalbar kehilangan satu generasi pemimpin. Peristiwa Mandor 28 Juni 1943, dengan Balatentara Jepang pemegang peran kunci menyebabkan Kal-Bar mengalami musibah kemanusiaan dan krisis kepemimpinan.

Rakyat Kalbar berterima kasih kepada para pemimpin yang telah didatangkannya (dropped) silih berganti menggerakkan roda pemerintahan. Namun, Kal-Bar perlu waktu untuk memperoleh banyak manfaat dari mereka karena berbagai alasan: mereka kurang mengenal Kalbar dan budayanya, sangat terbatasnya masa tugas, sering dialihtugaskan ketempat lain, komitmen dan tanggung jawab mereka lebih pada instansi yang mendatangkan mereka ketimbang pada rakyat dan daerah Kal-Bar.

Karena itulah, pembangunan di daerah ini berjalan sangat lamban. Kelambanan itu diibaratkan sebagai sebuah “becak yang bannya bocor.” Sebaliknya percepatan (acceleration) pembangunan di daerah lain terutama Jakarta; seluruh Jawa; Sulawesi Selatan dan Utara; Sumatera Utara, Barat dan Selatan; Riau dan Bali berjalan bagai “sepeda motor balap 250 cc.” Selain itu, Kal-Bar tidak beruntung karena hilangnya satu generasi pemimpin daerah.

Ketidak-beruntungan itu juga dirasakan dalam segi sosial ekonomi: proses kehancuran lingkungan alam, hutan dan sosial tak terbendung, Krisis identitas social budaya tak terhindarkan. Peninggalan bersejarah tak lagi tersisa di wilayah ini, ketimbang di kota-kota lain di Nusantara – semua tergerus, karena keserakahan dan ketiadaan tanggung jawab moril dan social. Dalam kondisi menyakitkan seperti itu, SAHIIA terpanggil untuk pulang kampung.

Figur Konkrit vs Messiah


Dalam kondisi suram seperti itu, masyarakat Kal-Bar melihat optimisme ke depan pada apa yang SAHIIA telah lakukan untuk menempatkan Kal-Bar sederajad dengan daerah lain. masyarakat mendambakan lahirnya sejumlah figur SAHIIA baru, pemimpin dan tokoh bertaraf nasional dan internasional, yang punya gagasan, ide dan obsesi besar, serta berintegritas tinggi.

Karena itu, SAHIIA bersedia datang ke kampung halamannya memimpin Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB), pada 29 Oktober 1945. Kedatangan beliau diminta oleh rakyat Kal-Bar, khususnya oleh Pasukan Dayak dan Melayu yang turun dari perhuluan dan gunung dipimpin oleh Panglima Burung (Ansar Rachman, dan Ja’Achmad. 2000; Alqadrie, 1990).

Figur SAHIIA dan tokoh pemimpin Kal-Bar lainnya berwujud konkrit, riil, bukan terwujud messiah yang “turun dari langit” sebagaimana diharapkan oleh aliran mesianisme, seperti Imam Mahdi dalam masyarakat Syiah (at-Tijani Abdul Qadir Hamid, 2001; Syarif I. Alqadrie, 1994, h. 18-39), dan Ratu Adil dalam masyarakat pedalaman Jawa (Sartono Kartodirjo, 1984). Namun justru ia berbentuk “messiah” lebih konkrit, dalam masyarakat Daya dan Melayu (Alqadrie, 1991; 1994).

Figur semacam itu diharapkan muncul lagi di Kal-Bar dari generasi penerus: pemimpin dan pemikir yang memiliki obsesi besar, pekerja keras, jujur dan konsisten: kita harapkan 500 SAHIIA-SAHIIA baru lahir dan muncul di daerah ini!

Putera Kalbar yang satu ini berpendidikan sangat baik. Ia dididik oleh seorang wanita Inggris sehingga SAHIIA menguasai 6 (enam) bahasa asing secara aktif; Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Arab dan Ibrani (Yahudi). Ia dapat mengelola waktu dan pekerja keras, memiliki disiplin sangat baik, wawasan global dan etika pergaualan internasional. Karena menerima pendidikan Barat dan Timur, ia berhasil menggabungkan dua dunia: berfikir global dan berhati local yang menghargai perbedaan.

Selesai SMA, SAHIIA meneruskan ke Akademi Militer Breda, Den Haque, Belanda. Di sini ia tidak hanya memiliki keahlian teori dan praktek dalam kemiliteran, tetapi juga meningkatkan penguasaannya dalam bidang politik, diplomasi dan tulis menulis. Setelah menyelesaikan pendidikan di Breda, SAHIIA diangkat menjadi Letnan II pada Angkatan Darat Belanda dalam umur 22 tahun.

Dalam usia 28 tahun SAHIIA memperoleh jabatan sebagai Ajudan dalam Pelayanan Luar Biasa bagi Ratu Belanda, Weheilmina (Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden), yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten Ratu Kerajaan Belanda. Sebagai seorang kolonel, Sultan Hamid II adalah orang Indonesia pertama yang memperoleh posisi penting dalam pemerintahan penjajahan.

Bersambung.....
Lebih baru Lebih lama