Fikroh.com - Jika merujuk pada kitab-kitab fikih, akan kita dapati definisi shalat menurut para ulama, mereka berkata : shalat adalah ibadah khusus yang mencakup bacaan dan gerakan khusus, dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Dari definisi ini dapat kita pahami bahwa shalat tidak boleh melakukan gerakan atau bacaan selain yang telah ditentukan oleh syariat.

Namun bagaimana dengan menangis, merintih dan mengerang apakah masuk pada hal-hal yang membatalkan shalat? Adakah contohnya dari Nabi shalat sambil menangis?

Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai hal-hal yang boleh dilakukan saat shalat

PERTAMA, Menangis, Merintih dan Mengerang

Menangis, merintih dan mengerang itu dibolehkan di dalam shalat, baik karena takut kepada Allah atau karena sebab lainnya, seperti merintih karena terkena musibah atau terluka, selama sakitnya tidak dibuat-buat dan tidak bisa ditahan. Berdasarkan firman Allah SWT. :

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

“Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Tuhan yang Maha Penyayang, mereka tersungkur sujud dan menangis”. (QS Maryam : 58)

Ayat tersebut berkaitan dengan orang yang sedang Shalat maupun tidak. Dalam hadits disebutkan

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى وَفِى صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ -صلى الله عليه وسلم

Dan hadits dari 'Abdullah asy-Syikhir berkata: Saya melihat Rasul shalat sambil menangis terisak isak seperti di dadanya ada bunyi air yang mendidih didalam panci.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa'i dan at-Turmudzi dan ia menyatakan hadits ini sahih). ,

Ada juga hadits lain dari 'Ali, ia berkata:

“Ketika perang Badar, tidak seorang pun mengendarai kuda selain Miqdad bin Aswad. Dan saya, pada malam harinya, tidak melihat seorang pun yang bangun untuk shalat kecuali Rasulullah. Beliau shalat di bawah sebatang pohon sambil menangis sampai pagi” (HR. Ibnu Hibban).

Ada juga riwayat dari 'Aisyah. Dia menceritakan bahwa ketika Rasulullah sakit yang menjadikannya meninggal. Rasulullah bersabda:

“Perintahkan kepada Abu Bakar agar ia (menjadi imam) dalam jamaah shalat”. 'Aisyah menjawab: Ya Rasulullah, Abu Bakar adalah seorang yang lemah hatinya, dan dia akan menangis bila membaca al Qur'an. Lalu 'Aisyah menambahkan: Saya mengatakan demikian karena saya khawatir apabila ummat Islam menjauhinya karena dia menjadi orang pertama yang menempati tempat Rasulullah. Lalu Nabi berkata lagi: “ Perintahkan“ kepada Abu Bakar agar menjadi imam dalam shalat jamaah”. Lalu aku ulangi lagi apa yang telah aku katakan, tetapi beliau tetap bersikeras: “Suruhlah Abu Bakar shalat menjadi imam para jamaah Sesungguhnya kamu para wanita sama saja dengan ibu angkat Nabi Yusuf ' (HR. Ahmad, Abu Dawud, lbnu Hibban dan at'Tarrnidzi menyatakan hadits ini sahih).

Sikap Rasulullah yang tetap mempertahankan Abu Bakar untuk menjadi imam, padahal telah diberi tahu bahwa dia saring menangis dalam shalat. adalah argumentasi betapa sesungguhnya menangis dalam shalat itu diperbolehkan.

Umar bin al Khattab juga pernah terdengar tangisnya pada waktu shalat subuh ketika membaca surat Yusuf pada ayat "hanya kepada Allah aku adukan kerisauan dan kesusahan hatiku ini.

Tangis umar yang terdengar keras tersebut dapat dijadikan bantahan terhadap orang yang menyatakan bahwa menangis dalam shalat Itu membatalkan shalat bila keluar dua huruf dari mulutnya, baik karena takut kepada Allah maupun sebab lainnya. Alasan mereka yang menyatakan bahwa keluarnya dua haruf dari mulut arang yang menangis dalam shalat ltu membatalkan shalat karena dianggap berbicara, namun hal ini tidak dapat diterima, karena berbicara dan menangis adalah dua hal yang sangat berbeda.

KEDUA, Menoleh Ketika Diperlukan
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA. dia menceritakan: “Nabi pernah menoleh ke kanan dan ke kiri ketika shalat tetapi tidak sampai memutar leher ke belakang”, (HR Ahnmd).

Ada juga riwayat dari Abu Dawud yang menyatakan: “Sesunggugnya Nabi pernah menoleh ke arah jalan di kaki bukit ketika beliau shalat”. Kata Abu Dawud: Beliau mengirim seorang berkuda ke sebuah bukit di waktu malam untuk mengadakan penjagaan.“ Dan dari Anas bin Sirin, katanya: Saya melihat Anas bin Malik mengarahkan pandangannya kepada suatu benda dan melihatnya padahal ia sedang shalat. (HR. Ahmad).

Apabila menoleh itu tanpa suatu kepentingan, maka hukumnya makruh tanzih, karena dapat menghalangi kekhusukan dan konsentrasi penuh kepada Allah. Hal itu berdasarkan hadits dari 'Aisyah:

"Saya menanyakan kepada Rasulullah mengenai menoleh dalam shalat. Beliau menjawab: itu adalah sambaran kilat yang dilakukan syetan terhadap shalat seorang hamba". (HR. Ahmad. al Bukhari, an-Nasa'i dan Abu Dawud).

Ada juga riwayat dari Abu Darda' dalam sebuah hadits yang bersumber dari Nabi secara marfu' (bersambung), bahwa beliau bersabda:

'Wahai manusia, janganlah sekali-kali kamu menoleh (dalam shalat), karena tidak sempurna shalat seseorang apabila ia menoleh Seandainya dia tidak bisa meninggalkannya pada waktu shalat sunnah, maka janganlah ia melakukannya pada waktu shalat fardlu '. (HR. Ahmad).

juga riwayat dari anas, bahwa Rasulullah pernah mengatakan kepadanya:

janganlah engkau sekali kali menoleh dalam shalat. karena menoleh dalam shalat itu akan membawa kerusakan. Seandainya engkau tidak bisa meninggalkannya, maka tidak apa dalam shalat sunnah saja. dan janganlah engkau melakukannya dalam shalat fardlu'.” (HR. athurmudzi dan menyatakan hadis ini sahih), Ada juga hadits dari Harits al-Asy'ari yang menyatakan bahwa Nabi bersabda:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada Yahya bin Zakaria supaya dia mau melakukan lima hal. Lima hal tersebut juga di perintahkan agar dilakukan Bani Israil. Di antaranya adalah bahwa Allah memerintahkan kepada mereka semua agar ”shalat dan tidak memalingkan muka ketika melakukannya, karena Allah akan tetap meng hadapkan wajah-Nya kepada wajah hamba-hambaNya (yang sedang shalat) selama mereka tidak memalingkan muka”." (HR. Ahmad dan an-Nasa'i)

Dan dari Abu Dzar, bahwasanva Nabi bersabda: “Allah senantiasa menghadapkan wajahnya kepada seorang hamba yang sedang shalat selama ia tidak memalingkan muka. Apabila dia memalingkan muka, maka Allah pun akan berpaling muka darinya"." (HR. Ahmad dan Abu Dawud dan ia mengatakan bahwa isnad hadits ini sahih).

Menoleh yang diperbolehkan, sebagaimana dijelaskan di atas, adalah menoleh dengan muka saja. Karena menoleh dengan seluruh anggota badan hingga berpaling dari arah kiblat, menurut kesepakatan para ulama, dapat membatalkan shalat, sebab telah meninggal kan kewajiban shalat yaitu menghadap kiblat.

KETIGA, Membunuh Ular, Kalajengking dan Kumbang, serta Hewan-hewan Berbahaya Lainnya, Meskipun Menyebabkan Dia Harus Banyak Bergerak.

Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah menyebutkan bahwa Nabi SAW bersabda:

اقْتُلُوا الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ الْحَيَّةَ وَالْعَقْرَبَ

“Bunuhlah dua binatang hitam meskipun sedang shalat: yaitu ular dan kalajengking." (HR. Ashabussunan“ dan Ahmad. Dikatakan hadits ini hasan sahih).

KEEMPAT, Berjalan Sedikit Karena Keperluan

Diriwayatkan dari Aisyah katanya:

“Rasulullah sedang Shalat di rumah, sedangkan pintu terkunci dari dalam. Ketika saya datang dan meminta dibukakan pintu. maka Rasulullah berjalan membukakan pintu, lalu beliau kembali ke tempat shalatnya“. Lalu 'Aisyah bercerita lagi: “bahwa pintu tersebut berada di arah kiblat”. (HR. Ahmad. Abu Dawud. an Nasa'i dan at-Turmudzi dan ia menyatakan bahwa hadits ini hasan).

Yang dimaksud dengan pintu berada di arah kiblat itu adalah bahwa kalau Nabi berjalan ke arah pintu tersebut atau kembali ke tempatnya semula. beliau tidak sampai berpaling muka dari kiblat. Penjelasan ini dikuatkan oleh hadits “Aisyah yang menyatakan: Bahwasanya Nabi. apabila ada seseorang meminta kepadanya agar membukakan pintu. padahal beliau sedang shalat, beliau akan membukakannya selama pintu tersebut ada di arah kiblat, di kanan atau di kirinya dan tidak di belakangnya (HR ad-Daruquthnii)

Dan hadits dari al Azraq bin Qais, katanya:

“Abu Barzah al-Aslami sedang berada di ahwaz di tepi sebuah sungai. Di sana ia shalat sambil memegang kendali kudanya. Namun binatang itu hendak berbalik kembali, maka Abu Barzahpun mundur mengikutinya. Kebetulan ada seorang khawarij. katanya: Ya Allah, celakalah orang itu, bagaimana ia shalat. Setelah selesai shalat Abu Barzah menjawab: Ucapanmu tadi telah saya dengar, tapi ketauhiiah bahwa saya telah mengikuti Rasulullah dalam peperangannya hingga enam, tujuh atau delapan kali. Jadi saya mengetahui seluk beluk masalah dan keringanan-keringanan yang diajarkan beliau. Karena itu, mundur mengikuti binatang adalah lebih mudah bagiku dari pada membiarkannya kembali ketempatnya yang pasti akan menyukarkanku. Waktu itu Abu Barzah shalat Ashar dua raka'at”. (HR. Ahmad, al-Bukhari dan al-Baihaqi).

Akan tetapi berjalan banyak (tidak sekedarnya saja), dalam kitab al Fath karya alhafidz Ibnu Hajar dinyatakan: Semua ahli fiqih sepakat bahwa berjalan banyak dalam shalat fardu bisa membatalkan shalatnya. Maka hadits Abu Barzah itu dimaksudkan bagi yang berjalan sedikit. Bersambung... In syaa Alloh. [Sumber Kitab Fiqhus Sunnah Karya Sayyid Sabiq]
Lebih baru Lebih lama