Fikroh.com - Tidak butuh waktu lama bagi polisi mengungkap dan menangkap pelaku pembobol data penggiat media sosial, Denny Siregar. Ya, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri berhasil menangkap karyawan Telkomsel berinisial FPH, Kamis (9/7/2020).

Demikian hal itu disampaikan Kepala Sub Direktorat I Tindak Pidana Siber Bareskrim Komisaris Besar Reinhard Hutagaol. “Kami amankan pelaku ilegal akses inisial FPH, tanggal lahir 16 Februari 1993, jenis kelamin laki-laki,” katanya dalam konferensi pers di Gedung Awaloedin Djamin, Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2020.

Lebih jauh, Kombes Reinhard memaparkan tersangka merupakan karyawan outsourcing di GraPARI Telkomsel Rungkut Surabaya. Ia memiliki akses membuka data pribadi pelanggan.

“Tersangka adalah karyawan outsourcing daripada GraPARI Rungkut Surabaya jadi dari karena dia outsourcing dan bertugas sebagai customer service. Dia mempunyai akses terbatas atas data pribadi pelanggan,” ujar Reinhard.

“Didapatkan si tersangka dengan tidak melalui otorisasi membuka file atas nama DS dan didapat dua data: data pelanggan dan device milik pelanggan,” ucap Reinhard.

Setelah membuka data pribadi Denny Siregar, pelaku memfoto dan mengambil screenshot untuk diteruskan ke akun Opposite6890 via direct message (DM) pada 4 Juli 2020 pukul 08.00 WIB. “Jadi atas perlakuan ini, diposting di akun Twitter Opposite6890. Namun yang di sini (di Twitter) hasil ketikan kembali, bukan capture-an yang asli,” ujar Reinhard.

Menurut Reinhard, pelaku melakukan aksinya karena ada simpati dengan akun Twitter Opposite6890. “Kedua, yang bersangkutan nggak menyukai DS karena pernah di-bully oleh akun pendukung DS,” katanya.

Penyidik pun menyita barang bukti berupa handphone dan sebuah perangkat komputer. Tersangka diancam dengan Pasal berlapis antara lain, Pasal 46 atau 48 UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE, atau Pasal 50 UU nomor 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi dan atau Pasal 362 KUHPidana atau Pasal 95 UU nomor 24 tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan ancaman pidana paling lama 10 tahun penjara atau denda Rp 10 miliar. [asa]
Lebih baru Lebih lama