Fikroh.com - Sebelum beranjak pada pembahasan tentang ihrom perlu kita ketahui bersama bahwa ibadah haji memiliki beberapa rukun-rukun yang harus dipenuhi. Secara lengkap Rukun-rukun haji menurut mayoritas imam yang empat adalah sebagai berikut: Ihram, Wuquf di `Arafah, Thawaf Ifadhah dan Sa`i antara Shafa dan Marwa.

Untuk memulai penjelasan rukun haji, kita mulai dari rukun yang pertama: Yaitu Ihram

Definisi Ihram:


Ihram adalah berniat haji atau umrah dari miqat yang ditentukan secara syar’i. Ihram merupakan salah satu rukun dari rukun-rukun haji menurut mayoritas ulama dan menjadi syarat sah haji menurut madzhab Hanafiyyah. Allah -subhanahu wa ta`ala- berfirman:

(وَمَآ أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ)

Mereka tidak diperintahkan kecuali hanya untuk menyembah Allah dengan ikhlash ketaatan kepada-Nya dalam beragama dengan tepat.

Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Setiap perbuatan tergantung pada niat.

Apakah Boleh Memutlakan Niat Ihram?


Bagi siapa yang berihram secara mutlak tanpa menentukan di antara tiga jenis manasik ini karena dia tidak mengetahuinya, atau berihram karena mengikuti orang yang dia kenal, maka hal ini diperbolehkan dan ihramnya sah menurut mayoritas ulama (selain Malikiyyah) berdasarkan hadits Abu Musa:

(أن عليا قدم عَلَى النَّبِيِّ فَقَالَ: كيف قلت حين أحرمت؟ قال علي: قُلْتُ: لَبَّيْكَ بِإِهْلاَلٍ كَإِهْلاَلِ النَّبِيِّ

Sesungguhnya Ali mendatangi Nabi –shallallahu 'alaihi wa sallam-, maka Nabi berkata: “Apa yang engkau ucapkan saat berihram?” Ali berkata: “Aku ucapkan: Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu dengan tahalul sebagaimana tahalulnya Nabi –shallallahu 'alaihi wa sallam-.

Tidak Boleh Melewati Miqat Tanpa Berihram


Bagi siapa yang melewati miqat (dan dia bermaksud untuk haji atau umrah), maka ijma’ mengatakan bahwa dia tak boleh melewati miqat tanpa berihram.

Jika dia telah melewatinya kemudian berihram setelahnya maka dia telah berdosa karenanya. Dosanya tidak akan hilang kecuali dengan kembali ke miqat tersebut lalu berihram dari situ kemudian menyempurnakan seluruh manasik dan dia tidak harus membayar dam jika dia telah kembali ke miqat sebelum memulai manasik baik yang rukun seperti wuquf dan sa`i, atau yang sunnah seperti thawaf qudum. Ini adalah madzhab Asy-Syafi`iy, ats-Tsaury, Abu Yusuf, Muhammad dan Abu Tsaur.

Adapun Malik, Ibnul Mubarak dan Ahmad berpendapat: Dam tidak gugur darinya dengan kembali ke miqat. Abu Hanifah berpendapat: Jika dia kembali dalam kondisi bertalbiyah maka gugurlah dam atasnya dan jika tidak maka tidak gugur. Ibnul Mundzir mengisahkan hal ini dari al-Hasan dan an-Nakha’iy bahwa tidak ada dam bagi yang melewati miqat secara mutlak. Allah Maha Tahu.

Maka jika dia tidak kembali, manasiknya tetap sah dan dia harus membayar dam menurut mayoritas ulama.

Berihram Sebelum Miqat


Para ulama yang dianggap dari kalangan terdahulu maupun khalaf dari para Shahabat dan yang setelah mereka telah sepakat, bahwa diperbolehkan berihram dari miqat dan juga dari tempat di atasnya (yaitu sebelumnya). Dawud berkata: “Tidak diperbolehkan berihram sebelum miqat dan ihramnya tidak sah.” Pendapat ini tertolak dengan ijma’ dari orang-orang sebelumnya, namun dimakruhkan untuk berihram sebelum miqat menurut pendapat yang paling benar. Allah Maha Tahu.

Melewati dua Miqat


Jika penduduk Syam atau Mesir melewati miqat penduduk Madinah sebelum sampai ke Juhfah (miqat yang sebenarnya), maka dia tidak boleh mengakhirkan ihramnya dan dia harus berihram dari Dzul Hulaifah menurut pendapat mayoritas berdasarkan makna umum sabda Nabi –shallallahu 'alaihi wa sallam-:

وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهنَّ

Bagi siapa yang datang ke tempat-tempat tersebut yang bukan penduduknya.

Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa itu tidaklah wajib atasnya dan dia boleh mengakhirkan ihram sampai ke miqatnya karena itulah asalnya. Syikhul Islam memilih pendapat ini, sedangkan pendapat pertama lebih untuk berhati-hati. Allah Maha Tahu.

Pensyaratan Bagi Yang Ihram Untuk Bertahallul Jika Ada Halangan


Diperbolehkan bagi orang yang ihram untuk memberikan syarat (saat berihram) untuk bertahallul ketika dia terhalangi dari menyempurnakan manasik baik berupa sakit atau yang semisalnya dengan berkata: “Allahumma mahally haitsu habasatny” ( Ya Allah, aku hanya akan berhaji sampai di tempat aku terhalangi).

Ini berdasarkan hadits `A'isyah dia berkata:

(دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ضُبَاعَةَ بِنْتِ الزُّبَيْرِ، فَقَالَ لَهَا: « أَرَدْتِ الحَجَّ؟» قَالَتْ: وَاللَّهِ لاَ أَجِدُنِي إِلَّا وَجِعَةً، فَقَالَ لَهَا: " حُجِّي وَاشْتَرِطِي، وَقُولِي: اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي ")

Rasulullah mendatangi Dhuba’ah bintu az-Zubair dan berkata padanya: “Apakah kamu ingin berhaji?” Dhuba’ah berkata:”Aku sedang sakit.” Maka Nabi –shallallahu 'alaihi wa sallam- berkata padanya: “Berhajilah dan berikanlah syarat dan berkatalah: Ya Allah, aku hanya akan berhaji sampai di tempat aku terhalangi.”

Maka jika dia telah memberikan syarat, dia boleh bertahallul dari ihramnya jika terhalangi tanpa harus membayar dam.

Adapun jika dia belum memberikan syarat, maka jika ada yang menghalanginya, dia harus membayar dam berdasarkan firman Allah -subhanahu wa ta`ala-:

(فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ)

Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat.

Sekian, penjelasan seputar tata cara ihram berdasarkan dalil-dalil syari'. Semoga menambah wawasan anda dan bermanfaat.
Lebih baru Lebih lama