Oleh:  Kak Oksa

Fikroh.com - Kita mungkin sering mendengar pertanyaan semisal diatas, "baru jadi muallaf kok sudah dakwah" atau kalimat serupa yang memberi kesan meragukan keislaman seorang muallaf. Seakan seorang muallaf tidak layak berdakwah. Padahal jika kita cermati tidak sedikit muallaf yang masuk islam hasil dari mempelajari islam yang mendalam. Alhasil, pengetahuan tentang islam mengantarkannya pada hidayah.

Sebut saja dai muda yang selalu energik dalam dakwahnya, Ustadz Felix Siauw. Kerap kali ejekan dan celaan dialamatkan padanya. Baru jadi muallaf sok dakwah, begitu kira-kira. Perlu kita tahu beliau itu bukan Muallaf lagi. Sudah lama menjadi muslim. Jadi tidak relevan lagi kalau membully beliau dengan mengatakan, "muallaf kok dipanggil ustadz," Beliau bukan Muallaf bro. Muallaf itu baru masuk Islam. Beliau sudah lama. Sudah banyak belajar Islam. Sudah bisa membaca Al-Qur'an dengan baik. Sudah faham kaidah bahasa Arab dengan keren. Sudah menyelesaikan beberapa kitab para ulama.

Kalau mau membully Muallaf yang langsung berdakwah, coba bully sahabat Rasulullah Saw. Abu Dzar Al-Ghifari misalnya. Lelaki yang berasal dari Ghifar ini setelah bersyahadat langsung berdakwah hari itu juga. Padahal baru tahu kalau tiala illah selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah. Cuma itu saja yang beliau tahu.

Baru saja masuk Islam, Abu Dzar sudah mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah. "Wahai Rasulullah, apa yang sebaiknya saya kerjakan?"

"Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti!" jawab Rasulullah.

"Demi Tuhan yang menguasai jiwaku," kata Abu Dzar, "Saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam di depan Ka'bah."

Ia pun menuju menuju Haram dan menyerukan Islam dengan suara lantang. Akibatnya, ia dipukuli dan disiksa oleh orang-orang musyrik yang tengah berkumpul di sana. Rasulullah kembali menyuruhnya pulang dan menemui keluarganya. Ia pun pulang ke Bani Ghifar dan langsung mengajak sanak kerabatnya memeluk agama Islam.

Abu Dzar Al-Ghifari mengajarkan kepada kita bahwa menyampaikan Islam itu tidak harus nunggu sempurna dulu. Karena jika menunggu sempurna yang boleh berdakwah ya cuma Rasulullah Saw saja. Seperti kata Imam Syafi' ilmu itu yang diamalkan bukan yang dihafal. Salah satu bentuk pengamalan ilmu adalah dengan mengajarkannya.

Umat Islam adalah umat terbaik jika mereka memahami kewajiban berdakwah. Mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Siapapun wajib berdakwah. Dakwah bukan tugas ustadz dan kiyai saja. Dakwah bukan kewajiban yang bergelar LC MA saja. Tapi semua kita wajib berdakwah.

Dakwah tak harus hafal Al-Qur'an dulu. Dakwah tak harus pintar ilmu hadits dulu. Dakwah tak mesti bisa nahwu shorof dulu. Berdakwah lah sembari terus memahami Alquran, mempelajari hadits, ilmu bahasa Arab, dan apa yang menjadi penunjang lainnya.

Kita semua adalah da'i. Pelajar, mahasiswa, karyawan, guru, dosen, marbot masjid, tukang becak, tukang bangunan, ya semuanya. Sebab Allah telah bersumpah semua manusia itu rugi kecuali yang beriman, beramal Sholeh, dan yang berdakwah.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama