Fikroh.com - Saat hendak melakukan penyembelihan hewan kurban kita biasa membaca beberapa kalimat. Ternyata bacaan yang diucapkan saat menyembelih hewan qurban cukup tiga kalimat yaitu tasmiyah, takbir dan doa.

Para ulama bersepakat bahwa membaca Tasmiyyah adalah disyariatkan ketika akan menyembelih hewan yang boleh dimakan. Dalilnya adalah Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa :

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

"Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan." (QS. Al An’aam : 121).

Namun terkait hukum Taklifiy pembacaan Tasmiyyah ini sebelum penyembelihan, para ulama berbeda pendapat tentang status hewannya, jika ternyata tidak dibacakan Tasmiyyah. Asy-Syaikh Sayyid Saabiq dalam Fiqhus Sunnah (3/301-302-cet. Daarul Kutubil Aroby, Beirut). Menyebutkan pendapat Aimah madzhab terhadap masalah ini, kata beliau :

  1. Imam Maalik berkata : ‘setiap hewan yang disembelih tidak disebut nama Allah, maka statusnya adalah haram, sama saja apakah ia tidak menyebut nama Allah tersebut karena sengaja atau lupa’. Ini juga pendapatnya Ibnu Siriin dan sekelompok ahli Kalam.
  2. Imam Abu Hanifah berkata : ‘jika tidak menyebut nama Allah, karena sengaja, maka statusnya haram, namun jika lupa statusnya halal’.
  3. Imam Syafi’i berkata : ‘statusnya halal, sekalipun ia tidak membaca tasmiyyah, sama saja apakah karena sengaja atau lupa, jika orang yang menyembelih termasuk orang yang sah untuk menyembelih hewan (seperti berakal, Muslim atau ahli kitaab-pent.). dalilnya adalah hadits Aisyah rodhiyallahu anha bahwa ada suatu kaum yang berkata kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam :
إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَا بِاللَّحْمِ، لاَ نَدْرِي: أَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ؟ فَقَالَ: «سَمُّوا عَلَيْهِ أَنْتُمْ وَكُلُوهُ»

"Sesungguhnya ada suatu kaum yang memberi kami daging, namun kami tidak tahu apakah ia mengucapkan Bismillah atau tidak?, jawab Nabi sholallahu alaihi wa salam : “bacalah basmallah, lalu makanlah.” (HR. Bukhori).

Pendapat ulama Syafi’iyyah ini dirajihkan oleh Imam al-Muhalab sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Bathol dalam Syarah Shahih Bukhori, dimana al-Muhalab mengatakan bahwa membaca Tasmiyyah ketika akan menyembelih adalah sunnah bukan wajib, bahkan beliau mengklaim telah terjadi kesepakatakan umat tentang hukum sunnahnya membaca Tasmiyyah ketika menyembelih.

Bagaimana lafadz Tasmiyyah?

Sa’id al-Qohthooniy dalam kitabnya Hisnul Muslim menulis bab doa :

ما يقول عند الذبح أو النحر « بسم الله والله أكبر [ اللهم منك ولك ] اللهم تقبل مني »

"Doa ketika menyembelih atau berkurban : “dengan Nama Allah, Allahu Akbar [Ya Allah ini adalah (sembelihan/kurban) dari-Mu dan untuk-Mu] Ya Allah terimalah dariku."

Lalu DR. al-Qohthooniy dalam kitabnya diatas memberikan takhrij untuk hadist diatas, kata beliau :

مسلم 3 / 1557, والبيهقي 9 / 287 وما بين المعكوفين للبيهقي 9 / 287 وغيره والجملة الأخيرة سقتها بالمعنى من رواية مسلم .

"Diriwayatkan oleh Muslim (3/1557) dan Baihaqi (9/287), yang ada diantara 2 kurung adalah riwayat Baihaqi (9/287) dan selainnnya. Adapun kalimat lainnya aku menyebutkannya dengan makna dari riwayat Imam Muslim".

Maka lafadz Tasimyyah yang dimaksud adalah seperti doa diatas, baik menyembelihnya untuk sembelihan hewan untuk konsumsi atau hewan kurban yang terkait dengan ibadah, seperti Idhul Adha, Aqiiqah, bayar Dam dan sejenisnya.

Sebagian ulama memandang bahwa lafadz Tasmiyyah adalah umum yang penting didalamnya disebut nama Allah. Imam Qurthubi dalam al-Muntaqoo Syarah Muwatho’ (3/105-Matba’ahtus Sa’aadah) berkata :

قَالَ ابْنُ الْمَوَّازِ: يَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ ابْنُ حَبِيبٍ: وَلَوْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ فَقَطْ أَوْ اللَّهُ أَكْبَرُ فَقَطْ أَوْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ أَوْ سُبْحَانَ اللَّهِ أَوْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ مِنْ غَيْرِ تَسْمِيَةٍ أَجْزَأَهُ وَكَذَلِكَ كُلُّ تَسْمِيَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى وَلَكِنْ مَا مَضَى عَلَيْهِ النَّاسُ أَفْضَلُ وَوَجْهُ ذَلِكَ أَنَّ هَذَا ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى

"Ibnul Mawwaaz berkata : ‘si penyembelih mengucapkan Bismillahi Allahu Akbar’. Ibnu Hajiib berkata : ‘seandainya ia mengucapkan Bismillah saja atau Allahu Akbar saja atau Laa ilaaha illallah atau Subhaanallah atau Laa Haula wa Laa Quwwata illa billah atau tasmiyyah lainnya, maka itu mencukupi. Namun yang terbiasa ada dikalangan manusia itu lebih utama, sisi keutamaanya karena itu adalah penyebutan Allah Subhanahu wa Ta’alaa".

Imam Ibnu Bathool dalam Syarah Bukhori menukil ucapan Imam Syafi’I, kata beliau :

وقال الشافعى: التسمية على الذبيحة بسم الله، فإن زاد بعد ذلك شيئًا من ذكر الله أو صلى على محمد لم أكرهه، وإن قال: اللهم تقبل منى، فلا بأس

"Syafi’I berkata : ‘Tasmiyyah ketika menyembelih adalah Bismillah, jika ia menambahkan sesuatu berupa penyebutan Allah atau sholawat kepada Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam, maka aku tidak memakruhkannya. Jika si penyembelih berkata : ‘Ya Allah terimalah (sembelihan) dariku, juga tidak mengapa".

Penulis: Abu Sa'id Neno Triyono
Lebih baru Lebih lama