Fikroh.com - Kasus status klepon bukan makanan islmai, begitu viral. Sebagian menilai ini adalah kerjaan dari pihak yang ingin menyudutkan Islam. Terlepas dari siapa sesunggunya yang membuat status tersebut, yang jelas status seperti itu tidak mencuat begitu saja.

Selama ini memang ada yang membangun pola fikir seperti itu dengan menggunakan jargon 'sunah'. Ustad sunah, masjid sunah, pakaian sunah, pengobatan dan lain sebagainya yang diberi label sunah. Sehingga wajar kalau ada yang mengatakan makanan sunah, makanan Islami. Mungkin saja status klepon makanan tidak Islami sebagai sindiran bagi mereka yang berpola fikir seperti itu. Sebuah sindiran yang merugikan umat Islam secara keseluruhan walaupun tidak semua berpola fikir seperti itu.

Ini adalah permasalahan pola fikir. Bagaimana memahami apa yang dilakukan Rasulullah saw. Bagaimana memahami hadis Rasulullah saw. Bagaimana memahami kata Sunah?

Apakah sunah difahami dengan kaku? Melakukan apa yang dilakukan Rasulullah saw dan melakukan apa yang diperintahkan tanpa melihat makna yang lebih dalam?

Sehingga klepon pun tidak sunah, tidak islami

Apakah kita bertanya apa makna kata dalam quran dan hadis atau apa maksud kata'? Ini permasalahan pola fikir.

Dalam fiqih memakai pola fikir, apa maksud kata , baik dalam ayat ataupun dalam hadis. Pemahaman yang dihasilkan tidak kaku. Selalu menyesuaikan dengan situasi, kondisi dan tradis yang ada.

لا ينكر تغي الأحكام بتغير الأزمان والمكان.

"tidak dipungkiri perubahan hukum karena perubahan zaman dan tempat.

Kaidah ini mengadopsi perubahan yang disebabkan oleh perubahan zaman dan perbedaan tempat. Mengadopsi kearifan local.

Jargon yang dipakai apa hukumnya? Apakah disyariatkan? Bukan jargon apakah sunah? Selama sesuai syariat dan secara hukum halal maka semuanya islami. Klepon pun Islam karena halal.

Kasus yang lebih menarik kasus Erdogan. Erdogan, seorang presiden yang berani menunjukkan identitas ajaran Islam di hadapan pemimpin dunia yang tidak beragama Islam. Bahkana dihadapan paus fransiskus. Erdogan memakai jas, dasi, celana panjang dan tidak berjenggot.

Bagaimana menilai Erdogan? Apakah dengan jargon 'sunah"? sehingga pakaiannya tidak sunah , penampilannya tidak sunah. Apakah Erdogan tidak sunah? Sedangkan ia pemimpi muslim yang berwibawa dihadapan pemimpin dunia yang non muslim yang berani menganggkat nilai-nilai Islam.

Ataukah pemimpin negara arab yang pakai pakaian 'sunah' tapi tidak berwibawa dihadapan pemimpin kafir. Bahkan terkesan mengamini kebijakan mereka.

Akal sehat, yang dibangun diatas nilai-nilai al Quran dan hadis yang bisa menilai dengan jujur. Wallahu a'lam.

Penulis: DR Taufik Hulaimi
Lebih baru Lebih lama