Fikroh.com - Mengenai kapan waktu berkurban yang tepat, Para ulama sepakat bahwa tidak boleh menyembelih hewan kurban sebelum terbitnya fajar pada hari kurban. Namun, Mereka berbeda pendapat dalam waktu setelah itu dalam beberapa pendapat[1].

Pertama: Imam Syafi`iy, Daud, Ibnul Mundzir dan yang selain mereka berkata: Masuk waktunya jika telah terbit matahari dan telah berlalu seukuran shalat ‘id dan selama kedua khutbah. Jika menyembelih setelah waktu itu maka diterima kurbannya baik itu imam selesai shalat atau belum, baik itu orang yang berkurban telah shalat atau belum, baik itu dari penduduk kota atau desa.

Kedua: `Athaa' dan Abu Hanifah berkata: masuk waktunya bagi hak penduduk desa dan pedalaman jika telah terbit fajar kedua. Tidak masuk di dalam hak penduduk kota hingga imam selesai shalat dan berkhutbah, jika berkurban sebelum itu maka tidak dibolehkan.

Ketiga: Malik berkata: tidak boleh menyembelihnya kecuali setelah selesai shalat imam, khutbahnya dan penyembelihannya.

Keempat: Ahmad berkata: tidak boleh sebelum shalat, dan boleh setelahnya, sebelum imam menyembelih.

Penulis berkata: Dari Anas bin Malik -radhiyallahu `anhu- berkata: nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ، وَأَصَابَ سُنَّةَ المُسْلِمِينَ

“Bagi siapa yang menyembelih sebelum shalat, maka dia menyembelih untuk dirinya sendiri, bagi siapa yang menyembelih setelah shalat maka telah sempurna ibadahnya, dan mendapat sunnah kaum muslimin"[2].

Dari Barra’ bin Al-`Azib -radhiyallahu `anhu- berkata, Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata dalam khutbahnya:

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ، ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ، فَمَنْ فَعَلَ هَذَا فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا، وَمَنْ نَحَرَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ يُقَدِّمُهُ لِأَهْلِهِ، لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ» فَقَالَ أَبُو بُرْدَةَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَبَحْتُ قَبْلَ أَنْ أُصَلِّيَ، وَعِنْدِي جَذَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُسِنَّةٍ؟ فَقَالَ: «اجْعَلْهَا مَكَانَهَا، وَلَنْ تَجْزِيَ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ

“Sesungguhnya hal pertama yang kami mulai dengannya pada hari ini adalah shalat, kemudian kami pulang dan menyembelih. Bagi siapa yang melaksanakan itu maka telah mendapatkan sunnah kami. Bagi siapa yang telah menyembelih (sebelum itu) maka sesungguhnya itu adalah daging yang diberikan kepada keluarganya, tidak ada sesuatupun ibadah darinya. Lalu Abu Burdah berkata: wahai Rasulullah, aku telah menyembelih sebelum shalat, aku memiliki anak hewan yang lebih baik dari yang telah berumur, lalu beliau menjawab: jadikanlah itu sebagai penggantinya, dan itu tidak diterima bagi siapapun setelahnya”.[3].

Kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa waktu penyembelihan masuk setelah melaksanakan shalat -bagi yang mendirikan shalat ‘id- dan tidak disyaratkan mengakhirkannya hingga imam menyembelih. Jika imam tidak menyembelih maka hal itu tidak menjadikan gugurnya pensyariatan kurban atas manusia, walaupun jika imam menyembelihnya sebelum shalat maka tidak diterima sembelihannya. Hal ini menunjukkan bahwa dia dan manusia yang lain dalam waktu berkurban adalah sama[4].

Adapun hadits Jabir -radhiyallahu `anhu- berkata:

صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ بِالْمَدِينَةِ، فَتَقَدَّمَ رِجَالٌ فَنَحَرُوا، وَظَنُّوا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ نَحَرَ، «فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ نَحَرَ قَبْلَهُ أَنْ يُعِيدَ بِنَحْرٍ آخَرَ، وَلَا يَنْحَرُوا حَتَّى يَنْحَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- shalat bersama kami pada hari kurban, lalu nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan pada siapapun yang telah menyembelih sebelumnya maka harus mengulangi dengan sembelihan lain, dan mereka tidak menyembelih hingga nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- menyembelih[5].

Mayoritas ulama menafsirkan maksudnya adalah: mencegah mereka dari mendahulukan melaksanakannya sebelum waktunya. Dengan ini telah disebutkan dalam hadits-hadits lain yang berkaitan dengan shalat. Bagi siapa yang telah berkurban setelahnya maka diterima dan bagi yang tidak maka tidak diterima.

Kapan Batas Akhir Waktu Berkurban


Para Ulama berbeda pendapat dalam akhir waktu berkurban seperti perbedaan yang telah disebutkan dalam kitab haji pada hari-hari kurban. Yang jelas adalah bahwa berkurban terbentang waktunya hingga akhir hari-hari tasyriq (hari ketiga belas Dzulhijjah). Walaupun yang lebih berhati-hati adalah melakukannya pada hari kurban, karena ijma’ ulama atas diterimanya pada waktu tersebut. Allah Maha Tahu.

Tempat Menyembelih Hewan Kurban


Disyariatkan -setelah shalat- untuk menyembelih ditempat manapun yang diinginkan, di tempat tinggalnya atau selainnya. Seperti disyariatkan untuk menyembelihnya di tempat shalat, seperti yang terdapat dalam hadits Jundub bin Sufyan berkata:

شَهِدْتُ الْأَضْحَى مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ يَعْدُ أَنْ صَلَّى وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ سَلَّمَ، فَإِذَا هُوَ يَرَى لَحْمَ أَضَاحِيَّ قَدْ ذُبِحَتْ قَبْلَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاتِهِ، فَقَالَ: «مَنْ كَانَ ذَبَحَ أُضْحِيَّتَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى، وَمَنْ كَانَ لَمْ يَذْبَحْ، فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللهِ

“Aku menyaksikan hari idul adha bersama dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak dihitung shalat atau menyelesaikannya kecuali dengan salam. Tiba–tiba beliau melihat daging-daging kurban telah disembelih sebelum menyelesaikan shalatnya, lalu beliau bersabda: Bagi siapa yang telah menyembelih kurbannya sebelum shalat maka gantilah dengan sembelihan lain, bagi siapa yang belum menyembelih maka sembelihlah dengan menyebut nama Allah."[6].

Makna zhahirnya adalah bahwa mereka menyembelihnya di tempat-tempat shalat. Dianjurkan bagi imam untuk menyembelih di tempat shalat untuk memberitahukan bahwa kurban telah dimulai, juga untuk mengajarkan dengannya sifat penyembelihan hewan kurban. Dari Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- menyembelih di tempat shalat”.[7]

Footnote:
[1]Al ijma’ libnil mundzir (64), at tamhid (23/162), syarhu muslim (13/110), al Muhallaa (7/374).
[2] Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (5546), dan Muslim (1962).
[3] Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (5560) dan telah disebutkan.
[4]Al fath (10/24) dengan seperti itu, dan lihat al Umm (2/332).
[5] Shahih, Hadits riwayat: Muslim (1964), Ahmad (3/294), dan al Muhallaa (7/274).
[6]Shahih, Hadits riwayat: Muslim (1960), dan Nasaai (7/214).
[7] Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (5552), dan Abu Daud (2811), dan Nasaai (7/213), dan Ibnu Majah (3161).
Lebih baru Lebih lama