Fikroh.com - Dunia gempar dengan keputusan Erdogan yang berani menghapus status ayasofiya sebagai museum menjadi masjid. Beberapa negara bahkan terang-terangan menolak keputusan tersebut. Berbagai opini pun terus dibangun demi menyudutkan Erdogan atas tindakannya.

Namun bagi umat islam keputusan ini merupakan kabar gembira yang patut disyukuri. Hanya saja dalam tubuh ummat islam itu sendiri masih menghadapi satu polemik pro kontra terkait keberadaan kuburan yang ada di dalam masjid dan ornamen bangunan peninggalan gereja. Dan mirisnya lagi nada kritikan tersebut dibumbui kebencian yang berlebihan. Sehingga menimbulkan perdebatan yang tidak elok antar kaum muslimin.

Untuk menjawab persoalan itu Ustadz Abdurrahman Al-Amiri menulis sebuah artikel untuk menjawab syubhat-syubhat terkait Masjid Hagia Sophia. Berikut tulisan selengkapnya.

Alhamdulillah, ummat islam bergembira ketika Hagia Sophia menjadi masjid seperti sedia kala. Semoga adzan selalu bergema di sana. Terima kasih Erdogan -hafidzahullah wa saddada khuthaah-

Ada beberapa hal pertanyaan:

1. Kenapa kita harus bergembira? Bukankah di sana ada 4 kuburan?

Jawab: Iya, di sana ada 4 kuburan. Tapi kuburan-kuburan tersebut di luar tembok masjid dan bukan di dalamnya. Jika keadaan seperti itu, maka shalat di dalamnya adalah sah.

Syaikh ibnu Baaz rahimahullah berkata:

نعم، تصح الصلاة فيه، ولو كان حوله قبور، إذا كان المسجد قائمًا، ووُضعت حوله القبور عن يمينه أو شماله أو أمامه أو خلفه، هذا لا يضر، وقد كان الناس يدفنون حول مساجدهم

“Ya, shalat di dalam masjid tersebut sah walau di sekitarnya ada kuburan. Jika masjid berdiri tegak, dan diletakkan kuburan di sekitar masjid, baik itu di sebelah kanan atau kiri atau di depan atau di belakangnya masjid, maka ini tidak membahayakan shalat sama sekali. Dan orang-orang zaman dahulu menguburkan manusia di sekitaran masjid mereka.” (Lihat fatwa beliau di sini)

Jadi, shalat di sana sah. Namun harus digaris bawahi: “Bahwa lebih baik lagi jika kuburannya dijauhkan dari area masjid.” Dan ini juga fatwa syaikh bin Baz rahimahullah.

2. Bukankah di sana ada gambar-gambar bekas gereja?

Jawab: Iya, namun tentu setelah masjid difungsikan akan dihilangkan gambar-gambar bekas gereja tersebut. Insha Allah. Hal yang mudah, jangan dipersulit.

3. Bukankah masjid tersebut akan diurus oleh orang-orang ahli bid’ah?

Jawab: Lebih baik mana, sebuah masjid diurus oleh ahli bid’ah atau museum kanisah diurus oleh orang kafir dan sekuler?

Jawab saja, maka akan terlihat jika kita memiliki hati yang lurus bahwa kita ingin sebuah perbaikan.

Seorang penuntut ilmu bukan hanya menimbang mana maslahat dan mana madharrat, namun mereka harus bisa menimbang mana yang lebih mashlahat di antara dua kebaikan dan mana yang lebih madharrat di antara dua keburukan.

4. Dan ingat, jangan bawa pandangan ini ke arah politik dan tujuan yang tidak-tidak.

“Ustadz, antum pendukung Erdogan ya?” Dll.

Ingat, kalau antum bermanhaj salaf dan berakidah Ahlussunnah, maka hormatilah ulil amri baik Saudi ataupun Turki. Semua negara tentu banyak kekurangan. Namun orang yang berhati selamat, akan senang dengan perbaikan dari setiap kekurangan dan bukan mencari-cari celah untuk mencela. Kenapa saya sebutkan Saudi dan Turki? Karena pendukung keduanya lah yang sering berseteru.

Banyak saudara-saudara yang mendukung Saudi, namun mencela Presiden Turkey.

Pun sebaliknya, banyak mereka yang mendukung Turki, namun mencela Raja Saudi.

Kalau keadaannya seperti ini, maka tidak ada perbedaan dari mereka kecuali pada siapa yang mereka dukung dan siapa yang mereka cela, namun manhajnya sama-sama mencela ulil amri.

Semoga Allah selalu memperbaiki keadaan ummat islam dan negri-negri mereka.

Penulis: Abdurrahman Al-Amiry
Lebih baru Lebih lama