Fikroh.com - Juli 2016. Kudeta itu kembali terjadi. Kali ini lebih besar, terbesar di antara berkali-kali kudeta gagal sebelumnya. Kali ini pelaku utamanya dari militer, meskipun pendukungnya tetap negeri yang sama dengan negeri sebelumnya yang aktif menumbang Mursi. Keadaan chaos. Hampir-hampir kudeta itu berhasil. Rakyat menangis. Banyak yang menyiapkan diri untuk berkorban. Masjid-masjid berkumandang menjadi komando pertahanan sekaligus perlawanan rakyat terhadap kudeta.⁣


Di antara sosok yang turun tangan secara langsung menghentikan kudeta, di barisan terdepan ia berada, dua tembakan mengenai kepalanya sehingga tak terbayangkan jika ia masih hidup, adalah Tugrut Aslan. Tetapi nyawa di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan di tangan tantara. Tugrut Aslan tetap hidup. Ia melakukan langkah penyelamatan yang sangat berani. Ia menggagalkan kudeta. Sebuah tanda keberanian dan pengorbanan, membekas di kepalanya. Penyok dan bekas jahitan yang tak lagi dapat dirapikan.⁣

Baca Juga: Kisah Omar Khalis Demir Sersan yang Diberondong 30 Tembakan karena Menolak Perintah Kudeta

Kelak empat tahun kemudian, di bulan Juli juga, ia menyaksikan pemimpin yang ia berjuang gigih menyelamatkannya dari kudeta, mengambil keputusan berani. Pemimpin itu mengembalikan Aya Sofia menjadi masjid. Dan kelak kalau ada manusia bersujud di atas masjid itu, semoga mengalir pahala baginya.⁣

Baca juga: Menteri Luar Negeri Tegaskan Hagia Sophia Adalah Milik Ummat Islam

Lelaki yang tak mudah dibeli itu Namanya Tugrut Aslan. Ia menyelamatkan Turki dari kudeta dan mempertahankan imam masjid yang suka bermain bola, Recep Tayeb Erdogan, tetap sebagai presiden Turki. Semoga dua lelaki yang tak mudah dibeli itu Allah Ta’ala terima setiap sujud dan rukuknya, setiap tetes keringatnya untuk memuliakan agama ini.⁣
Lebih baru Lebih lama