Fikroh.com - Al-Imam Bukhari rahimahullah dalam kitab shahihnya membawakan atsar mu'alaq dari 3 orang shahabat Nabi, terkait status hewan yang ketika disembelih sampai putus kepalanya, kata beliau rahimahullah :

وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَأَنَسٌ : إِذَا قَطَعَ الرَّأْسَ، فَلَا بَأْسَ.

"Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Anas radhiyallahu anhum berkata : "jika kepalanya putus, maka tidak mengapa (sembelihannya)."

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah telah melaksanakan khidmatnya dengan baik terhadap Shahih Bukhari dalam kitabnya "Fathul Bari" dengan menemukan sanad-sanad yang bersambung untuk atsar 3 orang sahabat Nabi diatas, yaitu :

✓ Atsar Ibnu Abbas radhiyallahu anhumâ, disambungkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih :

أنَّ ابنَ عبَّاسٍ سُئلَ عمَّن ذبحَ دجاجةً فطَيَّرَ رأسَها فقالَ ذَكاةٌ وَحِيَّةٌ

"Ibnu Abbas radhiyallahu anhumâ ditanya tentang orang yang menyembelih Ayam, sampai terlempar kepalanya?,

Beliau menjawab : "motongnya terlalu cepat."

✓ Atsar Ibnu Umar radhiyallahu anhumâ, disambungkan oleh Abu Musa az-Zaman dari riwayatnya Abu Mijlaz :

سألت ابن عمر عن ذبيحة قطع رأسها، فأمر ابن عمر بأكلها

"aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang sembelihan yang sampai putus kepalanya, maka Ibnu Umar memerintahkan untuk memakannya."

✓ Atsar Anas bin Malik radhiyallahu anhu, disambungkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan Ubaidillah bin Abi Bakr bin Anas :

أن جزارا لأنس ذبح دجاجة فاضطربت فذبحها من قفاها فأطار رأسها، فأرادوا طرحها، فأمرهم أنس بأكلها

"Tukang jagalnya Anas menyembelih Ayam, tapi Ayamnya berontak, maka ia menyembelih dari tengkuknya hingga kepalanya terlempar, lalu si tukang sembelihnya ini hendak membuangnya, maka Anas memerintahkan mereka untuk memakannya." -selesai-.

Al-'Allâmah bin Baz rahimahullah pernah berfatwa :

لا بأس، هذا الذبح، إذا قطع رأسها بالسكين فلا بأس، مثل لو قطع رأس الشاة أو البعير أو البقرة لا بأس، المقصود في المذبح، إذا قطع رأسها بشيء محدد سكين لا بأس

"Tidak mengapa, ini adalah penyembelihan, jika terputus kepalanya dengan pisau, maka TIDAK MENGAPA, seperti seandainya putus kepala Kambing atau Unta atau Sapi, maka tidak mengapa. Maksudnya adalah sembelihannya, jika terpotong kepalanya karena tajamnya pisau, maka tidak mengapa." -selesai-.

Beda kasus dengan setelah selesai disembelih, dengan terputus nadi, urat kerongkongan dan jalur makanannya, lalu sebelum mati sempurna diputus kepalanya, maka ini tidak boleh. Al-Lajnah ad-Dâimah yang diketuai oleh Imam bin Baz rahimahullah mengeluarkan fatwa :

لا يجوز فصل رأس الذبيحة عن جسمها بعد الذبح مباشرة؛ لما في ذلك من إيذائها، بل ينتظر حتى يتحقق موتها رفقا بها

"Tidak boleh memisahkan kepala hewan yang disembelih dari tubuhnya setelah disembelih secara langsung, karena ini termasuk bentuk menyakitinya, namun hendaknya ditunggu sampai benar-benar sudah mati, sebagai bentuk berbuat baik kepadanya."

Adapun terkait hukumnya memutus kepala setelah disembelih, maka para ulama sepakat untuk memakruhkannya. Al-Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya "al-Mughni", sebagaimana dinukil oleh team Islamweb mengatakan :

(ولا يقطع عضو مما ذكي حتى تزهق نفسه) كره ذلك أهل العلم منهم عطاء وعمرو بن دينار ومالك والشافعي ولا نعلم لهم مخالفا

"Janganlah memutus bagian tubuh setelah disembelih sampai nyawanya hilang, hal ini dimakruhkan oleh para ulama, seperti Athaa`, Amr bin Dînâr, Malik dan Syafi'i, aku tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini." -selesai-.

Abu Sa'id Neno Triyono
Lebih baru Lebih lama